Ahmad Tohari: Srintil-Srintil Masih Dialami Perempuan

Reporter

Editor

Ahmad Tohari,1986.(TEMPO/Anizar M. Jasmine)

TEMPO Interaktif, Boja - Keberadaan ronggeng di Dukuh Paruk pada masa 1960-an menjadi fenomena sosial. Ronggeng dipuja-puja dan diinginkan, namun di satu sisi harus mengalami malam buka kelambu saat calon ronggeng mempertaruhkan keperawanannya.

Demikian disampaikan sastrawan Ahmad Tohari, penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, dalam diskusi "Di Balik Ronggeng Dukuh Paruk" di Pondok Maos Guyub Bebengan, Boja, Kendal, Jawa Tengah, Minggu, 22 Mei 2011. Tohari, yang malam itu mengenakan baju batik bermotif cokelat, menegaskan, "Dengan menulis ronggeng, saya ingin membela perempuan. Perempuan masih tertindas dari dulu hingga sekarang," ujar lelaki yang akrab dipanggil Kang Tohari ini.

Dalam acara "Parade Obrolan Sastra IV" oleh Komunitas Lerengmedini dan milis Apresiasi Sastra ini, suami dari Hj. Syamsiyah ini bercerita seputar proses kreatif di balik novelnya. Tokoh ronggeng dipilih, menurutnya, karena kondisi negara saat itu masih belum berpihak pada sosok perempuan. Model tokohnya, Srintil, bersumber dari kehidupan ronggeng di daerah Ciparuk, Banyumas.

Tohari, yang saat itu masih remaja, mengaku tak bisa membayangkan bagaimana keperawanan seorang perempuan harus dipertaruhkan demi menjadi seorang ronggeng, yang katanya direstui oleh arwah Ki Secamenggala, tokoh yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat. "Ini menusuk rasa kemanusiaan terutama pada sosok perempuan," katanya.

Menurut Tohari, kondisi semacam Srintil sampai saat ini masih dialami oleh sebagian perempuan di Indonesia. "Ini menunjukkan bahwa di kebudayaan kita ada masalah seperti ini. Masih ada srintil-srintil lagi," ujar pengarang yang mengaku menulis novel ini karena terinspirasi dari Fortilla Flatt karya John Steinbeck.

Novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri atas Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Terbit kali pertama pada tahun 1980 oleh Penerbit Gramedia Pustaka setelah 15 tahun mengendap di benak Tohari sejak duduk di bangku SMA. Pada saat di bangku SMA itu, ia merasa apa yang dipikirkannya akan bisa ditulis oleh sastrawan yang lebih senior saat itu, seperti Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, dan W.S. Rendra. "Tetapi, ternyata tidak. Bahkan, sampai saya menunggu 15 tahun sejak tahun 1965," ujar penulis novel Bekisar Merah itu.

Dalam acara yang dipandu Esther Mahanani, pegiat kelompok baca sastra Lerengmedini, itu Tohari bertutur bahwa saat itu dirinya merasakan kepedihan akan rasa kemanusiaan yang mendalam. Peristiwa setelah upaya pemberontakan Partai Komunis Indonesia tahun 1965 itu benar-benar membuatnya kaget. "Bagaimana tidak, sebagian peristiwa pembantaian manusia terjadi di depan mata saya," ujar pengarang kelahiran Banyumas ini.

Hal itu membuatnya gelisah dan bertekad untuk merekam dan mencatatnya. "Celakanya, tak ada wartawan pada waktu itu yang berani menulis soal eksekusi orang-orang itu. Sebab, jika berani akan beradapan dengan militer," tuturnya.

Ronggeng Dukuh Paruk saat ini sudah terbit dalam lima bahasa, yaitu bahasa Inggris, Jerman, Belanda, Cina, dan sedang dalam proses penerjemahan ke bahasa Prancis.

Dalam acara itu juga disuguhkan demonstrasi kelompok baca Ronggeng Dukuh Paruk dengan pemandu demonstrasi, Nurdin, Kepala Sekolah SMK PGRI 03 Boja. Tujuh peserta kelompok itu membaca novel tersebut secara bergiliran.

Koordinator Komunitas Lerengmedini, Heri CS, menyatakan Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu sastra klasik yang dimiliki oleh kesusastraan Indonesia. Dengan mengundang penulisnya langsung, masyarakat akan lebih tahu secara mendalam bagaimana sebuah karya klasik dihasilkan. "Semoga pengalaman penulis mampu menginspirasi," katanya.

ROFIUDDIN






Cerita di Balik Hari Sejarah Nasional Setiap 14 Desember

52 hari lalu

Cerita di Balik Hari Sejarah Nasional Setiap 14 Desember

14 Desember sebagai Hari Sejarah Nasional merujuk pada tanggal dimulainya Seminar Sejarah Nasional 1957 di Yogyakarta.


Mas Dhito Gelar Seminar Kebangsaan untuk Milenial

15 November 2022

Mas Dhito Gelar Seminar Kebangsaan untuk Milenial

Pemkab Kediri berupaya menyiapkan kaum milenial siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.


Seminar Huawei di SUTD Hubungkan Talenta Digital ASEAN dan Singapura

4 September 2022

Seminar Huawei di SUTD Hubungkan Talenta Digital ASEAN dan Singapura

Seminar Huawei itu bertujuan membantu peserta mempelajari pengembangan karir di masa depan di bidang teknologi, serta mendorong kewirausahaan.


Anies Baswedan Bicara Integrasi Nasional di Seminar APPSI Bengkulu

20 Juni 2022

Anies Baswedan Bicara Integrasi Nasional di Seminar APPSI Bengkulu

Anies Baswedan membuka acara Seminar Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia di Gedung Raya Semarak, Bengkulu.


IoT Creation 2022 Cari 100 Solusi Karya Anak Negeri

12 April 2022

IoT Creation 2022 Cari 100 Solusi Karya Anak Negeri

IoT secara khusus akan menyelesaikan masalah yang spesifik, bukan solusi yang umum secara keseluruhan.


Beredar Perkom KPK Soal Perjalanan Dinas, Kini Biaya Ditanggung Penyelenggara

8 Agustus 2021

Beredar Perkom KPK Soal Perjalanan Dinas, Kini Biaya Ditanggung Penyelenggara

Pada revisi perkom KPK Nomor 6 Tahun 2021 tentang Perjalanan Dinas yang beredar ada sejumlah perubahan penanggung biaya perjalanan dinas


Bangun Hubungan Perdagangan, KBRI Manila Buat Seminar Daring

28 Juli 2021

Bangun Hubungan Perdagangan, KBRI Manila Buat Seminar Daring

KBRI Manila mencoba memperkuat hubungan bidang ekonomi dan perdagangan dengan Filipina dengan membuat seminar online.


Era New Normal, Webinar Berbayar Semakin Laris Manis

17 Juni 2020

Era New Normal, Webinar Berbayar Semakin Laris Manis

Masyarakat semakin rajin ikut seminar virtual alias webinar. Banyak orang yang semakin tidak masalah merogoh kocek lebih demi ikut webinar.


IPB Gelar Seminar Hasil Ekspedisi Batas Negeri

24 Februari 2020

IPB Gelar Seminar Hasil Ekspedisi Batas Negeri

Ekspedisi Batas Negeri merupakan program eksplorasi keanekaragaman hayati dan sosial budaya wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar di Indonesia oleh Uni Konservasi Fauna Institut Pertanian Bogor yang bekerjasama dengan TNI AL


Potensi Kerja Sama Baru Indonesia - Rusia

20 Februari 2020

Potensi Kerja Sama Baru Indonesia - Rusia

Meski hubungan diplomatik Indonesia - Rusia sudah berusia 70 tahun, namun kerja sama masih banyak yang bisa dikembangkan.