Selasa, 16 Oktober 2018

Mira W Puas Dengan Arini Besutan Ismail Basbeth

Reporter:
Editor:

Dian Yuliastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film Arini. twitter.com

    Poster film Arini. twitter.com

    TEMPO.CO, Jakarta -Penulis novel Arini Masih Ada Kereta Yang Akan Lewat, Mira W memuji film  Arini  besutan Ismail Basbeth . Padahal sebelum menonton film tersebut, Mira mengaku sempat deg-degan. Ia sempat khawatir adaptasi filmnya kurang pas, apalagi film terdahulu yang diangkat dari novelnya ini mendulang sukses besar.

    “Saya lega, puas. Saya sadari film ini dibuat berbeda dengan yang 1988. Saya pikir ini bagus untuk generasi sekarang dengan kekiniannya,” ujar Mira kepada Tempo, usai pemutaran perdana film Arini di kawasan Epicentrum,31 Maret 2018.

    Mira menyadari untuk menarik penonton generasi sekarang tak mungkin akan mengulang film lama.Malah jika dibuat seperti dulu, kata dia, belum tentu akan menarik penonton. Film dibuat sedikit berbeda mengingat generasi penonton juga telah berubah.

    Mira pun memuji penulis naskah Titin Watimena dan Ismail Basbeth yang mengadaptasi novelnya ke dalam naskah film yang diperankan Aura Kasih dan Morgan Oey ini. Menurut Mira, Titin mampu menerjemahkan apa yang ada di novel dengan baik. “Saya kira bagus, Titin mengangkat novel dengan bagus. Banyak kata-kata dari novel muncul di skenario,” ujarnya.

    Sebagai orang yang tumbuh di keluarga perfilman, Mira mengatakan cukup tahu betul tidak mudah mengadaptasi naskah film dari novel. “Tapi ini bisa diangkat dengan baik.” Untuk naskah ini, dia mengatakan tak sempat ngobrol dengan Titin maupun Ismail. Namun ternyata keduanya mampu menerjemahkan isi novel dengan baik.

    Ismail sendiri mengatakan cukup beruntung mendapatkan naskah yang digarap Titin sebelum ia masuk. Ody Mulya sang produser sebelumnya sudah mengambil novel Mira untuk difilmkan pada 2015. Titin Watimena didapuk untuk menggarap naskah. “Naskah dari Mba Titin sudah cukup lengkap dan bagus, ketika saya masuk saya tinggal mengusulkan tambahan-tambahan,” ujar Ismail.

    Ismail mengatakan membuat film ini dia memfokuskan pada novel aslinya. Ia mengaku sudah pernah menonton film terdahulu yang dibintangi Widyawati dan Rano Karno. Tetapi ia memfokuskan untuk membuat kembali film ini dengan kreativitasnya sendiri. Para pemain pun dia larang untuk menonton film terdahulu untuk menghindari upaya meniru acting atau karakter yang diperankan. “Novel wajib dan fokus pada naskah,” ujar sutradara film Another Trip to The Moon ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dan Suap Izin Meikarta

    KPK menetapkan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin sebagai tersangka dugaan kasus suap izin proyek pembangunan Meikarta. Ini sekilas fakta kasus itu.