Baca Puisi di Fort Rotterdam Ditonton Turis Inggris

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembacaan dan musikalisasi puisi dalam Borobudur Writer Festival 2012, kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (30/10). TEMPO/Suryo Wibowo

    Pembacaan dan musikalisasi puisi dalam Borobudur Writer Festival 2012, kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (30/10). TEMPO/Suryo Wibowo

    TEMPO.CO , Makassar:
    “Mereka lebih teratur daripada hukum.
    Mereka lebih kuat daripada perasaan orang-orang kota.
    Mereka setia dan tidak pernah memilih kepada siapa mereka ingin tersenyum.
    Mereka tidak ingin terlalu terang...”

    (kepada Eka Wulandari—dari M. Aan Mansyur)

    Wajah Eka Wulandari tampak samar-samar ditimpa cahaya lampu temaram. Ekbess, sapaan akrabnya, sedang membacakan puisi berjudul Mengamati Lampu Jalan dan Jendela Perpustakaan. Ia bersama lima penampil lain membacakan puisi-puisi M. Aan Mansyur dalam acara Menyimak Puisi dan Musik Bekerja, di Fort Rotterdam, Sabtu malam lalu.

    Ekbess membacakan dua puisi Aan dari buku Melihat Api Bekerja. Penampil lain adalah Anwar Jimpe Rachman, Ibnu Sina Palogai alias Ibe S. Palogai, Akbar Zakaria, Zuhair Burhan, dan Bryan Whalen.

    Bryan tampil dengan cara yang sedikit berbeda. Ia membacakan puisi dengan bahasa Inggris. Tak sekadar membaca puisi, dia menceritakan pengalamannya selama tujuh bulan tinggal di Makassar, terutama saat berkunjung ke Pulau Samalona—salah satu pulau yang masuk gugusan Spermonde.

    Para penampil tak hanya membacakan puisi. Malam itu dua band menghibur penonton dengan menyanyikan puisi. Kapal Udara membawakan tiga lagu dan Ruang Baca tampil menyanyikan empat puisi. Ruang Baca sendiri adalah salah satu proyek dari Kata Kerja—perpustakaan komunitas yang didirikan dan dikelola Aan dan kawan-kawannya.

    Musikalisasi puisi ini adalah cara lain membaca puisi dengan memakai bahan puisi sebagai lagu. Jadi seperti menyanyikan puisi. Menyanyikan bait-bait puisi, kata Runi Virnita Mamonto, sangat asyik, karena kata-kata dari puisi dalam dan tegas. “Puisi dan musik adalah kolaborasi yang akan menghasilkan sihir,” ujar vokalis Ruang Baca ini. Dua puisi yang dinyanyikan Runi adalah Diam-diam karya Ibe S. Palogai dan Terbangnya Burung karya Sapardi Djoko Damono.

    Penampil membacakan dan menyanyikan puisi di atas panggung yang tidak terlalu besar. Ornamen-ornamen tampak cantik dibaluri dengan warna-warna cerah. Ada lampion, pohon kering yang dihiasi bunga-bunga sakura, ada juga umbul-umbul yang dipasang melintang di atas panggung dan di setiap sudut yang dirasa perlu. Ada sebuah pagar kayu dengan ukuran kecil berdiri tegak bagai penjaga di sisi kiri dan kanan panggung. Semuanya merupakan buatan tangan atau handmade.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.