Ada Kisah di Balik Pintu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 1001 Doors: Reinterpreting Traditions di Ciputra World Marketing Gallery. (TEMPO/ JACKY RACHMANSYAH)

    1001 Doors: Reinterpreting Traditions di Ciputra World Marketing Gallery. (TEMPO/ JACKY RACHMANSYAH)

    TEMPO Interaktif, Jakarta

    Setiap dinding adalah pintu..

    Setiap dinding atau halangan selalu ada pintu atau jalan keluar untuk perubahan.

     

    Inilah interpretasi Sri Astari tentang sebuah pintu dalam karyanya bertajuk Every Wall is A Door. Pelukis yang dikenal luas sebagai Astari Rasjid ini menggunakan sebuah pintu gebyok dan dua patung boneka kayu setinggi hampir dua meter. Satu patung berdiri di belakang pintu, berwujud seorang perempuan Jawa berkebaya berwarna gelap dan berkain batik. Perempuan itu mengenakan sanggul lengkap dengan kembang goyang dan hiasan hitam di dahi yang biasa dikenakan perempuan Jawa kala menikah.

    Perempaun itu menatap ke luar pintu. Di sana berdiri sebuah patung lainnya. Patung seorang perempuan berkebaya putih dan berkain batik . Di lengan kanan perempaun dengan rambut tergelung itu tersampir sebuah tas tangan. Sebuah koper besi tua tergeletak di sampingnya. Lewat karyanya itu, Astari mencoba membuka pintu menuju ruang-ruang tradisi.

    Every Wall is A Door menjadi salah satu karya seni yang disuguhkan dalam pameran seni kontemporer bertajuk 1001 Doors: Reinterpreting Traditions di Ciputra World Marketing Gallery, Jalan Prof. Dr. Satrio, Jakarta Selatan. Melalui karya-karya yang ditampilkan, pameran ini mencoba menghadirkan keragaman warisan budaya Indonesia. Pintu menjadi medium penghubung untuk melihat dan menyaksikan warisan itu. Pintu juga diletakkan sebagai jalan masuk bagi para perupa untuk mempersoalkan warisan tradisi. Sebuah ruang yang terasa akrab sekaligus asing bagi generasi masa kini.

    Pameran ini memanfaatkan pintu sebagai jalan masuk untuk melihat bagaimana warisan tradisi dimanfaatkan dan dimaknai, khususnya para perupa kontemporer. Untuk itu pameran ini menampilkan sekaligus pintu tradisional sebagai warisan tradisi dan karya seni mengenai pintu oleh para perupa kontemporer,” jelas Asmudjo Jono Irianto, kurator pameran. Pintu tradisi diciptakan oleh komunitas tradisi, sedangkan karya seni yang inspirasinya berasal dari pintu merupakan realisasi gagasan seorang seniman.

    Pameran yang digelar Jakarta Convention & Exhibition Bureau, ArtSociates, dan Ciputra Artpreneurship sejak 26 Januari hingga 6 Februari itu menampilkan hasil karya 101 seniman ternama Indonesia. Para seniman yang terdiri dari pelukis, perupa, arsitek, komunitas seni, desainer mode, desainer aksesori, desainer produk, desainer interior, fotografer, dan artis multimedia itu ditantang untuk menginterpretasikan tradisi dalam bentuk kontemporer. Untuk mempermudah pengunjung pameran mengapresiasi, karya-karya para seniman itu dikelompokan dalam delapan subtema, yakni Door to Traditional Space, Mining The Door, Pintu Waktu, Connecting Door, Emergency Door, Virtual Door, Pintu Mimpi, dan Door, Soul, and Spirituality.

    Door to Traditional menampilkan karya-karya yang menegaskan upaya para seniman untuk membuka pintu ruang-ruang tradisi yang makin terpinggirkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pola tradisi umumnya hanya terlihat dalam perayaan beberapa titik penting perjalanan hidup manusia, seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian. Karya-karya dalam kategori ini menunjukkan bahwa persoalan tradisi merupakan medan inspirasi yang cukup luas bagi para seniman kontemporer untuk mengolah gagasan seni.

    Selain Astari, seniman lain yang mencoba membuka kembali pintu tradisi adalahYuli Prayitno. Yuli mengangkat permasalahan pintu dalam pengertian yang lebih harfiah. Lewat Pamali, karyanya berupa sebuah daun pintu yang catnya sudah mengelupas dan sebuah kursi kayu itu dia menemukan tabu yang cukup menarik dalam tradisi yang dianut masyarakat Sunda. Yakni larangan anak gadis duduk di depan pintu. Jika dilarang, konon sang gadis bakal sulit mendapat jodoh.

    Pintu sebagai objek sehari-hari yang terkadang tidak disadari memberi peluang interpretasi yang sangat luas bagi Jimi Multazam dan beberapa seniman yang karyanya dikategorikan dalam subtema Mining the Door. Melalui karyanya yang berjudul unititled, dia ingin menunjukkan bahwa pintu adalah tempat untuk mendaratkan sticker atau apa pun bentuk gambar yang bagus.

    Selanjutnya, kita akan diajak memasuki Pintu Waktu yang antara lain menampilkan karya Bagus Pandega, berupa pintu hitam yang bergerak-gerak ke kanan dan kiri, mirip bandul jam. Dari sana kita diajak memahami fungsi dasar pintu sebagai jalur penghubung antarruang Connecting Door, seperti yang tertuang dalam karya rumah produksi Cerahati Artwork, Jakarta. Dengan unik mereka menampilkan sebuah pintu kecil yang dapat dibuka. Ketika melongok kedalamnya, tampak tiga layar monitor yang berisi rekaman gambar dari tiga sudut pandang berbeda.

    Tema selanjutnya, Emergency Door, didasarkan pada salah satu konsekuensi logis terhubungnya ruang-ruang kebudayaan, yakni konflik dan perselisihan. Emergency Door menyiratkan kepedulian seniman terhadap kondisi darurat situasi global dengan menciptakan karya seni yang berkaitan dengan isu sosial. Lain lagi dengan kategori Virtual Door yang berisi karya-karya hasil imajinasi para seniman tentang makna metaforis pintu secara virtual, seperti terlihat dalam karya Krisna Murti yang berjudul Poetry.

    Dua tema lain Pintu Mimpi dan Door, Soul, and Spirituality menggenapi perjalanan menguak kisah-kisah dibalik pintu. Pintu Mimpi yang memajang karya Aprilia Apsari, Noor Ibrahim, Nindityo Adipurnomo, dan Jatiwangi Art Factory itu merefleksikan mimpi dan harapan. Seperti yang terefleksikan dalam karya Nindityo . Karya berjudul Post olerance Trophy 2011 bercerita tentang kedamaian dan toleransi umat beragama. Sebuah harapan sederhana namun sulit diwujudkan , laiknya sebuah mimpi.

    Karya-karya para seniman itu memang terkelompok dalam beragam tema. Namun , sebagai karya seni rupa kontemporer, karya-karya tersebut merupakan jalinan narasi yang kompleks dan multi tafsir. Seperti kata Ayu Utami dalam esai tulisan Paradoks Pintu Kota, “Pintu bagaikan paradoks. Pada awalnya, ia adalah kemungkinan yang dibukakan. Pada akhirnya, ia lebih menjadi daun daripada bingkai.”

     

    NUNUY NURHAYATI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.