Lima Rumah Produksi Keroyok Film Religi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hanung Bramantyo saat pemotretan Tokoh Film Pilihan Tempo 2013 di rumah produksi Dapur Film, Jakarta (22/12). TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Hanung Bramantyo saat pemotretan Tokoh Film Pilihan Tempo 2013 di rumah produksi Dapur Film, Jakarta (22/12). TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Film-film bernapaskan Islam bermunculan menjelang Ramadan. Mendahului film lainnya, film berjudul Ayat-ayat Adinda akan diputar serentak pada 11 Juni 2015 di bioskop seluruh Indonesia.

    Tidak tanggung-tanggung, film yang disutradarai Hestu Saputra ini dikeroyok lima rumah produksi sekaligus. Kelima rumah produksi itu adalah MVP Multivision Plus, Studio Denny JA, Dapur Film, Argi Film, dan Mizan Production.

    Menurut Hanung Bramantiyo, selaku produser dari Dapur Film, film ini berawal dari Gerakan Islam Cinta (GIC) yang awalnya digagas oleh Mizan Production. Menurut Hanung, GIC adalah gerakan yang ingin menunjukkan nilai-nilai Islam yang penuh cinta dan toleransi terhadap perbedaan. Lalu, kelima rumah produksi bergabung untuk menyiarkan ajaran Islam yang lebih toleran dan cinta damai lewat film.

    "Kami menggandeng rumah produksi yang punya ide sama soal toleransi di tengah kehidupan beragama yang penuh dengan konflik horizontal," ujar Hanung di konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin 8 Juni 2015.

    Film ini mengisahkan Adinda (Tissa Biani Azzahra) yang ingin ikut lomba MTQ tapi dilarang tegas oleh ayahnya, Faisal (Surya Saputra) dan ibunya, Amira (Cynthia Lamusu). Pelarangan tersebut lantaran keluarga mereka lebih ingin menutup diri dari publik. Hal ini dilatarbelakangi oleh seringnya keluarga pindah rumah lantaran dianggap menganut ajaran sesat.

    Menurut Salman Aristo, penulis naskah, film ini sengaja mengambil sudut pandang anak kecil karena kepolosannya dalam memahami agama yang dianggap sesat. "Sekarang kita mudah sekali menilai orang lain itu sesat. Bangsa kita sudah dikotak-kotakan. Kami ingin membuat film yang menyiarkan soal toleransi dan pentingnya kebersamaan," ujar Salman Aristo, penulis naskah film ini sekaligus anggota GIC.

    Raam Punjabi selaku produser dari MVP Multivision mengatakan bahwa film ini dikategorikan sebagai film anak-anak dan mendapat pujian dari lembaga sensor.
    "Saya sih gampang-gampang aja. Saya langsung setuju tanpa berpikir jauh saat Hanung datang ke saya mengajukan film ini. Film ini tidak stereotip seperti film fiktif yang lebih menginginkan duit," tuturnya.

    Adapun, kelima rumah produksi yang tergabung dalam GIC itu akan membuat empat film religi untuk Ramadhan kali ini.

    LUHUR PAMBUDI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.