Novel Danum, Gundah Masyarakat Adat Vs Perusahaan Sawit Berbalut Kisah Kasih

Reporter

Editor

Rini Kustiani

Novel Danum. Dok Pribadi

TEMPO.CO, Jakarta - Tak banyak karya sastra, novel misalkan, yang menelusuri kehidupan masyarakat Kalimantan, terutama yang hidup di pelosok. Sastra Indonesia sudah cukup lama "berkutat" pada pulau Jawa dan Sumatera.

Jumlah karya sastra yang muncul dari daerah lain, bercerita tentang masyarakat lokal, anggaplah misalnya yang bermukim di Kalimantan, Sulawesi, Papua, bukan tidak ada. Hanya saja, jumlahnya masih begitu sedikit dari seharusnya, sehingga pengetahuan mengenai kondisi masyarakat tersebut dalam ranah sastra menjadi terbatas.
Danum berusaha menutupi bagian yang kurang tadi.

Danum merupakan novel yang berkisah tentang masyarakat Uud Danum di pelosok Kalimantan Barat. Novel ini berporos pada tiga tokoh, yakni Aloisius Santo, Nadi, dan Benediktus.

Aloisius Santo merupakan intelektual kampung yang terlalu lama berada di kota. Dia berusaha mengabdi pada kampung dengan menyelamatkan permukiman desa dan hutan sekitarnya dari perusahaan sawit. Benediktus adalah adik dari Aloisius Santo. Benediktus tidak bersekolah tinggi sebagaimana abangnya. Dia gambaran masyarakat desa sederhana yang tujuan hidupnya hanya berkisar pada keluarga dan cari duit. Hal ini juga yang menjadi motivasinya untuk menanam sawit.

Sementara Nadi, seorang peneliti sastra lisan dan budaya. Keberadaannya di Desa Sakai didorong perasaan kasihnya kepada gadis desa, Puhtir. Puhtir adalah cucu dari dukun adat. Puhtir memiliki kemampuan untuk melantunkan sastra lisan yang sudah nyaris punah saat ini. Dia juga masih menganut kepercayaan Kaharingan, kepercayaan kuno masyarakat Uud Danum.

Sebagian cerita dalam novel Danum berdasarkan kisah nyata, terutama persoalan konsesi sawit yang dihadapi oleh masyarakat. Namun tidak serta merta novel ini hanya berkutat pada konflik agraria. Lebih tepat jika dikatakan Danum berusaha menyampaikan kondisi masyarakat adat dan desa saat ini, degradasi identitas hingga perubahan yang dimungkinkan oleh berbagai faktor. Sawit hanya merupakan satu di antara faktor pemantik perubahan tersebut.

Mempertahankan hutan di negara ini sudah nyaris sama rumitnya dengan usaha seekor ikan untuk menjadi hewan darat. Banyak yang mulai berpikir bahwa Tuhan lepas tangan jika sudah bicara perkara lahan. -Santo

Kematian seorang tua, sama artinya punahnya sebuah perpustakaan. Siapa kini yang bisa melantunkan Kolimoi dan Tahtum? Kematian Nek Ga juga menjadi kematian identitas kampung ini. –Nadi

Aku memang hanya orang kecil, yang hidup di kampung kecil, dan hanya mampu melakukan tindakan-tindakan kecil. Tetapi aku berhak memilih untuk berjiwa besar. –Benediktus

Penulis Danum, Abroorza A. Yusra telah lama berkutat dengan masyarakat adat dan pelosok di Kalimantan Barat. Pria lulusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran ini aktif dalam bidang budaya, sastra, dan konservasi lingkungan di Kalimantan Barat.

Danum merupakan novel pertamanya yang dibukukan. Sebelumnya, dia pernah menulis esai dan apresiasi sastra, yang sebagian telah diterbitkan dalam buku Kita Kata Kata Kita (2018). Sehari-hari, Abroorza menghabiskan waktu untuk menulis isu dan program konservasi lingkungan yang dibukukan oleh yayasan lingkungan tempat dia beraktivitas. Pria kelahiran 1987 ini sekarang bermukim di Singkawang, Kalimantan Barat.

Penulis Novel Danum Abroorza A. Yusra. Dok Pribadi

Novel Danum

Judul: Danum
Penulis: Abroorza A. Yusra
Penerbit: Enggang Media, Pontianak
Cetakan I: Februari 2021
Halaman: iv + 477 hlm
Ukuran: 14 x 21 cm
ISBN: 978-623-7132-30-1

Baca juga:
7 Drama Asia Baru Ini Hasil Adaptasi Novel dan Komik, Mana Favorit Anda?






Pengesahan RKUHP Diminta Ditunda, Ini 12 Hal yang Dipersoalkan

2 hari lalu

Pengesahan RKUHP Diminta Ditunda, Ini 12 Hal yang Dipersoalkan

DPR dan pemerintah hari ini berencana mengesahkan RKUHP. Aliansi masyarkat sipil menilai masih banyak pasal yang mengekang kebebasan berekspresi.


Tolak Pengesahan RKUHP, Demonstran Bawa Bunga Karangan ke DPR

3 hari lalu

Tolak Pengesahan RKUHP, Demonstran Bawa Bunga Karangan ke DPR

Mereka turut menaburkan bunga di depan gedung DPR sebagai bagian dari aksi simbolik atas kekecewaan mereka terhadap RKUHP.


Peluncuran 7 Novel NAD Academy, Wujud Nyata Literasi dari Hulu ke Hilir

21 hari lalu

Peluncuran 7 Novel NAD Academy, Wujud Nyata Literasi dari Hulu ke Hilir

Bicara soal literasi, komunitas Nulis Aja Dulu sudah memiliki modal utama yang menginspirasi banyak orang dan memenuhi kriteria dari hulu ke hilir.


Apa Itu Teknik Gaya Penulisan Epistolary? Dipakai Bram Stoker Ketika Menulis Novel Dracula

28 hari lalu

Apa Itu Teknik Gaya Penulisan Epistolary? Dipakai Bram Stoker Ketika Menulis Novel Dracula

Ada salah satu cara menarik dalam membuat novel. Cara ini gaya penulisan epistolary yang akan memberikan pengembangan karakter yang mendalam.


REDD+ di Kalimantan Timur, Indonesia Terima Pembayaran Pertama Rp 327 Miliar

28 hari lalu

REDD+ di Kalimantan Timur, Indonesia Terima Pembayaran Pertama Rp 327 Miliar

Indonesia menerima pembayaran pertama dari Bank Dunia atas kesepakatan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) di Kaltim.


Festival Sastra Yogyakarta Sampai Akhir Pekan Ini, Catat 7 Lokasi Gelarannya

30 hari lalu

Festival Sastra Yogyakarta Sampai Akhir Pekan Ini, Catat 7 Lokasi Gelarannya

Festival Sastra 2022 menjadi sebuah perayaan menyambut kembali pertemuan antar warga sastra di Kota Yogyakarta.


Guru Besar Emeritus Unpad Partini Sardjono Berpulang

37 hari lalu

Guru Besar Emeritus Unpad Partini Sardjono Berpulang

Partini Sardjono yang merupakan Guru Besar Emeritus pada Fakultas Ilmu Budaya Unpad meninggal pada usia 90 tahun di rumahnya di Bandung, Jawa Barat.


Ketua Damannas Tegaskan Perbedaan Masyarakat Adat dengan Kerajaan/Kesultanan

41 hari lalu

Ketua Damannas Tegaskan Perbedaan Masyarakat Adat dengan Kerajaan/Kesultanan

Golongan kerajaan dan kesultanan sedang berupaya memiliki undang-undang sendiri dalam NKRI.


Berharap Dukungan Publik dan Media untuk Masyarakat Adat

41 hari lalu

Berharap Dukungan Publik dan Media untuk Masyarakat Adat

Peran media massa dan media sosial dinilai sangat penting bagi perjuangan hak-hak masyarakat adat.


Pembukaan KMAN VI Diramaikan Ratusan Penari Pelajar

44 hari lalu

Pembukaan KMAN VI Diramaikan Ratusan Penari Pelajar

Tari kolosal ini banyak menceritakan kehidupan masyarakat di negeri matahari terbit, di danau, pantai, sungai, kali, lembah dan rawa.