Tafsir Liar Kisah Ramayana  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dewi penjaga malam. Foto:Rofiqi Hasan (TEMPO)

    Dewi penjaga malam. Foto:Rofiqi Hasan (TEMPO)

    TEMPO Interaktif,Ubud-Perang besar antara balatentara monyet Hanoman dan penguasa Alengka Rahwana menjadi satu bagian penting dalam kisah Ramayana. Kemenangan Hanoman merebut Dewi Sinta mengakhiri kisah klasik karya Walmiki tersebut. Pertanyaan yang muncul di benak pelukis muda Teja Astawa, di manakah para monyet itu merayakannya?


    Imajinasi liar Astawa kemudian melukiskan para monyet itu seolah berlibur ke Bali. Dalam lukisan bertajuk Monkey Attack itu, mereka tampak berjemur di pantai, surfing, menikmati minuman dingin, dan bersenda gurau di kolam renang. “Bisa dipastikan mereka tak selalu tampil serius seperti dalam kisah-kisah wayang itu,” ujar perupa kelahiran 1 Maret 1971 tersebut.


    Bersama puluhan karya Astawa lainnya, lukisan itu kini dipajang di Tony Raka Art Gallery, Ubud, Bali, dalam pameran tunggal bertajuk “Fragments of Subconscious Memory” yang digelar hingga 21 Februari mendatang. Cerita wayang menginspirasi karya-karya itu, meski Astawa justru berusaha menangkap sisi lain dari pakem cerita, yakni pesan yang disampaikan di balik cerita tersebut. Bagi dia, pesan itu justru adalah hal yang lebih nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.


    Seperti pada lukisan Temu Kangen Prajurit, Astawa melukiskan suasana ketika para prajurit bertemu dengan perempuan-perempuan mereka. Tampak kesukacitaan dan pesta asmara mewarnai pertemuan itu. “Di situlah sisi manusiawi jauh lebih jujur dibanding ketika mereka berada di medan perang,” katanya.


    Astawa sendiri memilih teknik wayang sejak satu tahun terakhir sebagai bentuk acuannya untuk memvisualkan figur di kanvas. Tapi ia melakukan dekonstruksi agar tak sekadar melakukan peniruan. Jejak wayang masih terlihat dari garis-garis hitam yang tegas untuk membentuk obyek tertentu. Selain bentuk, kisah wayang dieksplorasinya serta dipadu-padankan dengan realitas kekinian. Hasilnya adalah lukisan-lukisan dengan ciri dekoratif yang kuat.


    Bekal inspirasi visual dari dunia wayang diperolehnya dari pergaulan yang intens dengan tradisi itu sejak masa kecilnya di wilayah Sanur, Bali. Kakeknya kerap membawakan figur wayang dari para dalang yang tampil di wilayah itu. Biasanya, selalu ada sisa wayang yang dibuang setelah pertunjukan karena mengalami kerusakan. “Saya juga biasa membuatnya dari daun kamboja dan nangka untuk mainan di masa kecil,” kata alumnus Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Denpasar, ini.


    Pengamat seni Wayan Seriyoga Partha menyatakan pengalaman masa kecil memang acap kali sangat berpengaruh terhadap karya seorang seniman. Proses internalisasi tersimpan di alam bawah sadar dan kemudian menjadi acuan interpretasi yang direkonstruksi kembali ke dalam medium karya seni.


    Menurut Wayan, Astawa melepaskan keterkaitan wayang dari narasi epik yang diperankannya dan menjadikan wayang hanya sebagai media untuk memerankan lakon yang disampaikan sang dalang. Astawa memilih membebaskan diri dari pakem-pakem tersebut, dengan membebaskan penggambaran wayang sesuai dengan imajinasinya, sebagaimana kebebasan bermain-main dengan wayang-wayang daun saat masa kecilnya.


    Narasi-narasi visualnya tidaklah memiliki latar cerita yang terstruktur, seperti dalam cerita epik pewayangan. Ada hal-hal spontan yang kemudian memasuki proses tersebut dan dimunculkan langsung dalam karya. “Spontanitas ini menjadi faktor penting,” ujar Wayan.


    Sebenarnya, faktor tersebut juga merupakan rangkaian penanda simbolik yang tersimpan di alam bawah sadar. Bukan hal yang mudah untuk memahami keseluruhan penanda itu. Apalagi tidak ada penanda tunggal yang bisa dipilah antara satu peristiwa dan peristiwa lainnya. Seperti dalam karya Monkey Attack, terlihat pula di lukisan itu adanya visualisasi dentuman layaknya suara ledakan bom. Rupanya, ketika Astawa sedang melukis, terlintas pula kenangannya akan peristiwa bom di Kuta, Bali.


    Yang jelas, bagi Astawa, ikonografi yang mengacu pada bentuk wayang memang bukan sebuah belenggu. “Itu cara saya untuk ikut merawat kekayaan budaya kita,” katanya.


    Menurut Astawa, dia ikut prihatin karena wayang sudah mulai dilupakan orang. Karena itu, harus ada orang-orang yang menjadi penjaga tradisi. Keresahan itu diwujudkan Astawa dalam karya instalasi, berupa sebuah tank baja yang hendak melindas tradisi yang disimbolkan dengan batu-batu berukir motif tradisional.


    ROFIQI HASAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.