Konser Mini Menyongsong SIEM Festival 2010  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Blasius Subono. (TEMPO/Novi kartika)

    Blasius Subono. (TEMPO/Novi kartika)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Seperangkat lengkap gamelan Jawa slendro dan pelog ditata teratur. Di belakangnya serambi rumah bangunan Jawa menjadi latar panggung itu. Sepuluh pengrawit berpakaian surjan merah bersiap melantunkan gending-gendingnya.

     

    Sabtu malam lalu, Bentara Budaya Jakarta menggelar konser kecil musik etnik kontemporer. Mereka mengundang pedalang sekaligus komposer Blacius Subono dari Solo, Jawa Tengah. Pergelaran kecil itu merupakan pemanasan sebelum perhelatan besar Solo International Contemporary Ethnic Music (SIEM) Festival 2010 yang akan diselenggarakan di Satdion Sriwedari, Solo, sepanjang 7 – 11 Juli ini.

     

    Subono, dalam pentas kecil ini didampingi oleh 9 pengrawit muda lainnya. Dibuka oleh garapan lagu Pambuko Nuroso. Gending kontemporer sebagai pembuka itu masih kental warna gending Jawa dengan pakem-pakem yang ditentukan.

     

    Menyusul repertoar kedua berjudul Kidung Jaman Edan. Di sini, Subono mulai memperlihatkan keterbaruan dari karyanya. Tak ada iringan gending di sana. Semua lirik dilafalkan termasuk iringannya mengambil teknik vokalising. Karya ini diakui Subono diambil dari naskah pujangga Ronggowarsito yang menulis sastra dengan judul serupa. Lirik-liriknya menggambarkan ketidaksenangan Ronggowarsito terhadap pemerintahan Pakubuwono X. "Isinya masih aktual sampai sekarang," ujar Subono.

     

    Tambah menarik, ketika Ubiet masuk dan menyelinapkan vokalnya dalam kidung tersebut. Pendendang dari Keroncong Tenggara ini menyentuhkan sedikit kalimat keroncongnya dalam alun akapela Jawa itu. Frekuensi yang sedikit dipaksakan terasa sangat disonan. "Itu kroncong versi saya. Saya terus melakukan pembaharuan," kata Ubiet. Meski demikian, yang terlihat adalah warna baru dalam kidung yang semula didominasi oleh serbuan nada-nada pentatonis itu.

     

    Lain halnya dengan repertoar terakhir, Suryo Gumlewang. Ini lagu terakhir yang menjadi unggulan Subono. Gending yang mengalami pembaruan nuansa, tak hanya Jawa, tapi termasuk juga Bali dan Sunda. "Saya berasal dari keluarga pedalang. Sehingga musik-musik yang mempengaruhi saya kebanyakan adalah pentatonik," ujar Subono.

     

    Sangat jelas dalam garapan ini, masih begitu kental dengan susunan nada pentatonik. Bahkan kehadiran saksofon maupun biola harus menyamakan frekuensinya dengan harmoni etnik ini. Lagi-lagi Ubiet menyelipkan lirik vokalnya dalam karya ini. "Memang tidak banyak. Kalau terlalu banyak nanti mengacaukan mas Bono. Dan itu haram," kata Ubiet.

     

    Suryo Gumlewang diciptakan pada 2009. Subono terinspirasi oleh keprihatinannya melihat orang-orang di usia senja yang masih mengurusi hal-hal yang bersifat ragawi.

     

    Subono akan membawa sekitar 75 pengrawit pada SIEM Festival 2010. Dengan garapan yang sama, Subono akan tampil pada 9 Juli nanti. Adapun Ubiet bersama Keroncong Tenggaranya akan tampil pada acara pembukaan festival musik etnik internasional itu.

     

     

    ISMI WAHID


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kenali Tanda Masker Medis yang Asli atau Palsu

    Saat pandemi Covid-19 seperti sekarang, masker adalah salah satu benda yang wajib kita pakai kemanapun kita beraktivitas. Kenali masker medis asli.