Film Soal Akar dan Budaya Al-Qaidah Tayang di Amerika  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • My Trip to Al-Qaeda. (cuarts.com)

    My Trip to Al-Qaeda. (cuarts.com)

    TEMPO Interaktif, New York - Sebuah film dokumenter baru garapan peraih Oscar, Alex Gibney, mengajak para penonton mencari akar budaya dan sejarah al-Qaidah dari Kairo ke London. Film tersebut mencoba mendedahkan motif di balik serangan ke Amerika Serikat.

    Bertajuk My Trip to Al-Qaeda, film tersebut tampil untuk pertama kali di Tribeca Film Festival, Ahad (25/4). Film itu menceritakan perjalanan wartawan Amerika Serikat Lawrence Wright yang menelusuri dunia untuk mencari konteks sejarah yang membentuk dan meradikalisasi al-Qaidah serta para pemimpinnya termasuk Usamah bin Ladin.

    “Kami tahu al-Qaidah. Kami tahu teror. Kami tahu ancaman. Tetapi kami tidak tahu kenapa dan bagaimana. Perjalanan pribadi Larry membuat pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa dimengerti,” ujar Gibney kepada Reuters dalam sebuah wawancara.

    Film tersebut diadaptasi berdasarkan buku Wright pada 2007 yang memenangkan Pulitzer, The Looming Tower: A-Qaeda and the Road to 9/11. Film ini berpindah dari cerita yang dipaparkan Wright di panggung dan wawancara nyata dengan sumber-sumber Wright.

    “Pencarian al-Qaidah tidak semudah seperti mengatakan siapa para individu ini? Ini mengenai masalah dari mana mereka berasal. Apa konteks yang membuat teror sebagai pengejawantahannya?” lanjut Gibney.

    Film tersebut berawal dengan kisah Wright di Kairo yang menjelaskan radikalisasi Ayman al-Zawahiri, seorang dokter bedah di Mesir yang membentuk tulang punggung al-Qaidah. Pada 1984, al-Zawahiri meninggalkan penjara di Kairo setelah disiksa dengan disetrum dan anjing-anjing liar selama tiga tahun. Menurut Wright, al-Zawahiri memendam dendam.

    Setelah itu film tersebut menceritakan kisah ayah bin Ladin yang berubah dari seorang buruh bermata satu asal Yaman menjadi kontraktor terbesar Arab Saudi. Namun, bin Ladin muda kecewa dengan Arab Saudi setelah dirinya dipermalukan karena ditolak pemerintah Arab Saudi untuk melindungi warganya ketika Kuwait diinvasi Saddam Hussein pada 1990. Arab Saudi justru meminta bantuan Amerika Serikat dan karena itu bin Ladin merasa harga dirinya terinjak-injak.


    REUTERS| KODRAT SETIAWAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.