Pameran Tunggal Maria Thomet  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran Potent Charm di Mon Decor Art Space di Jakarta. (TEMPO/Novi Kartika)

    Pameran Potent Charm di Mon Decor Art Space di Jakarta. (TEMPO/Novi Kartika)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Bagi Maria Thomet, pelukis wanita asal Jerman, warna memiliki banyak arti dalam kehidupannya. "Saya percaya, kekuatan sebuah warna dan keindahannya dapat memberi keseimbangan hidup," ujar Maria dalam katalog. Kecintaannya pada warna mempengaruhi corak dalam setiap karya lukisnya.


    Hingga 3 Agustus nanti, Maria Thomet mengadakan pameran tunggal di Mon Decor Art Space, Jakarta. Pameran tunggalnya tersebut mengambil judul Potent Charm.


    Seluruh karya lukisnya menggambarkan profil tentang seseorang. "Ketika saya menggambar wajah, saya harus tahu banyak tentang orang yang saya gambar itu," ujar Maria. Ia memilih subyeknya dengan cara yang sangat personal. Sehingga nampak jelas ekspresi yang terlihat dalam karya tersebut memperlihatkan keadaan hatinya pada saat itu.


    Seperti lukisannya yang berjudul Jubilant (2010). Maria menggambar Presiden Amerika Barack Obama beserta Michelle. Lukisan itu menggambarkan kegembiraan ketika pidato Obama mendapat sambutan hangat saat kampanye pemilihan presiden Amerika. Maria menangkap energi itu, lalu menuangkannya dalam kanvas. "Saya suka menggambar seseorang yang memberi imajinasi orang banyak," katanya.


    Pelukis yang kini menetap di Bali karena kecintaannya terhadap Pulau Dewata itu, memilih subyek gambar dengan caranya sendiri. Tak sembarang figur terkenal. Ia memilih orang-orang yang memberi inspirasi baginya.


    Lihat saja karyanya berjudul Anggun Inspired. Meski Maria mengakui tak menggambarnya dengan presisi yang tajam, lukisan itu lebih mengedepankan kesan semangat, berani dan bahkan melankolis.


    Bagaimanapun, Bali telah memberikan efek hipnotis bagi Maria. Tetapi kemudian ia menemui kekecewaan dengan kesan klise pada beberapa karya seni Bali kontemporer. Mulailah ia mempelajari karya lukis tradisional Bali dari 1994 hingga 1999, ketika ia tinggal di Ubud. Dan Maria terpikat melukis penari Legong.


    Bagi Maria, pemilihan warna menjadi proses yang sangat lama. Ia sangat menikmati itu. Bagaimana ia memikirkan warna yang cocok bagi karyanya. Lukisan berjudul Melati membutuhkan waktu satu pekan untuk memutuskan warna lilac, hitam dan emas yang dipakai.


    Karya tersebut dibandrol dengan harga terendah Rp 9 juta dan Rp 27 juta sebagai harga tertingginya. Kebanyakan lukisan yang dipajang adalah portrait figur seseorang yang menginspirasi Maria secara personal. Ia seolah ingin bercerita akan kekagumannya terhadap sosok-sosok itu.


    ISMI WAHID


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.