Pentas Teater Tubuh Ketiga

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teater Garasi saat latihan sebelum pementasan

    Teater Garasi saat latihan sebelum pementasan "Tubuh Ketiga".(TEMPO/Heru CN

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Setelah menggelar pentas di Teater Salihara, Jakarta, tahun lalu, sutradara Teater Garasi, Yudi Ahmad Tajudin, akan mementaskan kembali lakon “Tubuh Ketiga: Pada Perayaan yang Berada di Antara” di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta, Jumat besok dan Sabtu lusa.

     

    Pentas ini adalah semacam esai tentang Tarling-Dangdut dan Indramayu. Tepatnya, semacam perenungan dan penelusuran atas kebudayaan yang terbentuk di ruang “antara”. Atas bentuk dan ekspresi kebudayaan “ketiga”, yang tak lagi bisa dirumuskan dengan kategori dan ukuran-ukuran yang pasti.

     

    Sebagai sebentuk kesenian yang berkembang di pesisir utara Jawa, Tarling-Dangdut begerak di antara kebudayaan agraris dan industrial, antara desa dan kota, antara yang tradisional dan modern. Tarling- Dangdut juga problematis. Ia dianggap bukan seni tradisi tetapi juga belum seni modern. Tapi di tengah posisi problematis itu ia terus tumbuh menjadi penanda kota dan wilayah Indramayu.

     

    Sebagai sebuah kota, Indramayu tumbuh di antara pusat-pusat kebudayaan yang saling menanamkan pengaruhnya—Jawa Tengah (Solo dan Yogyakarta), Jawa Barat (Bandung), dan Jakarta yang merupakan pusat Indonesia modern. Ia bisa dibaca sebagai desa sekaligus kota yang tumbuh di “ruang ketiga”.

     

    Itulah entitas kebudayaan yang tidak tumbuh dari satu definisi atau identitas saja, tetapi tersusun dari pertemuan dan percampuran budaya-budaya yang berbeda. Tubuhnya terbangun dari lapisan-lapisan. Karena itu ia hanya bisa dipahami dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang.

     

    Sebagai semacam esai, pertunjukan ini kemudian melihat, sebagaimana Tarling-Dangdut dan Indramayu, dalam banyak hal Indonesia adalah (atau: tersusun dari) entitas-entitas kebudayaan “ketiga”. Pertanyaan atau isu penting yang kemudian muncul adalah: apa yang bisa kita lakukan (kita ciptakan) dari dan dengan seluruh tradisi serta kebudayaan yang membentuk kita?

     

    Maka, sebagai suatu pertunjukan karya ini adalah juga suatu perayaan atas apa yang berada di antara. Perayaan (juga keberpihakan) atas sikap kreatif yang rileks dalam berhadapan dengan sesilangan kebudayaan yang datang dari mana-mana; dari luar maupun dari dalam, dari depan maupun dari belakang. Sikap yang lebih produktif dan menghargai perbedaan ketimbang fundamentalisme serta esensialisme identitas yang keras dan semakin menyerang siapapun yang berbeda itu...

     

    Dalam pementasan drama ini, sutradara Yudi Ahmad Tajudin akan berkolaborasi dengan sejumlah seniman lainnya, seperti Gunawan Maryanto, Hanny Herlina, Ign. “Clink” Sugiarto, Jompet Kuswidananto, Sri Qadariatin, Theodorus Christanto, Ugoran Prasad, Wangi Indriya, dan Yennu Ariendra.

     

    Yudi juga didukung oleh Adi Wisanggeni, Banjar Tri Andaru, Cahyo Dwi Novianto, Darmanto Setiawan, Ega Kuspriyanto, Hindra Setyarini, Irfanuddien Ghozali, Mohammad A. B., Kusworo Bayu Aji, Lusia Neti Cahyani, MN. Qomarrudin, Nur Kholis, Rasmadi, Ratri Kartika Sari, Rifqi Mansur Maya, Syamsul Islam, Yosef Herman Susilo, dan Yudha Wisnu Wardana.

     

     

    KALIM/Pelbagai Sumber


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.