Dokumenter Putri Diana Kecam Kerajaan Inggris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Cannes - Menurut sebuah film dokumenter provokatif di Festival Film Cannes, keluarga kerajaan Inggris adalah kaum rasis bermahkota dan Pangeran Philip sebagai psikopat penggila wanita.

    Film "Unlawful Killing" karya sutradara Keith Allen itu menghidupkan kembali klaim bahwa Putri Diana--yang dicintai jutaan orang tapi dianggap perempuan memalukan di mata kerajaan--dibunuh oleh penguasa Inggris. Film itu ditayangkan perdana pada Jumat, 13 Mei 2011, di Cannes.

    Film itu menyebut dirinya sebagai "obat penawar" bagi film "The King's Speech" dan menggambarkan keluarga kerajaan sebagai barang antik feodal yang menguasai jaringan kroni pejabat yang dibiayai para pembayar pajak. Namun, sutradara Keith Allen menyatakan, film itu "bukan serangan terhadap monarki". "Kupikir dia antimonarki. Kupikir dia mungkin mempertanyakan soal kapitalisme," katanya.

    Judul film itu dipungut dari vonis seorang pejabat Inggris yang menyidik kematian Diana pada 1997 dalam sebuah kecelakaan mobil di Paris. Juri memutuskan sang putri terbunuh secara tidak sah, tapi menghapus klaim konspirasi, menyalahkan kendaraannya yang dikemudika dengan kasar dan ngebut karena pengemudinya mabuk dan mobil-mobil yang mengejarnya.

    Tapi, film yang dibintangi aktor Allen, bapak penyanyi Lily Allen, meninjau kembali teori konspirasi yang diajukan Mohamed Al Fayed, yang putranya, Dodi, adalah teman Diana pada masa itu dan meninggal dunia pada kecelakaan yang sama. Fayed, jutawan bekas pemilik toko besar Harrods di London, mendanai film itu sebesar 2,5 juta pound atau sekitar Rp 34 miliar. Dia sudah lama mempertahankan bahwa putranya dan Diana dibunuh oleh agen rahasia Inggris atas perintah penguasa yang ketakutan terhadap romansa Diana dengan seorang pria muslim.

    Film itu dibuka dengan prediksi Diana dalam sepucuk surat pada 1995 kepada seorang sahabatnya bahwa "suamiku merencanakan sebuah 'kecelakaan' dalam mobilku" dan berusaha menggali lubang-lubang dalam penyelidikan koroner.

    Dokumenter itu lebih banyak bertanya ketimbang menjawab. Siapa yang ada di dalam mobil Fiat putih yang saksi lihat di Alma Tunnel sesaat sebelum kecelakaan? Apakah pengemudi Henri Paul benar-benar mabuk atau seseorang mencemari contoh darahnya? Mengapa ambulans Prancis datang begitu terlambat?

    "Saya tidak ingin membuat film sensasional," kata Allen, yang menyebut dokumenter itu sebuah "upaya forensik" terhadap proses hukum yang "tidak masuk akal".

    IWANK | AP


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.