Jazz Gunung dengan Konsep Hybrid Bisa Jadi Semangat Bangkit dari COVID-19

Reporter:
Editor:

Mitra Tarigan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Grup musik Jungle by Night asal Belanda tampil dalam pergelaran Jazz Gunung 2018 di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat, 27 Juli 2018. Acara musik jazz ini akan digelar hingga 29 Juli. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    Grup musik Jungle by Night asal Belanda tampil dalam pergelaran Jazz Gunung 2018 di kawasan Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur, Jumat, 27 Juli 2018. Acara musik jazz ini akan digelar hingga 29 Juli. ANTARA FOTO/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengapresiasi upaya yang dilakukan promotor Jazz Gunung yang tahun ini akan menggelar acara dengan konsep Hybrid Concert pada 12 Desember 2020.

    Konsep Konser Hybrid menggabungkan penyelenggaraan Jazz Gunung Bromo yang digelar virtual dan Jazz Gunung Ijen yang diadakan di lokasi dengan penerapan protokol kesehatan ketat.

    "Hybrid bisa menjadi alternatif. Ada yang bisa datang langsung dan nonton berbayar di platform digital. Ini juga bisa menjadi solusi sementara bukan selamanya. Sehingga nanti ketika bisa kembali aktivitas normal bisa bangkit kembali," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama dalam jumpa pers virtual Road To Jazz Gunung, Jumat 4 Desember 2020 malam.

    Wishnutama mengatakan inisiatif yang dilakukan penyelenggara Jazz Gunung dalam menggelar konser secara hibrida menjadi sebuah harapan dan semangat untuk bangkit dari badai COVID-19 yang memberi dampak besar terhadap pelaku ekonomi kreatif.

    "Tentu inisiatif yang dilakukan menurut saya luar biasa dan sangat saya hargai. Karena ini bukan hanya membantu dari segi ekonomi tapi memberikan semangat, memberikan hopes. Memberikan semangat bahwa kita ini ada semangat untuk bangkit," ujar Wishnutama.

    Lebih lanjut, Wishnutama menambahkan bahwa pihaknya di Kemenparekraf telah membuat panduan protokol kesehatan untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif termasuk di dalamnya untuk menggelar sebuah seni pertunjukan di masa pandemi.

    "Kemenparekraf telah membuat berbagai macam panduan dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Termasuk seni pertunjukan ada panduannya yang bisa di download di website kemenparekraf. Itu bisa jadi panduan untuk menyelenggarakan event ke depan," paparnya.

    Wishnutama menyadari bahwa kegiatan seni pertunjukan seperti konser musik memang membutuhkan kehadiran penonton. Namun di masa pandemi saat ini, menurut Wishnutama, kesehatan menjadi faktor utama.

    "Jadi memang ini tantangan sendiri dari musik yang sifatnya pertunjukan. Tapi sekali lagi prioritas pemerintah sekarang kan masalah kesehatan karena ini menjadi hal yang penting diatasi. Memang protokol kesehatan jadi kata kunci untuk kita melaksanakan berbagai aktivitas," katanya.

    Sementara itu, Sigit Pramono selaku penggagas Jazz Gunung Indonesia mengatakan bahwa panitia telah menyiapkan protokol kesehatan di lokasi penyelenggaraan dua kegiatan tadi.

    Menurut Sigit, semua orang yang akan berpartisipasi dalam Jazz Gunung tahun ini wajib mengikuti tes kesehatan, lalu penggunaan masker selama kegiatan berlangsung.

    "Konsepnya itu kita ingin menerapkan protokol kesehatan ketat. Kita sebut 3 W. Wajib di tes semua baik dari artis atau kru yang terlibat, wajib pakai masker, wajib jaga jarak. Kami mengurangi jumlah tempat duduk hanya 30 persen. Kita hanya sepertiga aja," kata Sigit Pramono.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bersiap di Kala Bencana Melanda, Siapkan Tas Siaga

    Untuk memaksimalkan mitigasi bencana, setiap keluarga diharuskan memiliki tas siaga. Apa itu tas siaga? Berikut cara menyiapkannya.