Sentuhan Rasa Bermonolog

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Monolog

    Monolog " Shakuntala" oleh Sri Qadariatin, Sutradara Naomi Srikandi, Teater Garasi di Komunitas Salihara, Jumat (14/11). Foto: Tempo/Arnold Simanjuntak;20081114

    TEMPO.CO , Makassar: Satu per satu peserta “Kelas Sharing” membacakan cerita mereka. Sumarni Arianto, memilih cerita pendek berjudul Pelajaran Mengarang. Marni—sapaan Sumarni—membaca, menuntun peserta untuk mengikuti kisah karya Seno Gumira Ajidarma. Peserta yang tak lebih dari 10 orang itu memilih posisi nyaman dengan duduk melingkar.

    Ibu Guru Tati menawarkan tiga judul yang ditulisnya di papan putih. Masing-masing Keluarga Kami yang Berbahagia, Liburan ke Rumah Nenek, dan Ibu,” tutur Marni membacakan cerpen Pelajaran Mengarang. Ia bercerita tentang kisah Sandra, anak 10 tahun, yang harus membuat karangan dan memilih satu dari tiga tema itu. Namun dia bingung akan bercerita apa, karena Sandra tak memiliki kisah bahagia dengan ibu maupun keluarganya yang lain. (Baca juga: Wakil Rakyat Menutup Kala Monolog)

    Cerpen seribuan kata itu tuntas dibacakan Marni. Berikutnya, peserta diminta bercerita secara bergiliran. Muhammad Ashry Sallatu awalnya kurang percaya diri menceritakan pengalamannya dengan bermonolog.

    Namun akhirnya ia menceritakan tentang percakapannya dengan dua anaknya di rumah. Anak sulungnya menyampaikan, bahwa dia harus membawa buah favoritnya ke sekolah. “Saya kemudian menanyakan, ‘Kakak, apa buah favoritnya?’ Anak saya menjawab, anggur tanpa biji.”


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.