Mandarin, Jengkol, dan Salat Jumat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jeremy, Seniman asal Singapore menyelesaikan pembuatan lampion. (TEMPO/Aditya Herlambang Putra)

    Jeremy, Seniman asal Singapore menyelesaikan pembuatan lampion. (TEMPO/Aditya Herlambang Putra)

    TEMPO InteraktifMajalengkaPertemuan seniman asing dan warga desa di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, dalam program Jatiwangi Artist in Residence Festival memunculkan kisah baru dan kejadian lucu. Perbedaan bahasa, misalnya, memaksa warga belajar bahasa Inggris atau cukup dengan bahasa isyarat.

     

    Menurut kurator festival Heru Hikayat, panitia pernah kerepotan mengantar seorang seniman yang mencari komponen elektronik untuk bahan karyanya. Keluar masuk sembilan toko elektronik di Jalan ABC, Bandung, tak seorang pun pelayannya yang bisa bahasa Inggris. Masalah baru terpecahkan setelah seniman itu bertemu pemilik toko yang lancar berbahasa Mandarin.

     

    Soal makanan, sejumlah seniman dan tuan rumah seperti Aprodin mengaku tak ada masalah. “Susu saya sediakan pagi dan sore, tapi katanya cukup pagi saja,” kata warga Desa Sutawangi yang menampung Jeremy dari Singapura.

     

    Seniman asal Meksiko Daniel Milan Cabrera mengaku menyukai masakan Sunda. “Saya suka lalap sambal dan jengkol,” ujarnya sambil tersenyum. Selama dua pekan di Desa Leuwenggede, ia mengeluh selalu kekenyangan karena sering tak kuasa menolak ajakan ramah para warga untuk makan.

     

    Seorang seniman asal Singapura lain lagi ceritanya. Ia ikut datang ke masjid dan salat Jumat, padahal ia bukan muslim. “Warga mengira ia beragama Islam dan senimannya merasa tidak enak kalau ia menolak,” kata Arief Yudi.

     

     

    ANWAR SISWADI (JATIWANGI)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapolri Keluarkan 11 Langkah dalam Pedoman Penerapan UU ITE

    Kepala Kepolisian RI Jenderal atau Kapolri Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan pertimbangan atas perkembangan situasi nasional terkait penerapan UU ITE.