Bahaya Rumah Bolong

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Ada kalanya rumah menjadi tempat yang paling aman dan nyaman. Namun seketika ia bisa berubah menjadi ancaman jika kehilangan pintu dan jendela. Sebab, kapan saja orang asing bisa keluar masuk dan mengubah tatanan di dalamnya. Lalu, yang nyaman itu bisa menjadi menakutkan.

     

    Begitulah Dindon W.S, sutradara Teater Kubur, akan mengangkat sebuah kisah sederhana tetapi penuh dengan metafor: On-Off (Rumah Bolong). Lakon ini akan dipentaskan dalam Festival Salihara Ketiga di Komunitas Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, malam ini dan esok malam.

     

    "Saya kira lakon ini adalah realitas yang ada di Indonesia," ujar Dindon saat latihan bersama Teater Kubur. On-Off berangkat dari pengamatan dan penghayatan Dindon terhadap keadaan yang karakteristik budaya maupun ideologinya terkikis.

     

    Pelbagai persoalan mendera rumah bolong berpenghuni itu. Tak lama kemudian hilang, tergantikan dengan masalah lain. "Semua orang punya persoalan atas dasar pengaruh-pengaruh yang menyertai tokoh. Banyak tawaran masuk ke rumah itu," Dindon menjelaskan.

     

    Dalam lakon itu, nenek tua menjadi tokoh sentral penghuni rumah bolong itu. Saat sang nenek menangisi rumahnya yang tercerabut dan keluarga yang berantakan, datanglah seorang gila. Ia mengatakan kepada nenek itu, tak semestinya ia menangisi sesuatu yang tampak. Justru jika daun pintu yang ada di kalbu hilang, maka pantaslah ia menangis. Secara fisik, tokoh ini seperti orang gila. Tetapi ia mampu mengungkap kebijaksanaan dalam ucapan.

     

    Lakon ini tak bersifat naratif. Akan banyak metafor yang muncul dalam visualisasi gerak. Bahkan teks juga banyak bernuansa puitik.

     

    Dindon akan mengambil konsep teater rakyat. Para pemain duduk melingkar mengelilingi panggung dan seketika bisa melakonkan karakter apa saja. Setting tempat juga sangat sederhana. Panggung melingkar dengan sebuah totem besar di belakangnya. Sangat cocok dengan bentuk ruangan Galeri Salihara yang bundar.

     

    Menurut Dindon, dengan konsep seperti ini akan lebih terasa sangat Indonesia. Pementasannya mengalir tanpa ada penggantian adegan. "Setting tempat akan banyak simbol dan metafor. Ini mengundang imajinasi penonton," kata Dindon.

     

    Teater Kubur adalah kelompok teater yang matang lewat Festival Teater Jakarta. Didirikan oleh Dindon pada 1983. Mulanya teater ini beranggotakan anak-anak muda putus sekolah dan terjerumus ke dalam dunia narkoba dan kriminalitas. Mereka berproses di lokasi pekuburan di Gang Kober, Jatinegara, Jakarta Timur. Teater Kubur pernah mementaskan sejumlah lakon, antara lain, Kapai-Kapai, Sirkus Anjing, Tombol 13, Sandiwara Dol, Danga Dongo, Trilogi Besi, dan Jas Dalam Toilet.

     

     

    ISMI WAHID, NUNUY NURHAYATI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.