Sineas Yogya launching film animasi Hiro-Hiro

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.COYogyakarta- Sineas Yogyakarta meluncurkan film animasi berjudul Hiro-Hiro. Tak tanggung-tanggung, untuk launching perdana film berdurasi 25 menit itu, langsung digelar lima kali pemutaran yang menyedot ratusan penonton.

    Panitia kegiatan yang juga pegiat film Studiokasatmata Firly Annisa kepada Tempo menuturkan film ini bercerita tentang heroisme yang mengambil sosok tokoh pewayangan nusantara namun dalam figur baru. "Film ini membutuhkan dua tahun untuk penelitian dan produksinya," katanya di sela pemutaran.

    Hiro-Hiro menggunakan karakter animasi yang mirip figur bertubuh mini asal Amerika, Smurf. Namun dalam karya ini Studiokasatmata membuat karakternya dengan bentuk yang mengadopsi berbagai tokoh pewayangan nusantara. Termasuk pola gerakan para tokoh yang mencomot gerakan tradisi nusantara seperti silat Minangkabau.

    "Dalam pembuatan film ini kami mendapat arahan langsung dari sejumlah animator Jepang dan ahli di Indonesia untuk memperkaya dan menghaluskan gerakan para tokoh," ujarnya. Biaya memproduksi film ini mencapai Rp 100 juta.

    Direktur Studiokasatmata Rimbar Diorisma menerangkan, melalui film ini, tercipta satu ruang baru yang memasukkan berbagai desain karakter lokal asli Indonesia. Ini akan mempermudah penonton menyelami kembali berbagai sejarah dongeng di nusantara dengan lebih menarik. 

    Misalnya dari episode perdana Hiro-Hiro yang berjudul Putra- Putri Matahari, penonton diajak bertemu tokoh Aditya dan Erliana sebelum masuk ke dunia dongeng. Keduanya kemudian bertemu dengan tokoh dongeng nusantara nusantara seperti Buto Ijo dan Gatot Kaca. 

    Rimbar mengatakan, nama Hiro mengacu pada pelafalan Hero untuk bahasa Inggris yang berarti pahlawan. "Karakter ini bisa digunakan berulang-ulang," katanya. 

    Rencananya, film yang disutradarai Gangsar Waskito ini akan dibuat dalam 13 episode. Berbagai cerita legenda dan dongeng nusantara akan dikemas ulang dalam tampilan  lebih segar dan bisa dinikmati segala umur, seperti cerita Timun Mas, Cut Nyak Dien, dan Pangeran Diponegoro. 

    Untuk memberi warna baru, Studikasatmata  tak hanya mengemas dalam bentuk animasi. Namun presentasi baru para tokoh pun juga ikut diolah ulang agar lebih menghibur. Misalnya Buto Cakil tidak melalu tokoh yang seram tapi sosok pemalu meski tetap berperan antagonis. 

    Firly mengatakan film animasi ini rencananya akan diproduksi massal dalam bentuk compact disk dan dipasarkan ke seluruh nusantara mulai Januari 2013.

    PRIBADI WICAKSONO

    PRIBADIW


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.