Selasa, 20 November 2018

Anggun C. Sasmi Bermusik tanpa Batas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Wahyu Setiawan

    TEMPO/Wahyu Setiawan

    AnggunEMPO Interaktif, Jakarta - Dia dengan tepat memilih judul album terbarunya, satu kata yang menggambarkan posisinya kini sebagai artis: Elevation. Dia, Anggun (dulu orang mengenalnya sebagai Anggun C. Sasmi), memang telah mencapai titik yang letaknya lebih tinggi ketimbang yang sudah-sudah. Dan dia masih berpeluang untuk setiap saat mengambil titik itu sebagai posisi baru demi mengawali hal lain yang lebih maju--sesuatu yang telah dilakukannya beberapa kali sejak meninggalkan Indonesia sekitar 15 tahun lalu.

    Coba simak album yang dirilis tahun lalu itu, yang di Jakarta masih bisa dijumpai berada di antara album-album lain yang lebih mutakhir di rak-rak toko. Lagu pembuka edisi Prancis yang berjudul J’ignorais tout, misalnya, bukan saja mengeset suasana album secara keseluruhan, tapi sekaligus juga menunjukkan bagaimana dia melompat ke wilayah musik yang berbeda sama sekali dengan apa yang sudah dia eksplorasi sebelumnya.

    Berdurasi 4,25 menit, diawali bebunyian mirip bel dalam pola ostinato dan disusul keyboard yang meletakkan fondasi progresi akor, juga mood, lagu ini kental bermuatan beat yang segera mengesankan satu hal: bahwa Anggun kini sepenuhnya masuk ke wilayah R&B dan urban music--dengan elemen hip hop yang tersebar di sana-sini. Dia menyebut wilayah itu sebagai “dunia yang belum pernah saya jelajah”.

    Elemen R&B dan urban, aliran musik yang identik dengan warga Afro-Amerika, sungguh mendominasi album yang diedarkan dalam tiga edisi--Prancis, Inggris, serta Indonesia dan Malaysia--itu. Anggun mengaku terilhami oleh Nelly Furtado, penyanyi/penulis lagu berdarah Portugal dari Kanada, yang dalam album terakhirnya (Loose) berhasil memadukan kekuatan dirinya sebagai penyanyi pop dengan keunggulan produser hip hop (Timbaland). Anggun tahu persis hal ini. Itu sebabnya, untuk album terbarunya, agar bisa menjelajahi wilayah yang juga baru, dia menggandeng Tefa dan Masta, dua produser hip hop di Prancis.

    Walau demikian, perempuan 35 tahun yang kini berstatus ibu seorang anak itu menyatakan tak berniat menjadi semacam Nelly Furtado, atau beralih menjadi penyanyi R&B. Dia berpendirian, mencoba musik baru adalah tantangan. Dan keinginan untuk menjawab tantangan itu, katanya saat berada di Surabaya untuk tampil dalam salah satu rangkaian konsernya pada Agustus lalu, “Seolah terus menggelitik saya.”

    Baginya, Elevation merupakan karya yang benar-benar baru sejak penggarapan di studio. Berbeda dengan album-album sebelumnya, dia masuk studio tanpa musisi--tak ada pianis, atau gitaris, untuk menulis lagu. “Kala itu,” katanya, “yang ada hanya satu unit komputer.” Komputer itu yang menyajikan aneka sampel, rekaman bebunyian yang bisa dimanipulasi dan digunakan sebagai instrumen atau rekaman bebunyian yang berbeda dalam suatu lagu.

    Cara bekerja di studio yang seperti itu biasa disebut menulis lagu di “ruang dengan bebunyian yang dingin”. Kata “dingin” menunjuk pada kenyataan bahwa bebunyian instrumen dihasilkan bukan langsung dari instrumen.

    Menurut Anggun, Tefa dan Masta pandai memancing suasana hati. Dengan itulah dia bisa menggali gagasan, memetik nada atau mereka-reka komposisi hanya dari contoh bebunyian dan atmosfer. Bersama mereka, dia tak berhenti di situ, melainkan juga memikirkan warna dan irama, serta berusaha mengisi ruang-ruang yang ada dalam komposisi dengan nada-nada yang memikat. “Inti dari semua itu adalah mengubah kebiasaan lama dan membuang sejumlah hal yang biasanya bersifat otomatis,” katanya.

    Album Elevation boleh dibilang sebuah karya yang terpoles rapi, dengan materi yang ringan masuk ke telinga, dan beat-nya tak tertahankan. RFI Musique menyebutnya sebagai “eklektik... berada di antara atmosfer chanson dan urban”. Tapi, tentu saja, R&B dan urban bakal tak mudah diterima oleh mereka yang tak biasa, yang bisa saja merasa seperti mendengar... Mariah Carey, misalnya. Atau mereka yang mengenal Anggun pada periode setelah meninggalkan Indonesia, terutama dari Snow on the Sahara (1998) dan Chrysalis (2000).

                                                                    ***

    Ketika baru memulai karier internasionalnya Anggun memang sangat dibantu oleh apa yang dia lakukan dalam dua album yang diproduseri Erick Benzi itu. Terutama dengan Snow on the Sahara, Anggun membubuhkan ke dalam lanskap penyanyi/penulis lagu perempuan elemen world music, yang boleh dibilang langka. Dengan Snow on the Sahara, hitnya yang sejudul dengan albumnya, dia mengukuhkan diri sebagai artis Asia pertama yang berhasil menembus Billboard Charts di Amerika Serikat dan artis Asia terlaris di luar Asia. Album Snow on the Sahara terjual lebih dari sejuta kopi di seluruh dunia.

    Anggun bertemu dengan Benzi saat baru mulai tinggal di Paris, setelah meninggalkan London, Inggris, pada 1996--kota yang menjadi tujuannya begitu meninggalkan Indonesia dua tahun sebelumnya. Dia merasa Inggris bukan tempat yang tepat untuk memulai karier internasionalnya. Benzi adalah produser/penulis lagu yang antara lain pernah bekerja dengan Celine Dion. Berkat Benzi, yang terkesan akan kemampuannya dan lalu sepakat membantunya rekaman, Anggun bisa bergabung dengan Sony Music dan Columbia.

    Pada Juni 1997, Anggun merilis album pertamanya dalam bahasa Prancis. Berjudul Au nom de la lune, album itu merupakan hasil eksperimen meleburkan elemen world music dengan pop, dengan elemen-elemen bebunyian romantis dan sensual. Ini berbeda dengan trademark Anggun ketika masih di Indonesia--seorang lady rocker dan tomboi. Benzi memang produser berkelas. Formulanya ternyata berhasil. Lagu La neige au Sahara melesat sebagai hit di Prancis dan Belgia; di Prancis lagu ini bahkan menjadi single yang paling kerap diputar di radio.

    Album debut itulah yang lalu direkam ulang dalam bahasa Inggris dan dirilis menjadi Snow on the Sahara pada akhir 1997. Pemasarannya ke 33 negara dilakukan pada 1998. Dan seperti pada album aslinya, La neige au Sahara, yang diterjemahkan menjadi Snow on the Sahara, seketika menjadi hit di Asia dan Eropa; lagu yang sudah menjadi ciri khas Anggun ini masuk daftar 20 lagu paling sering diputar di negara-negara di mana album Snow on the Sahara dirilis.

    Stephen Thomas Erlewine, yang menulis di Allmusic, menyebut Snow on the Sahara sebagai “album debut yang menjanjikan”, karena “dia (Anggun) memperlihatkan bakat yang kukuh”. Anggun, menurut dia, menunjukkan diri benar-benar bisa menyanyi dalam aneka gaya, mau balada, pop Latin, pop dansa, apa saja.

    Selain beat etnis pada nomor Snow on the Sahara, elemen eksotis lain yang mengisi album itu adalah Oriental (lagu Over Their Walls), Bali (Selamanya), dan Timur Tengah (Dream of Me). Anggun bahkan menyisipkan lirik dalam bahasa Indonesia di beberapa lagu (misalnya On the Breath of an Angel). Memang mengejutkan bila tak banyak kritikus yang membahasnya, atau, kalaupun kebetulan masuk ke dalam radar mereka, apresiasinya cenderung underrated. Di kalangan penggemar Anggun, tak ada yang ragu menyebut Snow on the Sahara sebagai salah satu album luar biasa yang pernah dibuat.

                                                                     ***

    Dengan formula yang berbeda, Anggun merilis Chrysalis pada 2000. Masih berkolaborasi dengan Benzi, album ini merupakan etalase dari ikhtiar untuk mencoba wilayah baru: di sini Anggun dan Benzi bereksperimen dengan pop elektronik, elemen-elemen ambient, juga R&B. Anggun ikut menulis sebagian besar lagu yang ada.

    Melalui Chrysalis, dengan hit Still Reminds Me, Anggun kembali meraih sukses, walau tak sefenomenal Snow on the Sahara. Tapi, seperti sebelumnya pula, dia memilih meninggalkan formula yang sama untuk album berikutnya. Dia bahkan melepas Benzi dan memilih bekerja sama dengan beberapa produser sekaligus. Dirilis dalam bahasa Prancis pada Februari 2005, melalui Heben Music, label independen di bawah Sony BMG France dan Universal Music International, album berjudul Luminescence ini berhasil mencapai posisi teratas di daftar album terlaris.

    Tapi lagi-lagi Anggun tak ingin berhenti di satu titik saja. Dari situlah Elevation masuk ke dalam diskografinya.

    Dipilihnya elemen hip hop memang mengherankan, karena dalam suatu kesempatan Anggun menyatakan tak pernah merasa bisa berada di lingkungan itu. Toh, Anggun punya penjelasan. Dia mengatakan kesannya terhadap hip hop selama ini sebenarnya lebih didasarkan atas stereotipe, sesuatu yang berlatar ketidaktahuan, sesuatu yang tak beralasan sama sekali. Dia menepis dugaan bahwa dengan hip hop dia berniat memasuki pasar Amerika dengan produk yang tepat; Amerika sejauh ini memang belum menerimanya sebagaimana Eropa dan Asia. “Saya tak pernah memiliki American dream,” katanya.

    Apa pun, empat album studio yang telah dia hasilkan--plus berbagai variasi edisinya, bergantung pada pasar mana yang hendak dibidik--sesungguhnya bisa dilihat sebagai tanda betapa dia tak berhenti bertransformasi. Dia memilih mengambil risiko, tanpa rasa takut, dengan memilih sesuatu yang berbeda dengan yang telah dilakukan sebelumnya. Baginya, kalau belum apa-apa sudah takut gagal, mustahil impian bisa tercapai.

    Melihat tekad seperti itu, tak berlebihan bila penggemarnya, atau siapa pun yang berminat mengikuti perkembangan kariernya, yakin bahwa dia masih akan menghasilkan karya-karya yang selalu bebas dari batasan apa pun.


    PURWANTO SETIADI l ANANG ZAKARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.