Tren Mesum Berbungkus Seram  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suster Keramas. Satu dari banyaknya film horor yang tayang di bioskop tahun 2010.

    Suster Keramas. Satu dari banyaknya film horor yang tayang di bioskop tahun 2010.

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Banyak ditentang justru kian merangsang. Begitulah prinsip yang dipegang Ody Mulya Hidayat, produser dari Maxima Pictures. Ketika banyak pihak mencibir film-film horor yang dibumbui adegan seks, dia justru bangga. "Kami memang jawara di genre ini," katanya sambil tertawa Kamis lalu.

    Dari sekitar 20 film horor produksi Maxima Pictures yang beredar tahun lalu, belasan di antaranya adalah film horor dengan adegan-adegan tak senonoh. Ia mengklaim film yang dibuatnya rata-rata ditonton di atas 500 ribu orang. Karena itu, tahun ini dia bertekad memproduksi setidaknya delapan judul film bergenre horor-komedi dengan bumbu seks.

    "Satu film sudah siap tayang dalam waktu dekat," katanya dengan semangat. Film yang dimaksud berjudul Tiran, akronim dari "mati di ranjang". Film ini merupakan sekuel dari film sebelumnya berjudul Tiren ("mati kemaren"). Dibintangi penyanyi dangdut Dewi Perssik, film itu diklaim bakal menyedot hingga 800 ribu penonton. Kali ini, sebelum film itu resmi beredar, adegan ciuman antara Dewi Perssik dan Indra L. Brugman, yang merupakan penggalan film Tiran, ramai menjadi gunjingan di media massa.

    Sebagai sebuah genre, film horor merupakan yang paling populer di dunia, begitu pun di Indonesia. Di dunia, film bergenre ini hanya sempat berhenti diproduksi pada kurun waktu 1940-1950. Dalam kurun waktu itu, film peranglah yang mengambil tempat di dunia film. Setelah itu, perlahan-lahan film komedi dan film musikal bermunculan, dan pada 1960-an film horor muncul kembali.

    Khusus film horor, yang kebanyakan berurusan dengan hal-hal supranatural atau mistik dan klenik, diakui atau tidak memiliki dasar pijakan yang kuat dalam kultur kita. Tema mistik menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Ini adalah sebuah tema yang sangat dekat dengan cara berpikir dan memori kultural sebagian besar masyarakat kita.

    Memasuki era milenium baru, di Indonesia film horor kembali mencuat setelah Rizal Mantovani dan Jose Poernomo sukses membesut Jelangkung (2001). Film ini tidak lagi bertumpu pada klise "wajah seram hantu" pada umumnya, melainkan pada ketegangan melalui gerak kamera, efek spesial, dan lokasi yang asing. Film ini juga dikenal telah mengusung ide baru dalam film Indonesia karena mengolah musik pop dan kehidupan remaja modern dalam alur ceritanya.

    Sejak itu hingga 2009 tercatat setidaknya 57 film horor diproduksi. Artinya, rata-rata setiap tahun diproduksi tujuh film horor. Sayang, sukses Jelangkung kemudian dinodai oleh film-film horor yang di dalamnya justru banyak mengumbar seks.

    Ketua Lembaga Sensor Film Muchlis Paeni mengaku kerap dibuat pening oleh film-film horor semacam itu. Bahkan seorang stafnya pernah melaporkan ada sebuah film bergenre horor yang dibabat hampir separuhnya karena dipenuhi adegan mesum. "Film ini bakal tidak bisa tayang kalau gunting kami bekerja," kata Muchlis.

    Sebagai solusi, mantan Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film Kementerian Budaya dan Pariwisata itu lalu mengundang sang produser untuk bertemu dengan Lembaga Sensor. Si produser diminta menjelaskan apakah film yang diproduksinya itu film horor atau film seks. "Dia bilang film horor, dan sepakat melakukan syuting ulang," ujar Muchlis.

    Syuting ulang, ia menjelaskan, mutlak dilakukan untuk mengganti potongan film yang terbuang. Karena sepertiga durasi film sesudah disensor hilang. "Kalau dipaksa tayang, film itu tidak akan bisa karena tidak sesuai standar durasi," kata Muchlis.

    Muchlis tak cuma menyalahkan produser dan sutradara yang menghasilkan film-film semacam itu. Menurut dia, penonton juga berperan membentuk tema film nasional. Penonton film nasional, katanya, masih sangat menyukai film yang berbau seks dan horor. Inilah perilaku yang tidak pernah berubah dari zaman dulu. "Rasa takut dan sensualitas sudah menjadi insting manusia," katanya.

    Bagaimanapun, pengamat dan sineas film Arswendo Atmowiloto berpendapat, jika kondisi sekarang tak segera dibenahi, dalam tempo lima tahun ke depan, dunia perfilman nasional akan kembali bangkrut. Sebab, saat ini nyaris sudah tak ada kreativitas yang tersisa dari kalangan sineas kita. Jika tak ada perbaikan, kata dia, 10 tahun berikutnya, film nasional akan mati. "Dua puluh tahun berikutnya film nasional akan menghilang," ujarnya.

    Ia menepis anggapan bahwa maraknya film horor-mesum karena memang digemari penonton. Sebab, masyarakat kita pun menyukai dan sangat ingin menikmati film-film berkualitas, seperti Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, atau Sang Pemimpi.

    Alasan keterbatasan dana pun dibantah Arswendo. Film horor, dia melanjutkan, asal digarap secara kreatif, juga bisa menjadi karya yang menghibur sekaligus mendidik. "Kuncinya adalah kreativitas," ujarnya. Dengan kreativitas, kata Arswendo, negeri tertutup seperti Cina ternyata bisa memproduksi film Confucius, yang sangat bagus.

    Arswendo juga menyalahkan pemerintah. Para pejabat dan instansi terkait, semacam Kementerian Kebudayaan, harus memberikan contoh yang baik, yang mampu memacu kreativitas, seperti membuat perlombaan film independen. Atau membantu para sineas dengan memberikan berbagai kemudahan dalam pembuatan film.

    Produser Starvision Plus, Chand Parwez, bahkan menyebutkan, perfilman nasional sudah mulai memasuki titik jenuh. Akibatnya, dalam dua bulan terakhir, penjualan film jatuh. Ia menuding produser lain yang memproduksi film bergenre horor dan seks murahan sebagai biang keladi. "Kami (Starvision) merasa sendirian dengan tetap menjaga idealisme film nasional," katanya. "Kalau mau bikin film seks, sekalian bikin film porno saja," ujarnya gusar.

    Chand tak sedang sesumbar. Sejumlah film drama maupun komedi yang diproduksinya, seperti Ketika Cinta Bertasbih, Perempuan Berkalung Sorban, Tarik Jabrix, dan Get Married, jauh dari kesan film murahan. Bahkan, ketika membuat film bergenre horor, seperti Keramat, terasa berbeda dengan film sejenis kebanyakan karena tak ada pocong atau hantu konyol di dalamnya.

    Film Rumah Dara karya Timo Cahyanto dan Kimo Stambul bahkan tahun lalu mendapat penghargaan di Puchon International Fantastic Film Festival, Korea. Tak hanya itu, sang bintang utama, Shareefa Daanish, yang berperan sebagai Dara, dinobatkan sebagai aktris terbaik dalam festival film tersebut. Film itu lebih dulu beredar di Singapura, Amerika, dan Korea. Film itu juga diputar di Fantastic Fest 2009 di Los Angeles, Amerika Serikat, dan Fantastic Film Festival Germany 2009.

    Film horor lainnya yang jauh dari adegan seks adalah Affair, yang saat ini tengah ditayangkan di bioskop-bioskop di berbagai kota. Film produksi Starvision Plus dan disutradarai oleh Nayato Fio Nuala ini terlihat kuat teknik sinematografinya.

    Film ini membuktikan, tanpa adegan seks pun, sebuah film horor tetap menjadi tontonan yang "menegangkan" dalam arti sebenarnya. Tanpa perlu mendatangkan bintang porno sekalipun, film ini tetap terlihat menarik karena kualitasnya, bukan karena kontroversinya yang sensasional.

    Meski dicap sebagai jawara pembuat film horor berbumbu seks, Ody menyatakan tak semua filmnya berkelas kacangan. Ia merujuk Air Terjun Pengantin, yang dibintangi Tamara Bleszinsky. Saat dibawa ke Festival Film Hong Kong pertengahan Maret lalu, film ini laris dipesan untuk ditayangkan di berbagai negara, seperti Australia, Hong Kong, Filipina, dan Taiwan. "India sudah pasti membeli film ini," katanya.

    Bagi Helfi C.H. Kardit, aspek cerita, pendekatan kultur, dan artistik tetap diperhatikan secara serius, meskipun dia beberapa kali menyutradarai beberapa film horor beraroma sensual, seperti Suster Keramas dan Arisan Berondong.

    Karena itu, film seperti Kereta Hantu Manggarai, Kuntilanak 3, Mati Suri, dan Pulau Hantu diminati distributor film dari Korea, Belgia, Amerika Serikat, Italia, Jerman, Argentina, India, Jepang, serta Prancis. Bahkan, di Malaysia, pada 2007 film Beranak dalam Kubur mendapat pemasukan sebesar 250 ribu ringgit (Rp 725 juta), setelah diputar sebulan di bioskop Kuala Lumpur dan Lembah Klang.

    Terhadap kritik Arswendo dan Chand Parwez, Helfi pun bisa menerimanya. Ia turut merasakan, film Indonesia saat ini sedang dalam kejenuhan tema. Tapi industri film harus tetap jalan, dan perut mereka yang terlibat dalam industri ini harus diisi. Karena itu, untuk menentukan tema film, para sineas terpaksa merunduk kepada pasar. "Saya butuh uang dengan menjadi sutradara. Saya mesti hidup juga," katanya.

    MUSTAFA SILALAHI

    BERITA TERKAIT:

    Resep Film Horor, Memburu Miyabi dan Sakuragi


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.