Sujiwo Tejo Meriahkan Jazz Atas Awan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah lampion diterbangkan saat pergelaran musik Jazz di Atas Awan di pelataran Candi Arjuna Dieng (30/8). TEMPO/Aris Andrianto

    Sejumlah lampion diterbangkan saat pergelaran musik Jazz di Atas Awan di pelataran Candi Arjuna Dieng (30/8). TEMPO/Aris Andrianto

    TEMPO.COBanjarnegara - Pergelaran Jazz Atas Awan kembali digelar di Dataran Tinggi Dieng dalam Festival Budaya Dieng Ke-6 pada 31 Juli 2015. Pergelaran tersebut menghadirkan Sujiwo Tejo, yang akan membawakan karya berjudul Moksa.

    "Ada tujuh performer ditampilkan," kata penggagas Jazz Atas Awan, Budhi Hermanto, Senin, 27 Juli 2015.

    Tujuh penampil itu adalah Sujiwo Tejo & friends, Absurdnation, Hajarbleh Big Band, Batavicada, The Lounge, Cadenza, dan Jammers Instrumental.

    Menurut Budhi, sebenarnya ada 48 grup band dari berbagai komunitas musik jazz di Indonesia yang berminat ikut meramaikan pertunjukan itu. Namun, karena hanya mampu menyediakan satu panggung, panitia memutuskan hanya menampilkan tujuh penampil itu.

    Tahun depan, ucap Budhi, kemungkinan akan disiapkan minimal tiga panggung pertunjukan, agar banyak musikus jazz ikut memeriahkan pergelaran Jazz Atas Awan.

    Menurut Sujiwo Tejo, yang akan ikut memeriahkan pergelaran musik jazz di tengah suhu 4 derajat Celcius itu, sesuai dengan namanya, Jazz Atas Awan adalah pergelaran nglangut, yaitu ada yang tiada. Ritme, melodi dan lainnya akan hilang. "Sesuai dengan namanya, Jazz Atas Awan bukan musik yang napak bumi. Ia adalah jenis jazz yang mengantar moksanya para Pandawa, anak-anak Pandu," ucap, Sujiwo yang juga dikenal sebagai dalang.

    Sujiwo menjelaskan, pada pertunjukan Jazz Atas Awan nanti, ia akan membawakan musik jazz pengantar berjudul Moksa bersama Bintang Indrianto (bas), Taufan Siswadi (drum), dan Imam Garmansyah (keyboard).

    Grup band lain yang ikut memelopori pertunjukan itu sejak pertama pergelaran, Absurdantion dari Semarang, ikut memeriahkan kembali Jazz Atas Awan.

    Menurut Nanda Goeltom, pentolan Absurdantion, Jazz Atas Awan bukan sekadar pergelaran berbasis musik jazz. "Jazz Atas Awan adalah cara-cara kami, cara-cara kita mempersembahkan apa yang kami miliki, kepada nenek moyang, mendendangkan harmoni sebagai bentuk kekaguman atas karya Sang Khalik," ujarnya.

    Lebih lanjut, Nanda menyatakan berkesenian melalui jazz adalah pengolah rasa. Ia berharap eksplorasi terhadap "rasa" ini terus menjadi pondasi Jazz Atas Awan.

    Festival Budaya Dieng rutin diselenggarakan tiap tahun untuk mencukur anak berambut gimbal, yang hanya ada di dataran tinggi Dieng. Diperkirakan, 150 ribu wisatawan akan mengunjungi festival itu. Semua penginapan sudah habis dipesan sejak dua bulan lalu.

    ARIS ANDRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Memberlakukan Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar

    Presiden Joko Widodo telah menandatangai PP No 21 Tahun 2020 yang mengatur pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar menghadapi virus corona.