Pergumulan Sinta Menjahit Tanah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Salah satu adegan wayang tanah dengan lakon 'Sinta (Jahitan Tanah)' oleh dalang Slamet Gundono, di Padepokan Lemah Putih Mojosongo, Karanganyar (25/3). TEMPO/Andry Prasetyo

    Salah satu adegan wayang tanah dengan lakon 'Sinta (Jahitan Tanah)' oleh dalang Slamet Gundono, di Padepokan Lemah Putih Mojosongo, Karanganyar (25/3). TEMPO/Andry Prasetyo

    TEMPO Interaktif,   Di Padepokan Lemah Putih, Mojosongo, Surakarta, Jawa Tengah, Dewi Sinta bergumul di dalam lumpur. Penari Liling asal Kalimantan, yang memerankan Sinta, tampak menari dan bergumul dengan lumpur di sebuah ceruk di area panggung wayang tanah dengan lakon Sinta (Jahitan Tanah) pada Rabu malam pekan lalu. Liling dan penari lainnya--Suprapto Suryodarmo dan Agus Bendol--menjadi bagian dari pertunjukan eksperimental dalang Slamet Gundono dari Komunitas Wayang Suket.

    Setelah wayang suket, wayang air, dan wayang api, kali ini Slamet mementaskan wayang tanah. Boleh dibilang, ini sebuah pementasan yang tak lazim. Dalang 44 tahun itu menggali lubang berbentuk kotak 5 x 5 meter dengan kedalaman 1,5 meter di area Padepokan Lemah Putih sebagai tempat pementasannya. Tanah di dasar lubang dibiarkan basah atau sengaja dibasahi agar tercipta sinergi antara pemain wayang dan media tanah. Adapun para penonton berdiri meriung di atas tepian lubang galian itu.

    Diiringi gamelan Dedek Wahyudi dan kawan-kawan, Slamet menggelar wayang tanah di lubang galian itu. Seperti pola pertunjukan wayang suket, air, dan api, kali ini Slamet juga menggabungkan narasi wayang dengan teater. Dalang Slamet bertutur menyampaikan narasi ceritanya. Pada saat yang sama, para penari bergerak, seperti tengah bergumul dengan tanah. Liling, sebagai Sinta, misalnya, melakukan gerakan-gerakan di atas tanah. Sekujur tubuhnya dilumuri tanah. Bersama penari lainnya, Liling melempar tanah ke segala arah.

    Adapun sang dalang dengan spontan membentuk tokoh-tokoh wayang, seperti Sinta, Rahwana, dan Kumbakarna, dengan tanah lempung. Slamet kemudian memainkan wayang-wayang buatannya itu seperti memainkan sebuah boneka. Menurut Slamet, pemilihan tanah sebagai medium pementasannya dilakukan karena tanah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. "Dari anak-anak hingga orang tua, laki-laki dan perempuan, rakyat sampai pejabat, semuanya menginjak tanah," katanya. "Tanah juga dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi atau publik."

    Lakon Sinta (Jahitan Tanah) dipilih juga karena dilatarbelakangi oleh filosofi tanah. Dalam dunia pewayangan, tokoh Sinta adalah titisan Dewi Widowati, dewi kesuburan. Sinta seorang tokoh yang memiliki unsur-unsur kesuburan seperti halnya sifat tanah. Berangkat dari sinilah Slamet kemudian membuat tafsir dan mementaskannya dalam bentuk wayang tanah.

    Sinta (Jahitan Tanah) berkisah tentang empat tokoh di negeri Alengka yang sama-sama terikat dengan tanah dan memiliki beragam kepentingan. Rahwana, yang secara membabi buta mengeksploitasi tanah, tak peduli tanah merintih kesakitan karena dirusak. Kumbakarna sosok yang melindungi tanah. Lalu Sarpakenaka raksasa perempuan yang mempunyai nafsu terhadap tanah yang tak habis-habisnya. Terakhir, Gunawan Wibisana pemelihara tanah yang tak tahan dengan kelakuan ketiga saudaranya itu.

    Alkisah, akibat ulah ketiga saudara Wibisana--Rahwana, Kumbakarna, dan Sarpakenaka--tanah Alengka rusak parah. Untuk memperbaiki kerusakan itu, Rahwana dan saudara-saudaranya kemudian menculik Dewi Sinta. Mereka berkeyakinan Sinta dapat memperbaiki dan membuat tanah Alengka kembali subur dan bermanfaat untuk semua. Sosok Sinta digambarkan memiliki kesamaan dengan sifat tanah. Ibarat seorang wanita, tanah menjadi tempat menyemai benih, memberikan keturunan, dan perlu dijaga demi kelangsungan kehidupan.

    Sayangnya, dalam lakon yang disuguhkan dalang Slamet, Sinta gagal memperbaiki kerusakan tanah Alengka. Sinta hanya mampu menjahit retakan-retakan tanah. Adegan menjahit digambarkan Slamet ketika Sinta berinteraksi dengan tokoh-tokoh lainnya. Mereka bersinggungan, bersentuhan satu sama lain. Lumuran tanah yang memenuhi sekujur tubuh mereka menjadi pertanda bahwa Sinta dipaksa menyuburkan tanah Alengka.

    Tapi segala upaya yang memaksa itu tetap tak berhasil, karena kerusakan tanah sudah sangat parah. Ya, Sinta hanya mampu menjahit retakan-retakan. "Namanya jahitan tanah, pasti cepat rusak dan jahitannya gampang terlepas," ujar Slamet menjelaskan.

    Meski begitu, Slamet tak ingin membuat kisah itu berakhir sedih. Di akhir pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam itu, Slamet memasukkan sekelompok petani dari lereng Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Mereka berpakaian hitam-hitam. Para petani itu mencangkul tanah dan menutup lubang galian yang menjadi area pertunjukan. Mereka menimbun lubang itu dan kemudian menanaminya dengan aneka tanaman.

    Menurut Slamet, adegan penutup itu merupakan bentuk kesadaran manusia untuk kembali merawat tanah yang rusak parah. "Selalu ada harapan untuk kebaikan," kata Slamet menjelaskan makna adegan tersebut.

    Slamet menyatakan kisah dalam pewayangan yang dipentaskannya itu juga terjadi di dunia nyata. Perilaku keempat tokoh pewayangan itu juga ada di kehidupan kita di Indonesia saat ini. Di Tanah Air, sudah berapa banyak tanah yang rusak dan berlubang karena dieksploitasi dengan semena-mena untuk mencari kekayaan yang terkandung di dalamnya: emas, batu bara, kayu, minyak, dan barang tambang lainnya. Atau, berapa banyak tanah yang semestinya menjadi penyimpan air dan penyeimbang lingkungan diubah menjadi rumah, pabrik, dan pusat belanja.

    Perilaku mengeksploitasi tanah itu, menurut Slamet, mirip apa yang dilakukan oleh Rahwana. Perilaku keempat tokoh pewayangan itu juga ada di Indonesia. "Kisah ini merupakan refleksi dari apa yang terjadi di Indonesia selama ini,” katanya.

    Meski begitu, Slamet menambahkan, dalam pertunjukan wayang tanahnya itu ia mengajak kita semua tetap optimistis bisa memperbaiki kerusakan tanah yang parah tersebut. "Kita harus yakin bahwa tanah-tanah itu bisa kembali seperti semula. Kembali memberikan manfaat bagi seluruh manusia," ujarnya. "Tinggal kita berusaha seperti yang dilakukan para petani Pegunungan Kendeng."

    Ukky Primartantyo 


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    7 Tips Agar Lebih Mudah Bangun Sahur Selama Ramadan

    Salah satu tantangan selama puasa Ramadan adalah bangun dini hari untuk makan sahur.