Kodim Kediri Larang Penayangan Opera Tan Malaka  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pertunjukkan Opera Tan Malaka di Salihara, Jakarta. (TEMPO/JACKY RACHMANSYAH)

    Pertunjukkan Opera Tan Malaka di Salihara, Jakarta. (TEMPO/JACKY RACHMANSYAH)

    TEMPO Interaktif, Kediri - Penanggungjawab program siaran Kilisuci Teve (KSTV), Kediri Mufti Ali mengaku diminta Komandan Kodim 0809 Kediri Letnan Kolonel Infanteri Bambang Sudarmanto untuk tidak menyiarkan Opera Tan Malaka. Siaran tersebut dibatalkan sebelum sempat melalui proses editing.

    Menurut Mufti, semula KSTV berencana menayangkan Opera Tan Malaka besok pada tanggal 16 Januari 2011. Tayangan tersebut merupakan relay siaran dari Tempo TV yang merekam pementasan opera Teater Salihara 18-20 Oktober 2010 lalu. Selama ini KSTV dan Tempo TV telah menjalin kerjasama untuk mengisi kekosongan program KSTV. “Program Tempo TV terutama tentang pengetahuan banyak diminati pemirsa kami,” kata Mufti Ali saat ditemui di kantornya Kompleks Ruko Hayam Wuruk Kediri, Selasa (11/1).

    Sebagai penanggungjawab siaran, Mufti Ali mengaku sangat tertarik dengan program tersebut. Selain memiliki nilai sejarah dan kesenian kuat, tokoh Tan Malaka sendiri cukup dekat dengan warga Kediri. Sebab, kabar terakhir tokoh sosialis yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional tersebut dimakamkan di lereng Gunung Wilis Kabupaten Kediri.

    Karena itu dalam rapat perencanaan program, KSTV memutuskan untuk menayangkan Opera Tan Malaka pada hari Minggu malam. Jam tersebut dianggap paling banyak menyedot perhatian pemirsa di Kediri. Rencananya siaran yang memakan waktu 120 menit itu akan dipotong menjadi beberapa episode untuk meningkatkan respons pemirsa.

    Namun belum sempat tayangan itu diedit bagian produksi, tiba-tiba Direksi KSTV menghubungi Mufti Ali. Dia diminta tidak menayangkan opera tersebut karena akan menimbulkan persoalan di masyarakat. “Direksi juga bilang kalau Komandan Kodim akan datang ke studio,” katanya.

    Belum hilang keterkejutan Mufti Ali atas keputusan Direksi, esok harinya, Kamis (6/1), Komandan Kodim 0809 Kediri Letnan Kolonel Infanteri Bambang Sudarmanto muncul di kantornya. Setelah berbasa-basi sejenak, Bambang meminta Ali untuk tidak menayangkan opera tersebut.

    Kepada Ali, Bambang mengatakan jika tayangan itu akan menimbulkan reaksi dari masyarakat dan kelompok agama. Salah satunya adalah kemunculan bendera Partai Komunis Indonesia pada salah satu adegan opera.

    Atas permintaan tersebut, saat itu juga Mufti Ali menyatakan kesediaannya untuk mencoret Opera Tan Malaka dari daftar program. Pernyataan itu disampaikan Mufti di depan Komandan Kodim dan sejumlah kru KSTV. "Saya langsung bisa membuat keputusan karena Direksi sudah melarang sehari sebelumnya," katanya.

    Sehari pasca kedatangan Komandan Kodim, Mufti mengaku menerima telepon dan SMS dari sejumlah orang. Sebagian dari mereka menanyakan rencana pemutaran opera tersebut. Sedangkan penelepon lainnya melarang KSTV memutarnya. Diantara yang melarang adalah seseorang yang mengaku dari kelompok Cinta Damai Kediri. “Saya juga heran darimana mereka tahu. Sebab kami juga tak pernah membuat promo,” kata Mufti yang masih belum mengerti atas reaksi yang berlebihan itu.

    Sayang Bambang Sudarmanto tak bisa dimintai penjelasan atas pelarangan tersebut. Ketika Tempo mencoba mendatangi markas Kodim 0809 di Jalan Ahmad Yani Kediri, petugas piket mengatakan Bambang tidak ada di tempat. Hal ini cukup ganjil mengingat beberapa saat sebelumnya Bambang terlihat turun dari kendaraannya menuju ruangan.

    HARI TRI WASONO
     


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.