Bom Tawa dari Puisi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, riuh pada Kamis malam lalu. Tawa meledak, nyaris tanpa sela, ketika bait-bait puisi dibacakan selama sekitar tiga jam. Malam itu digelar Real Estate Indonesia Peduli Seni bertajuk Parade Seni Humor Merdeka. Ini merupakan kerja sama antara Real Estate Indonesia dan seniman untuk memperingati hari ulang tahun ke-61 kemerdekaan Indonesia. Acara pembacaan puisi ini tidak hanya dilakukan para seniman, tapi juga melibatkan pejabat, politikus, dan pengusaha. Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf As'yari; juru bicara presiden, Andi Mallarangeng; dan Ketua Umum Real Estate Indonesia Lukman Purnomo Sidi, misalnya, bukan didapuk untuk berpidato, melainkan membaca puisi humor. Jangan salah, tak ada kecanggungan dalam diri mereka. Menteri Yusuf memang menyukai puisi. Sedangkan Lukman mengaku stres malam sebelumnya karena harus menyiapkan puisi yang akan dibaca. Toh, ia sukses membawakan puisi karyanya yang berjudul Rumah Indonesiaku. Sementara itu, Andi Mallarangeng tanpa grogi membacakan dua puisi karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Salah satunya berjudul Caleg Partai Sukar Maju, yang bercerita tentang seorang kader partai yang bermimpi menjadi orang penting di negeri ini. Namun, massa di alun-alun tak peduli ketika Badu, kader partai itu, sedang berkampanye. Mereka hanya menunggu penyanyi dangdut seksi yang memeriahkan acara kampanye itu. Ide pergelaran ini tercetus dari obrolan antara pengusaha properti, yang tergabung dalam Real Estate Indonesia, dan para seniman. Awalnya obrolan kecil dilakukan A. Slamet Widodo, Lukman, artis Ikang Fauzi, pelawak Basuki, serta sutradara dan penyair Jose Rizal Manua. Lalu obrolan itu pun dimatangkan dan tercetuslah Parade Seni Humor Merdeka. Anggota Real Estate Indonesia tak sedikit yang gemar berkesenian. Bukan hanya Ikang Fauzi yang memang mengawali karier sebagai penyanyi, Slamet Widodo juga terkenal dengan syair-syairnya yang kocak. Puisi berbahasa gaulnya berjudul Apakah Doa Kita Diterima yang dibacakan penyair W.S. Rendra sempat memukau penonton Kenduri Sastra di Center Cultural Ledeng dua bulan lalu. Dalam parade itu, Slamet membawakan sendiri karyanya yang berjudul Kentut. Puisi ini sedang dalam proses pembuatan menjadi buku ketiganya. Penonton terpingkal-pingkal ketika Kentut dibacakan. Puisi ini memang kocak, meski ada bagian yang cenderung jorok. Simak saja cuplikannya: ...orang homo paling benci kentut//karena lubang kentut sama dengan lubang sodomi. Beberapa puisi Slamet lainnya juga dibacakan seniman lain malam itu. Unsur jorok masih melekat di dalamnya. Lihat saja puisi yang dibacakan artis Tabah Panemuan berikut: Jinak-jinak burung merpati/Masih jinak burung lelaki/Burung merpati dipegang lari/Burung lelaki dipegang malah berdiri//Jinak-jinak burung merpati/Lebih jinak burung lelaki/Burung merpati digepit mati/Burung lelaki dijepit katanya geli. Kontan saja tawa menggema. Padahal tak sedikit dari penonton itu pelajar taman kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Demikian pula ketika puisi Slamet lainnya yang berjudul Perawan dibacakan pelawak Basuki. Bom tawa kian meledak. Selain menampilkan puisi, Jose Rizal Manua mengusung Teater Tanah Airnya dalam parade itu. Ia menampilkan WOW, sebuah tontonan visual yang meraih medali emas dalam festival teater anak 2006 di Lingen, Jerman, beberapa waktu lalu. Selain itu, sebuah band remaja, Bima 9 Band, turut memeriahkan acara. retno sulistyowati

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.