Film Senyap Dilarang, Prajurit Se-Kodim Nonton Bareng  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Berita pemutaran film Senyap oleh anggota Kodim 0733 BS Semarang di situs Kodam IV/Diponegoro. Kodam4.mil.id

    Berita pemutaran film Senyap oleh anggota Kodim 0733 BS Semarang di situs Kodam IV/Diponegoro. Kodam4.mil.id

    TEMPO.CO, Jakarta - Jika di beberapa kota aparat polisi dan TNI melarang atau mengawasi pemutaran film Senyap atau The Look of Silence, tapi anggota TNI Kodim 0733 BS Semarang, Jawa Tengah, justru menonton film ini. 

    Pemutaran film ini dilaksanakan di aula Makodim 0733 BS, dalam laman Komdam4.mil.id, disebutkan pada 26 Februari 2015. Waktu itu bersamaan dengan evaluasi keamanan sekaligus memberikan wawasan kepada para anggota TNI.

    “Yang dievaluasi termasuk tren pro-kontra adanya film Senyap. Tapi tidak spesifik hanya film Senyap,” kata Letnan Kolonel Elpis Rudi, Kepala Penerangan Kodam IV/Diponegoro, kepada Tempo di Semarang, Jumat, 6 Maret 2015. 

    Elpis mengatakan, anggota TNI harus bisa mengetahui mengapa film Senyap menuai polemik. Untuk itulah, kata Elpis, anggota TNI harus bisa mempelajari situasi. Elpis mencontohkan jika tiba-tiba ada sekelompok masyarakat yang melakukan unjuk rasa untuk membubarkan acara menonton film Senyap, maka anggota TNI harus mengetahui apa saja isi film tersebut. “Sebagai aparat harus mengetahui seluruh situasi,” kata Elpis.

    Film ini sempat menjadi kontroversi di beberapa tempat seperti di Yogyakarta, Malang. Di Yogyakarta, empat lokasi pemutaran digeruduk massa. Polisi setempat meminta panitia membatalkan pemutaran karena ada ancaman dari massa dan tidak ada jaminan keamanan.

    Di Malang, terdapat tujuh lokasi pemutaran film. Namun tak semua lokasi memutar film. Pejabat kampus dan aparat TNI setempat mengintimidasi pemutaran setempat. Komandan Komando Distrik Militer 0833/Bhaladika Jaya Letnan Kolonel Gunawan Wijaya mengingatkan bahwa pemutaran film tersebut bisa menimbulkan dampak gesekan antarkelompok. "Saya bertugas menjaga stabilitas, keutuhan berbangsa dan bernegara," katanya

    Film ini bercerita tentang Adi Rukun yang mencari pengakuan dari para pelaku pembunuhan kakaknya setelah peristiwa G 30 S 1965. Kakak Adi, Ramli, dibantai dengan kejam oleh kelompok masyarakat yang didukung aparat.

    DIAN YULIASTUTI | ROFIUDIN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.