Minggu, 21 Oktober 2018

Opera Ken Dedes Akan Pentas di Taman Mini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pagelaran wayang orang dalam lakon

    Pagelaran wayang orang dalam lakon "Sang Julandoro" yang dipersembahkan oleh Satya Budaya Indonesia (SBI) di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu (23/9). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menyusul kesuksesan pergelaran Opera Ken Dedes, Wanita di Balik Tahta, di Gedung Kesenian Jakarta pada 2 Februari 2013 lalu, pertunjukan kedua akan digelar di Teater Kautaman Gedung Pewayangan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada 17 Februari 2013.

    Menurut Dewi Sulastri, sutradara dan pemain pergelaran ini, kapasitas penonton sebanyak 475 kursi penuh terisi pada pergelaran pertama di Gedung Kesenian Jakarta. “Tiket terjual habis, penonton membeludak,” kata seniman peraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2008 sebagai sutradara dan penari wayang orang perempuan ini.

    Pergelaran yang melibatkan 150 seniman tradisi Surakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta ini disaksikan oleh para duta besar dan atase kebudayaan negara sahabat, di antaranya Duta Besar Equador, Bosnia Herzegovina, Afganistan, Libya, Yaman, serta wakil Duta Besar Amerika dan mantan Senator Amerika.

    Selain itu, ada pengusaha Moeryati Soedibjo, Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sulistyo S. Tirtokusumo, dan Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan Kementerian Pariwisata Juju Marsunah.

    Satu pertunjukan ternyata tidak mampu menampung keinginan masyarakat untuk menonton konsep tari dan musikal berlatar Kerajaan Singosari ini. Karena itu, Dewi dan tim berinisiatif mementaskan kembali di Gedung Pewayangan, Taman Mini Indonesia Indah.

    Dewi merupakan seniman serbabisa, mulai dari menari, menyanyi, berakting, dan memimpin ratusan seniman di bawah naungan Swargalola Art and Culture Foundation. Pergelaran Ken Dedes ini, menurut Dewi, adalah bagian dari upaya memperkuat karakter masyarakat melalui kesenian.

    “Kesenian tradisi ekspresi dari para pelakunya dari waktu ke waktu mengalami perubahan,” kata penyandang gelar sutradara terbaik Festival WOPA (Wayang Orang Panggung) se-Indonesia I pada 1987 ini.

    Dalam perspektif sosial, proses kreatif lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan teman teman ini merupakan pembelajaran internal bagi para seniman yang ikut berproses ataupun masyarakat penonton pertunjukan.

    Wanita kelahiran Jepara, 15 Maret 1966, ini sudah mencipta belasan tari dan menggelar puluhan pergelaran seni. Beberapa karyanya, tari Srimpi Retno Utama, tari Merak Mangigel, tari Bondan Suko Asih pada 1989, tari Bedaya Dewi Sri pada 2003, tari Bedoyo Aji Soko pada 2008, tari Bedoyo Tri Sabdo Tunggal Indonesia, Bedoyo Merah Putih, dan opera Sejarah Senopati Pamungkas pada 2009.

    EVIETA FADJAR

    Berita Seni Terpopuler:
    Afgan Satu Panggung dengan Suju dan 2PM

    Rekor 100 Lukisan dengan Media Lumpur Lapindo

    Afgan Luncurkan L1ve To Love, Love To L1ve.

    Hari Valentine, Ini 10 Film Paling Romantis

    Tom Hanks Jajal Panggung Broadway


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.