#BuyOutSlavery, Kampanye Perbudakan Terinspirasi Serial TV  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kampanye antiperbudakan  lembaga Not For Sale bekerja sama dengan History dan CNN Freedom Project. dok. History

    Kampanye antiperbudakan lembaga Not For Sale bekerja sama dengan History dan CNN Freedom Project. dok. History

    TEMPO.CO, Jakarta - Not for Sale, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat,  bekerja sama dengan HISTORY Asia dan CNN Freedom Project, meluncurkan kampanye #BuyOutSlavery.

    Dibuat untuk meningkatkan kesadaran tentang perbudakan modern melalui gerakan sosial online di Singapura dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara, kampanye akan dipromosikan di seluruh situs e-commerce paling populer di Asia Tenggara, sejak Kamis, 19 Mei 2016 hingga dua pekan ke depan. Brand dari Indonesia yang turut berpartisipasi adalah Batik Fractal (batikfractal.com), Holigoli (holigoli.com).

    Menurut David Batstone, Pendiri dan Presiden Not For Sale, kampanye ini terinspirasi program acara Roots. Roots yang akan ditayangkan untuk pertama kalinya di Indonesia lewat stasiun televisi berbayar History Asia pada 31 Mei 2016 pukul 21.00 ini dibuat berdasarkan novel karya Alex Haley pada 1976.

    Tayangan yang serial orisinalnya ditayangkan di Amerika Serikat dan seluruh dunia pada 1977 ini menyuguhkan kisah multifaset emosional tentang kemenangan semangat manusia,  identitas, keluarga, martabat dan keberanian yang dilihat melalui lensa Amerika era-perbudakan.

    Roots mengisahkan perjalanan sebuah keluarga yang bertahan hidup setelah melewati penderitaan panjang.  "Perbudakan dalam terminologi sejarah tersebut sudah tidak ada lagi. Namun perbudakan zaman modern sangat banyak di seluruh pelosok dunia," kata David  dalam keterangan tertulis, Senin, 23 Mei 2016.

    Perbudakan, menurut David,  adalah hal buruk yang terus tumbuh dalam kemanusiaan yang harus diberantas. Ada lebih dari 30 juta budak di dunia saat ini, jumlah tertinggi dalam sejarah umat manusia. Laki-laki, perempuan maupun anak-anak dijual di industri yang menghasilkan 150 milyar dolar AS ini, di mana mereka dieksploitasi untuk seks dan sebagai buruh.

    Perbudakan hadir di hampir setiap rantai pasokan dalam setiap industri saat ini termasuk makanan, elektronik, kendaraan, dan manufaktur pakaian. "Membangun kesadaran terhadap masalah mengerikan ini adalah langkah pertama dalam menaklukkannya," kata David.

    Kampanye #BuyOutSlavery bertujuan menyoroti penderitaan orang-orang yang diperbudak saat ini dan membuka mata para pembelanja di seluruh Asia terhadap realita dan prevalensi perbudakan modern. Ketika berbelanja di situs-situs yang ikut berpartisipasi, konsumen akan didorong untuk berkontribusi membebaskan budak zaman modern dengan memberikan sumbangan ke Not For Sale dan menunjukkan aksi mereka secara online.

    Semua dana yang terkumpul untuk mendukung Not For Sale dalam upaya memberikan tempat tinggal dan stabilitas, pendidikan, perawatan kesehatan, pelayanan hukum dan peluang ekonomi bagi mereka yang selamat dari perbudakan dan masyarakat yang berisiko mengalaminya.

    "Kami sangat senang bahwa melalui serangkaian terobosan kami, Roots, kami telah ikut membantu membangun dan berpartisipasi dalam kampanye yang difokuskan untuk mendorong perubahan positif,"kata Prem Kamath, Wakil Direktur Pelaksana A+E Networks Asia, distributor serial mini delapan jam ini.

    Tony Maddox, Wakil Presiden Eksekutif dan Direktur Pelaksana CNN International menjelaskan CNN Freedom Project bertujuan  menyoroti kengerian perbudakan modern dan para pejuang yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk mengakhiri perbudakan. "Kami senang mendukung kampanye ini untuk membangun kesadaran lebih besar terhadap masalah kritis ini bagi jutaan orang di Asia maupun seluruh dunia," kata Tony Maddox.

    NUNUY NURHAYATI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.