Drupadi "Mampir" di Makassar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Riri Riza. Foto:TEMPO/Aryus P Soekarno

    Riri Riza. Foto:TEMPO/Aryus P Soekarno

    TEMPO Interaktif, Makassar -"Aku bersumpah, demi langit dan bumi, demi harkatku sebagai putri agni. Aku tak akan mengikat rambutku sebelum mencucinya dengan darah Dursasana." Sumpah Drupadi, yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, kepada para dewa membuka pemutaran film dokumenter Drupadi di Studio Graha Pena, Februari lalu. Saat itu Riri Riza, sang sutradara film, bertandang ke Makassar mendirikan rumah budaya bernama Rumata' Art Makassar.

    Pada kesempatan tersebut, sutradara film Laskar Pelangi ini menampilkan film Drupadi, yang dibuat hanya untuk pemutaran di Jakarta International Film Festival pada 2008. Namun Makassar mendapat kesempatan kedua setelah Jakarta untuk menikmati karya Riri bersama Mira Lesmana dan beberapa artis terkenal lainnya.

    Film yang memadukan seni akting, musik, dan tari ini diangkat dari cuplikan kisah Mahabharata karya Empu Vyasa asal India. Jika lazimnya Mahabharata berkisah tentang perseteruan dua kelompok sepupu Pandawa dan Kurawa, film ini memilih sudut pandang Drupadi sebagai pusat dari seluruh cerita.

    Drupadi digambarkan sebagai putri Raja Panchala yang lahir dari agni (api) dan diturunkan ke dunia untuk mengakhiri satu babak kehidupan manusia. Drupadi digambarkan sebagai putri tercantik di seluruh jagat raya, sehingga semua kesatria dari seluruh penjuru ikut berlomba merebut hatinya. Akhirnya Drupadi menjadi istri salah seorang dari Pandawa.

    Dalam film tersebut, Yudhistira, yang diperankan oleh Dwi Sasono, digambarkan memiliki sifat senang bermain dadu dan mudah ditipu. Suatu waktu ia berjudi melawan keluarga Kurawa. Permainan dadu yang penuh muslihat dan pengaruh jahat dari patih Sengkuni, yang diperankan oleh Butet Kartaredjasa, dimenangkan keluarga Kurawa. Drupadi akhirnya turut dipertaruhkan oleh suaminya sendiri.

    Drupadi, yang dikenal cerdas dan berani, melawan saat dirinya dijadikan barang taruhan. Sumpah itu dijadikannya sebagai awal perlawanan. Konflik berpuncak pada perang Bharatayudha. Drupadi berhasil membebaskan para Pandawa yang juga menjadi bahan taruhan. "Kisah Drupadi masih menjadi persoalan masa kini," ujar Riri setelah menayangkan film berdurasi 40 menit itu. Pada kesempatan itu, ia mengajak pekerja seni di Makassar untuk dapat membuat film. "Saya membuat Rumata' agar kita tidak kekurangan infrastruktur menampung para pekerja seni dari Makassar," katanya.

    Menurut sutradara kelahiran 2 Oktober 1970 ini, pembuatan film Drupadi hanya berlangsung selama sepekan. Tapi persiapan pembuatannya memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Riri dan Mira terlebih dulu membuat film dalam ruangan kecil agar saat pengambilan gambar, semuanya sudah siap.

    Riri juga harus menjelajah lokasi pembuatan film, memperkirakan cahaya, suara, dan masalah yang akan terjadi saat di lokasi syuting. "Semuanya harus disiapkan karena membuat film membutuhkan dana yang besar," kata dia.

    Sutradara film Eliana, Eliana ini menghabiskan waktu selama empat bulan untuk menemukan dan meninjau lokasi syuting film Drupadi di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, Yogyakarta. Saat pemutaran film di Makassar, Riri memberi harapan kepada para penggiat seni di daerah ini. Ia berencana mulai membuka kelas pelatihan pembuatan film pada Juni mendatang. Dengan membangun rumah budaya dan menggiatkan seniman untuk berkarya, Riri berharap wajah Makassar tidak lagi identik dengan tawuran. "Jika orang mencari dengan kata kunci "Gunung Sari Makassar", bukan lagi tawuran yang muncul, melainkan artikel tentang Rumata'," kata Riri.

    | KAMILIA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.