Serial 'King Suleiman' Tayang Lagi Jadi 'Abad Kejayaan'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Serial King Suleiman. (twitter)

    Serial King Suleiman. (twitter)

    TEMPO.CO, Jakarta - Penayangan serial King Suleiman di stasiun televisi ANTV sempat menuai protes dari berbagai kalangan. Serial yang menceritakan Sultan Sulaiman Al-Qanuni ini sudah berganti judul menjadi Abad Kejayaan.

    Tayangan ini pun sudah mendapat lampu hijau dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk tetap tayang dengan mematuhi Undang-Undang Penyiaran. Perbaikan dan sensor dilakukan agar serial ini layak ditonton keluarga.

    Hal ini disampaikan dalam "Diskusi Budaya, Film Abad Kejayaan: Antara Fiksi, Sejarah, dan Agama", di kantor PBNU, Kramat, Jakarta Pusat, Jumat, 23 Januari 2015.

    Menurut Danang Sangga Buana, komisioner KPI, ada 2.788 aduan dari masyarakat yang dikirim baik melalui e-mail, SMS, Twitter, maupun Facebook tentang serial King Suleiman. (Baca: 'King Suleiman' Diprotes, Begini Pembelaan ANTV)

    ”Dari beragam aduan tersebut, semuanya telah direspons. Baik itu melalui pemanggilan pihak stasiun televisi maupun menghadirkan sejumlah tokoh masyarakat untuk mengkaji film tersebut,” kata dia.

    KPI pusat juga berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Sensor Film (LSF), sejarawan, ANTV, dan perwakilan masyarakat dalam kaitan dengan penayangan serial King Suleiman ini.

    Diskusi dihadiri pakar fikih, KH Masdar Farid Mas’udi dan Ngatawi Al Zastrouw. Beberapa perubahan dilakukan pihak ANTV, salah satunya perubahan jam tayang menjadi pukul 22.00 malam dan memotong bagian cerita yang memang mengandung kekerasan, adegan yang mengeksploitasi wanita, dan kehidupan privasi sultan. (Baca: 'King Suleiman' di ANTV Diprotes, Ini Sikap KPI)

    Film ini bukan film sejarah, melainkan film fiksi dengan latar belakang sejarah. ”Dilihat dari genre atau jenis film dari kacamata sejarah, Abad Kejayaan memang tidak bisa dikategorikan sebagai film dokumenter sejarah. Lebih cenderung pada karya drama fiksi dengan latar belakang sejarah," kata dia.

    Sementara itu, pakar fikih dari NU, KH Masdar Farid Mas'udi, mengatakan penulis sejarah Islam memang masih minim. Dengan demikian, umat Islam pun banyak yang tidak mengetahui secara detail bagaimana perkembangan Islam, dari awal hingga sekarang. Akibatnya, jika kemudian muncul film fiksi yang dikait-kaitkan dengan Islam, penafsirannya pun berbeda-beda. "Memang harus diluruskan. Budaya Islam yang sebenarnya tidak sama dengan film-film fiksi," ujar dia.



    EVIETA FADJAR

    Berita Terpopuler

    Paris Hilton Kembali Berlibur ke Bali 
    KPK Vs Polri, Ahmad Dhani Serang Jokowi 
    Elvira Kandas Menuju 10 Besar Miss Universe 2015 
    Jay Subiyakto Pilih Dukung KPK, Ini Alasannya  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.