Karya Picasso Dicuri dari Galeri San Francisco  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah drawing karya Pablo Picasso yang dicuri dari Weinstein Gallery di Union Square, San Francisco. Foto: Yahoo

    Sebuah drawing karya Pablo Picasso yang dicuri dari Weinstein Gallery di Union Square, San Francisco. Foto: Yahoo

    TEMPO Interaktif, San Francisco - Seorang pria berpakaian rapi dan berkacamata hitam tidak begitu menarik perhatian orang ketika dia masuk ke Weinstein Gallery di Union Square, San Francisco, Amerika Serikat, Selasa siang, 5 Juli 2011. Orang itu kemudian langsung raib setelah menyambar sebuah drawing karya Pablo Picasso dan kabur dengan menumpang sebuah taksi yang sudah menunggunya. Karya Picasso itu kini nilainya lebih dari US$ 200 ribu atau sekitar Rp 1,7 miliar.

    Polisi setempat melacak pencuri itu dengan meminta bantuan pada masyarakat, khususnya orang-orang yang berurusan dengan barang seni tinggi ini. "Kami harap seseorang mungkin mengenali karya ini, jika mereka melihat seseorang berjalan membawanya atau mencoba menjualnya," kata Albie Esparza, Juru Bicara Kepolisian.

    Banyak karya seni yang sukar dicuri karena ukurannya yang besar, tapi gambar pensil karya Picasso tahun 1965 itu, "Tete de Femme (Kepala Seorang Perempuan)", hanya sehelai kertas besarnya. Karya itu adalah bagian dari koleksi Picasso yang pada mulanya ia berikan kepada sopirnya, Maurice Bresnu.

    Rowland Weinstein, Presiden Weinstein Gallery, mengatakan bahwa karya itu baru dibelinya pada pelelangan musim semi ini dengan harga sekitar Rp 1 miliar.

    "Picasso adalah salah satu seniman yang karyanya paling banyak dicuri dan dipalsukan. Itu karena namanya yang sudah terkenal," kata Sharon Flescher, sejarawan seni yang mengepalai International Foundation for Art Research.

    Drawing yang dicuri itu, katanya, tak mudah dijual. "Sekali kabarnya tersiar, sangat susah untuk memasarkan barang curian karya Picasso atau seniman terkenal lainnya," kata Flescher.

    IWANK | SAN FRANCISCO CHRONICLE


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.