Christine Hakim Buat Film Dokumenter Anak Autis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Hendra Suhara

    TEMPO/Hendra Suhara

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Artis senior Christine Hakim membuat film dokumenter bertajuk Love Me As I Am (Buah Hati) dalam rangka memperingati Hari Autis Internasional pada 2 April. Film berdurasi 45 menit ini mengisahkan fakta kehidupan keluarga yang memiliki anak penyandang autisme. Chirstine berharap film ini dapat memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang autisme dan mengubah image negatif terhadap penyandangnya.

    “Masih banyak orang tua yang menyangkal bahkan menyembunyikan anaknya yang memiliki sindrom autis. Maka dengan film ini saya berharap persepsi masyarakar menjadi positif karena ternyata masing-masing dari mereka memang memiliki bakat yang luar biasa,” ujar Christine Hakim, produser film Love Me As I Am, dalam konfrensi pers, Jumat 1 April.

    Dengan metoda pendidikan yang baik, lanjut Christine, seorang penyandang autisme dapat dituntun menjadi musikus handal, seniman yang luar biasa, dan lainnya. Hal ini dibuktikan dengan kemampuan bermain piano klasik yang luar biasa dari seorang Michael Anthony, penyandang autis berusia 8 tahun.  “Michael mempelajari cara bermain musik dari mendengarkan kakaknya main sejak dia kecil. Sekarang kemampuannya telah melapaui kakaknya,” kata Mentalia, Ibu Michael.

    Dr Ricky Avenzora, Sutradara film Love Me As I Am, mengatakan tujuan dari film ini adalah membangun kesadaran masyarakat tentang autisme dalam bentuk pemahaman karakteristik dan juga empati sosial. “Tidak jarang dijumpai anak autis yang tidak boleh bersekolah atau banyak orang tua siswa lainnya menolak adanya anak autis itu,"katanya. Dan anak autis sungguh tidak boleh dibedakan dengan anak lainnya.

    RENNY FITRIA SARI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.