Ulasan CD: Cara Slash Menaikkan Kelas Rock

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Slash

    Slash

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Inilah dia Slash, muncul lagi dengan sebaris artis top maupun yang tak begitu terdengar di telinga orang kebanyakan. Formula yang tidak lagi baru? Memang. Tapi, buat yang percaya bahwa pikiran itu seperti parasut (yang hanya akan berfungsi dalam keadaan terbuka), beri album solo pertama mantan gitaris Guns N' Roses --band paling berbahaya sedunia (dulu) --ini kesempatan: dengarkan dengan seksama.

    Slash tentu berbeda dari Santana. Ini perlu dikemukakan jika ada yang menyodorkan fakta bahwa jalur album dengan segudang bintang tamu pernah ditempuh oleh gitaris yang mulai populer sejak ikut meramaian festival Woodstock pada 1969 itu.

    Santana waktu itu, di tahun 1999, memerlukan resep yang jitu untuk menggairahkan kembali kariernya yang sudah loyo pada 1990-an (dia bahkan sudah tanpa kontrak sama sekali). Dengan bantuan Clive Davis, produser yang pernah bekerja sama dengannya, dia menggandeng antara lain Rob Thomas (Matchbox Twenty), Eric Clapton, Lauryn Hill, Wyclef Jean, Cee-Lo, dan Dave Matthews. Dan dirilislah Supernatural, yang sukses besar --laku keras dan menggaet sembilan Grammy Awards.

    Lain halnya dengan Slash. Guns N' Roses memang sudah menjadi masa lalunya. Tapi kariernya tidak sedang terjun bebas. Setelah sempat merilis proyek Slash's Snakepit (dengan dua album), dia ikut mendirikan Velvet Revolver, band yang kini entah-bagaimana-nasibnya setelah Scott Weiland, vokalisnya, memutuskan hengkang. Ringkas kata: Slash masih punya waktu dan energi untuk melanjutkan suksesnya.

    Album solo ini, bagaimanapun, merupakan formula untuk itu. Kesannya memang bisa semata demi popularitas, sebab, terutama bagi penggemar die hard Guns N' Roses, bisa jadi ini bukan tandingan bagi apa yang sudah dicapai Slash bersama Axl Rose. Tapi bukankah bisa juga kita memandangnya semata sebagai satu cara bagi Slash untuk mengaudisi vokalis untuk proyek selanjutnya --semacam itulah. Bukankah sebagai ide Velvet Revolver pernah hampir dilupakan karena tak juga mendapatkan vokalis yang cocok?

    Atau, bisa juga begini: inilah cara Slash untuk mengelevasikan rock ke tataran arus utama --seperti penampilannya di ajang American Idol, misalnya.

    Slash jelas tak bisa dipandang semata sebagai seorang mantan Guns N' Roses. Dia lebih dari itu, dan album ini adalah buktinya. Di sini tampak bahwa dia tahu persis apa yang diinginkannya, apa yang dibutuhkannya untuk mencapai sesuatu sasaran. Kolaborasinya dalam penulisan lagu dengan si A, si B, atau si C, atau siapa pun yang terlibat, menghasilkan rangkaian nada dalam komposisi yang memikat, bersinar, gempal, dan irresistible --barangkali kecuali pada satu-dua lagu (misalnya Gotten, yang menampilkan Adam Levine dari Maroon 5). Di album ini, semua itu terasa bahkan sejak intro lagu pembuka, Ghost, yang menampilkan Ian Astbury (vokal) dan Izzy Stradlin (rhythm guitar).

    Myles Kennedy, frontman Alter Bridge yang pernah didesas-desuskan akan dipilih untuk menggantikan Robert Plant dalam reuni lanjutan Led Zeppellin, menyumbangkan vokalnya di dua lagu, Back from Cali dan Starlight. Semuanya berjajar setataran dengan nomor-nomor yang menampilkan jago-jago tua Ozzy Osbourne, Iggy Pop, Lemmy Kilmister, dan Alice Cooper. Atau bintang baru seperti Andrew Stockdale (dari kelompok retro rock dari Australia, Wolfmother).

    Begitulah pula yang bisa dicapai oleh Fergie. Ini sebuah kejutan yang menyenangkan, terutama bagi mereka yang sulit membayangkan bahwa vokalis grup hip-hop Black Eyed Peas ini bakal sanggup menyanyi di alam yang, ya, rock. Dalam Beautiful Dangerous, dia bukan saja dia membuktikan bahwa dia punya potensi besar di wilayah ini, dia pun menjadikan lagu ini termasuk di antara nomor-nomor yang menonjol.

    Jika album ini hanya awal dari apa yang hendak diwujudkan lebih permanen oleh Slash, harus dibilang ini permulaan yang sangat menjanjikan.

    -- Purwanto Setiadi

    Slash

    Slash

    Hayd Records, 2009


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.