Lukman Sardi Blakblakan Soal 'Di Balik 98'  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lukman Sardi. TEMPO/Yosep Arkian

    Lukman Sardi. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO.CO, Jakarta - Belum lagi tayang, film Di Balik 98 besutan Lukman Sardi sudah menuai pro-kontra. Anggota DPR dan bekas aktivis Adian Napitupulu menganggap film ini sebagai alat mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia Wiranto untuk "cuci tangan" dari peristiwa kerusuhan Mei 1998. (Tempo belum berhasil meminta konfirmasi soal tudingan Adian itu kepada Wiranto). (Baca: 'Di Balik 98', Lukman Sardi: Mau Cari Mati?

    Berikut ini wawancara Tempo dengan Lukman melalui sambungan telepon pada Senin pagi, 5 Januari 2015.

    Anggota DPR menilai film ini alat cuci tangan Wiranto saat kerusuhan 1998. Tanggapan Anda?
    Itu cuma pekerjaan orang yang mencari sensasi. Tidak ada hubungannya dengan Wiranto, ngapain juga saya bikin film begitu. Ini bukan film sejarah atau bermuatan politik. Film ini bukan mengupas peristiwa Mei 1998, yang berusaha mencari fakta benar atau salah. Saya tidak mungkin bikin film kayak gitu, mau cari mati apa? Orang yang menjadi saksi sejarah masih pada hidup semua. Itu bukan kapasitas saya. Saya cuma seniman, bukan sejarawan atau politikus.

    Anggota DPR itu juga menduga Wiranto terlibat dalam pendanaan film Di Balik 98?
    Senang banget kalau mau nambahin (dana), kebetulan honor kru dan pemain masih kurang. Ha-ha-ha... Tudingan itu sama sekali tidak benar. Produser film ini Afandi Abdul Rahman dan Titan Hermawan (eksekutif produser dan produser di MNC Pictures). (Baca: Kata Lukman Sardi Jika Wiranto Danai 'Di Balik 98')

    Sebetulnya, awal ide film ini dari mana?
    Saya bilang sama teman-teman, bikin film yuk. Kami brief ramai-ramai. Peristiwa Mei hanya untuk menguatkan konflik di film itu. Ada istri yang bekerja di istana, suami sebagai tentara, adik si istri jadi aktivis karena orang tuanya hilang kena sweeping. Jadinya konflik di dalam film sangat kuat.

    Siapa saksi sejarah sebagai penguat konteks?
    Kami punya researcher, satu sejarawan, saya lupa namanya. Dalam pembuatan naskah, dia selalu baca berulang kali. Naskah baru, baca lagi, baca lagi, berkali-kali. Kalau aman, lanjut. Kami berusaha membuat skrip yang tidak menyudutkan atau mengkambinghitamkan siapa pun. (Baca: Film Lukman Sardi 'Di Balik 98' Segera Tayang)

    Bagaimana reaksi Anda ketika film pertama sudah menuai pro-kontra?
    Ini film panjang pertama saya. Kalau film pendek sudah banyak. Saya enggak kecewa dengan filmnya, tapi kecewa dengan orang Indonesia. Kok, mereka enggak dewasa-dewasa. Katanya sudah reformasi, ternyata otaknya belum reform. Kebiasaan, belum apa-apa ribut duluan, nonton dululah, baru ribut. Kalau ada yang salah, kita koreksi bareng-bareng. Mohon, jangan ribut dulu, nanti jadi bumerang, malah malu.

    Film ini seharusnya dirilis September 2014, kenapa ditunda sampai 15 Januari 2015?
    Dapat jatah dari Cinema21 memang tanggal segitu, tanggal lainnya sudah penuh. Itu saja nanti berbarengan dengan rilis film Hijab. Coba cek dulu ke Cinema21, deh. (Baca: Pro-Kontra 'Di Balik 98', Lukman Sardi Kecewa)

    Anda tahu tanggal 15 Januari bertepatan dengan peristiwa Malari?
    Saya saja enggak tahu 15 Januari itu Malari. Tidak ada urusannya dengan Malari atau sebagainya. Saya tidak punya niat mengaitkan dengan peringatan Malari. Saya saja lupa. Ini murni karena CDI-nya yang banyak. Saya juga baru pergi dari Bangkok beberapa pekan lalu. Nanti, jika saya rilis film tanggal 22 Desember, dikaitkan dengan Hari Ibu? (Baca: Adian: Film 'Di Balik 98' Jangan Mencuci Orde Baru)

    DEWI SUCI RAHAYU

    Baca Berita Terpopuler
    Sangat Berani, Tim SAR Indonesia Dikagumi Amerika 
    Jonan Selidiki Pejabat 'Penjual' Izin Air Asia 
    Ini Alasan Johan Mundur sebagai Juru Bicara KPK
    Kata Lukman Sardi Jika Wiranto Danai 'Di Balik 98' 
    Presiden Jokowi Panggil Hendropriyono, Ada Apa?


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.