Gebrakan Bollywood  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 3 IDIOTS

    3 IDIOTS

    TEMPO Interaktif, Jakarta -

     

    “All izz well.” Kalimat ‘sakti’ ini selalu diucapkan Rancho setiap kali pemuda India itu ketiban masalah. Begitu pula ketika dia menghadapi kemarahan sahabat karibnya, Raju. Sang sahabat marah lantaran ayahnya yang sakit parah dilarikan ke rumah sakit tak menggunakan ambulans atau taksi, tapi  malah dengan motor. Bayangkan, sang ayah yang tua dan kurus kering digerogoti penyakit didudukan di atas motor diapit Rancho dan Pia, teman perempuan sekaligus dokter, yang dengan kecepatan penuh memacu motornya menerobos lalu lintas kota yang  padat. Mengharukan tapi juga menggelikan.

     

    Kelucuan dan keharuan seperti itulah yang mewarnai film drama komedi 3 Idiots. Film yang diangkat dari buku laris karangan Chetan Bhagat berjudul Five Point Someone itu berkisah tentang kehidupan Rancho (dimainkan dengan apik oleh aktor populer di era 1990-an Amir Khan ), Farhan (Mardhacan), dan Raju (Sharman Joshi). Ketiganya adalah  mahasiswa jurusan teknik di sebuah universitas bergengsi di India yang dipimpin rektor “killer” Viru Sahastrabudhe yang tak kenal kompromi, kolot, dan keras kepala. Dengan sang rektor, ketiga pemuda yang disebut idiot oleh dosen dan teman-temannya itu berulang kali berseteru. Saking kesalnya, mereka memanggil orang paling berpengaruh di universitas itu, Virus.

     

    3 Idiots tak sekadar  melempar hal-hal lucu yang untungnya terdengar cerdas. Film ini juga menyampaikan satu pesan moral yang menyindir budaya di India, bagaimana pilihan hidup setiap anak telah ditetapkan orang tua tanpa bisa memilih. Bahkan bayi yang baru lahir sudah ditentukan masa depannya. Jika laki-laki harus menjadi insinyur, jika perempuan jadi dokter, dan sebagainya. Film ini pun sukses menyampaikan kritik terhadap cara mendidik yang terlalu textbook, sehingga tidak merangsang perkembangan individu, hingga menyentil masalah kurang meratanya pendidikan terutama di India. "Kenapa ilmu itu hanya untuk menghapal tidakkah ilmu itu untuk digunakan?" tanya Rancho kepada sang rektor.

     

    Tapi, film berdurasi 164 menit ini tetap mempertahankan pakem film India. Masih ada nyanyian mendayu-dayu, pohon besar berjajar, dan tarian serta hujan. Hanya, Rajkumar mengemasnya dengan humor. Hasilnya memuaskan. Dalam minggu pertama pemutarannya, 3 Idiot yang dirilis 24 Desember tahun lalu ke 40 negara itu berhasil meraih US$ 20 juta atau sekitar  Rp 200 miliar  di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat yang mampu menembus angka US$ 6,5 juta.

     

    “Tak pernah ada yang menyangka ada film India selaris ini di sini. Kalaupun sukses, masyarakat hanya menduga kisaran 3-4 juta dollar,” tutur Shariq Hamid, pemilik empat gedung bioskop di Texas. Di Indonesia, film yang pekan ini masih diputar di Blitz Megaplex juga terbilang laris dan jadi pembicaraan di dunia maya, termasuk situs jejaring sosial Twitter. 3 Idiots kembali mengulang kesuksesan Slumdog Millionaire.

     

    Selain 3 Idiots, produk Bollywood yang juga meraih kesuksesan: My Name is Khan – yang disutradarai Karan Johar, Dibintangi Shahrukh Khan dan Kajol, yang sempat menghentak lewat perannya di film  Kuch Kuch Hota Hai, My name is Khan bercerita tentang sosok Rizwan Khan, seorang muslim India yang sejak lahir menderita Sindrom Asperger (Asperger syndrome), sebuah gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.

     

    Bersama  ibunya (Zarina Wahab), Rizwan dan adiknya Zakir Khan (Jimmy Shergill) tinggal di wilayah kumuh Borivali-Mumbai. Pada usia 18, sang adik mendapatkan beasiswa untuk belajar di Amerika Serikat. Ketika sang ibu tiada, Zakir memboyong Rizwan untuk tinggal bersamanya di San Fransisco dan memberikan pekerjaan sebagai sales obat kecantikan di perusahaannya. Di sanalah Rizwan bertemu dengan Mandira (Kajol),  ibu seorang anak lelaki.

     

    Kehidupan keluarga yang harmonis antara Rizwan, Mandira, dan sang anak semata wayang mereka, Sameer (Yuvaan Makaar), berubah total saat sejumlah teroris menyerang menara kembar World Trade Center di New York pada September 2001. Sebagai orang India bernama belakang Khan keluarga itu mulai  mendapat perlakuan  tak adil dan dituduh teroris. Demi membuktikannya, dia memulai melakukan perjalanan untuk bertemu presiden AS dan membersihkan namanya. “My name is Khan, and I am not a terrorist,” begitu dia menjawab pandangan curiga orang di sekitarnya.

     

    Berbeda dengan film India kebanyakan, film ini tak ada tarian dan nyanyian dari tokoh-tokohnya. Meski begitu, Karan Johar yang berperan sebagai sutradara mampu membuat film ini terasa begitu berkelas. Film kolaborasi patungan antara Fox Searchlight Pictures dan Dharma Productions itu mampu menembus box office tak hanya di India, tapi juga di Eropa, Australia, Asia dan tentu saja Indonesia. Di Inggris, film ini menjadi film Bollywood yang paling sukses dalam sejarah box office Inggris. Sejak dirilis pada 12 Februari 2010, My Name is Khan langsung meluncur ke peringkat enam box office Inggris. Film tersebut berhasil meraup pendapatan US$ 1,4 juta.

     

    Film ini memang sempat mendapat protes dari kelompok garis keras Hindu di India. Sejumlah pendemo bahkan sempat menurunkan poster dan melempari bioskop yang memutar film tersebut. Tapi ini tak ada hubungannya dengan jalan cerita yang ditawarkan. Para pendemo kecewa dengan pernyataan sang bintang utama, Shah Rukh Khan yang memiliki sebuah klub kriket bahwa dirinya kurang setuju kalau pemain kriket Pakistan dilarang untuk bermain di liga India. Toh, aksi tersebut tak mampu menghalangi film ini menapaki tangga kesuksesan.

     

    NUNUY NURHAYATI

     

    BOKS
    Raam Punjabi : Film Ini Punya Daya Tarik Universal


    T : Bagaimana tanggapan penonton Indonsia terhadap My Name is Khan dan 3 Idiots?
    J: My Name Is Khan yang diputar di jaringan 21 dan  3 Idiots   bisa bertahan lebih dari tiga bulan. Sejak pemutaran perdananya tanggal 25 Desember, film 3 Idiots masih tayang. Di Jakarta film ini hanya diputar di Blitz, tapi di luar Jakarta film ini diputar  jaringan bioskop 21. Pendapatan penonton, awalnya masuk satu kopi, dengan performa 150 ribu penonton di Jakarta, Bandung, Makassar, dan Palembang. Sekarang sudah tujuh kopi. Itu semua juga masih perhitungan kasar.Berikutnya film ini bakal diputar di Jambi dan Lampung.

    T : Apa yang membuat  film itu mampu bertahan cukup lama?
    J : Film itu punya unsur daya tarik yang universal, yang tidak dimiliki semua film india. Temanya yang mengena di hati, memberi kesan positif di benak penonton. Selain itu, penyajiannya juga menarik.


    T : Sebelum dua film ini, film India mana yang sukses meraup banyak penonton?
    J : Kuch-kuch hota Hai  yang dulu pernah diimpor Multivision juga bisa  meraup 150 ribu penonton selama lima sampai enam bulan pemutaran. Film ini paling laku di Medan. Memang, selama ini jumlah penonton India paling banyak  berasal dari kota itu.

    T: Apa saja yang dijadikan pertimbangan dalam memilih film India yang akan diimpor ke Indonesia, siapa yang menentukan, dan tiap berapa periode impor dilakukan?


    J: Yang menentukan fillm apa yang diputar itu  distributornya di Indonesia. Kadang-kadang kita juga pernah salah pilih film. Umumnya ukuran film kan bisa ditebak. Inilah yang dinamakan insting dagang. Mengenari genre yg sedang marak, India dan Indonesia punya kesamaan citarasa, yakni masalah kemanusiaan. Berbeda dengan film Amerika yang kini lebih menjual teknologi.Beberapa film India sebenarnya ada yang meniru film Amerika, tapi pasti tidak laku karena masih kalah bagus.

    T: Bagaimana pangsa pasar film layar lebar India di Indonesia?
    J : Film India tdk pernah berhenti masuk ke Indonesia. Sejak awal tahun 1950-an, sebenarnya film india sudah diputar di bioskop. Dan sekarang, sejak tahun 2002 hingga 2008, film india selalu main di MPX Pasaraya, karena memang kami yang mengelola. Dahulu film India mmang belum mendapat tempat di jaringan bioskop 21 karena alasan bisnis dan takut penotonnya tidak ada, tapi kini peluang itu sudah mulai terbuka di Blitz Megaplex.

    T : Bagaimana posisinya  di antara film lokal dan Hollywood?
    J : Film India hadir sebagai bahan perbandingan. Film-filmnya mendidik dan menghibur. Tujuan utamanya, adalah ikut berpartisipasi dalam perfilman Indonesia. Pemerintah  harusnya mendukung, untuk memberikan keragaman film di indonesia.

    T : Film India terbaru yang segera masuk ke Indonesia?
    J : Tanggal 30 April ini sudah masuk film House Full di bioskop. Lalu 18 Juni nanti ada Rayneeti, film yang bicara tentang Indira Gandhi.


    Aguslia Hidayah


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Olahraga Pada Puasa Ramadan Saat Pandemi, Dapat Mencegah Infeksi Covid-19

    Olahraga saat puasa dapat memberikan sejumlah manfaat. Latihan fisik dapat mencegah infeksi Covid-19 saat wabah masih berkecamuk di Ramadan 1442 H.