Sapardi Djoko Damono di Mata para Mahasiswanya di UI dan IKJ

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penulis Sapardi Djoko Damono (kiri) hadir saat Velove Vexia membacakan puisi di acara Meet and Greet Hujan Bulan Juni di Jakarta, 1 November 2017. Film Hujan Bulan Juni akan tayang serentak di bioskop 2 November 2017. Tempo/ Fakhri Hermansyah

    Penulis Sapardi Djoko Damono (kiri) hadir saat Velove Vexia membacakan puisi di acara Meet and Greet Hujan Bulan Juni di Jakarta, 1 November 2017. Film Hujan Bulan Juni akan tayang serentak di bioskop 2 November 2017. Tempo/ Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Penyair Sapardi Djoko Damono (SDD) meninggal dunia di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, pagi hari ini 19 Juli 2020, pada usia 80 tahun.

    Berita itu beredar di sejumlah grup whatsapp (wa) pagi ini di kalangan para mantan mahasiswanya, koleganya di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan para pecinta puisinya.

    “Telah meninggal dunia dengan tenang, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono di EKA Hospital BSD, Tangerang Selatan pada hari ini 19 Juli 2020, pukul 09.17 WIB,” demikian antara lain isi wa, dengan penanggung jawab Reda Gaudiamo dan Nana (Tatyana Soebianto).

    Reda Gaudiamo dan Nana identik dengan musikalisasi karya-karya puisi karya SDD yang legendaris, antara lain, Hujan Bulan Juni, pada masa pertama, periode 1990-an. Grup Dua Ibu.

    Selain menyanyikan lagu itu, keduanya adalah lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia –sebelum berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Budaya UI.

    Sebagaimana mantan mahasiswa FS UI/FIB UI lainnya, mereka banyak bersinggungan dengan penyair dan dosen yang akrab dipanggil SDD ini. Selain menjadi guru besar, SDD juga mantan Dekan FIB UI.

    Kedekatan para mahasiswa dan yang sudah mantan itu terjadi karena SDD dikenal sebagai dosen dan guru yang baik, serta pendukung terjadi proses kreatif berkesenian yang baik kepada siapa saja, tanpa membeda-bedakan status orangnya.

    Hubungan baik SDD dengan para mantan mahasiswanya terjalin dari masa kampus FS UI di Rawamangun, Jakarta Timur, -kini menjadi bagian dari kampus Universitas Negeri Jakarta- sampai ke seluruh kampus UI saat pindah ke Depok pada periode 1989 dan FS UI berganti nama menjadi FIB UI.

    Salah satu mahasiswa yang akrab dengan SDD itu, sejak era kampus Rawamangun, kini menjabat sebagai Ketua Program Studi Indonesia FIB UI, Dr. Sunu Wasono.

    “Kita amat kehilangan orang besar. Pak Sapardi Djoko Damono amat besar jasanya bagi Prodi Indonesia FIB UI. Saya kira juga besar jasanya bagi FIB UI dan UI,” kata Sunu, angkatan FS UI 1978.

    “Di Prodi Indonesia beliau adalah seorang bapak, pendidik, akademisi yang menjadi tempat bertanya kami yang lebih muda khususnya tentang sastra Indonesia,” dosen FIB UI yang juga penyair ini melanjutkan.

    “Secara pribadi saya berutang budi pada beliau. Dari S1 hingga S3 saya dibimbing beliau. Berkat beliau saya yang hampir kehilangan semangat untuk menyelesaikan pendidikan S3 akhirnya bisa menyelesaikan.”

    “Pak Sapardi orangnya sabar dan rendah hati. Beliau senantiasa menginspirasi justru ketika saya menghadapi kebuntuan dalam menghadapi masalah,” Sunu menambahkan.

    Dalam konteks sastra Indonesia, menurut Ketua Prodi Indonesia FIB UI ini, jarang ada orang yang bisa unggul di penciptaan dan kritik.

    “Sebagai penyair, Pak Sapardi hebat. Demikian juga sebagai akademisi. Dalam konteks teori dan kritik sastra, di tangan Sapardi, sesuatu -katakanlah konsep atau teori- yang susah bisa menjadi mudah. Dalam konteks penulisan puisi, sajak-sajak SDD ‘sederhana’ tapi isi dan bobotnya tak sederhana," jelas Sunu.

    Tampilan SDD yang sederhana dan rendah hati itu tak mengurangi sosoknya sebagai seniman.

    Alma Mandjusri, adik kelas Sunu di FS UI, yang kini menjadi Kaprodi Ilkom Universitas Al Alzhar Indonesia, masih mengingat sosok SDD yang khas pada periode 1985-an di kampus Rawamangun –ketika saat itu SDD sudah mencuat dengan kumpulan pusinya, dukamu Abadi.

    “Saya ingat sekali kalau mengajar membawa termos kopi, mengajar sambil merokok. Kalau jalan suara sepatu sandal kulitnya ala Jogja terdengar keteplak keteplek kegedean,” kata Alma.  

    SDD kemudian dilarang dokter untuk merokok lagi. Tapi, sosok kesenimanan dan guru yang selalu memberi inspirasi darinya, terus berjalan sampai masa UI di kampus Depok.

    “Pernah suatu hari 1989, main ke kampus. Waktu itu saya bekerja sebagai Jr. Copywriter di Adforce. Ketemu beliau, ditanya saya kerja di mana? Saya bilang di advertising agency sebagai copywriter, “ kata putri dari John Koeswoyo, salah satu pendiri band Koes Bersaudara, yang kemudian menjadi Koes Plus, ini.

    “Katanya, bagaimana terpakai tidak ilmu-ilmu yang diajarkan di kampus? Saya bilang, kampus terlalu teoretis Pak, harusnya diajar juga ilmu terapan seperti penulisan kreatif. Saya harus belajar lagi tentang copywriting. Lalu saya mendengar kabar, ada tambahan materi penulisan kreatif. Beliau ternyata mendengarkan alumninya,” kata Alma.

    Dan, SDD yang merakyat melewati lintas generasi sampai era milineal, seperti Nosa Normanda, sutradara film dan penggerak Mondiblanc Film Workshop.

    “Saya kenal Pak Sapardi waktu kuliah di FIB UI. Diajar sama beliau di kuliah dari jurusan sastra Indonesia. Saya sendiri dari sastra Inggris,” kata Nosa.

    “Saya mulai menulis puisi ketika mahasiswa karena beliau pula, bikin acara-acara pembacaan puisi yang beberapa kali, beliau turut mengisi. Bahkan saya dan kawan saya, Edy Sembodo sempat membuat buku puisi underground buat minimal seperti Pak Sapardi punya buku,” kata sutradara yang belum lama menyelesaikan produksi film dengan Yayasan WWF Indonesia ini.

    “Dengan puisi-puisi Pak Sapardi, sudah tak terhitung berapa lagu tercipta, puisi lain tercipta karena terinspirasi. Saya bahkan ikut-ikutan mbak Reda Gaudiamo untuk bikin musikalisasi, tapi memakai penyair lain karena Pak Sapardi dulu seperti sudah punya grup Dua Ibu (Reda dan Nana).”

    “Satu lagi, jangan dilupakan berapa banyak undangan nikah yang memakai puisi Sapardi untuk kutipan, dan beliau tidak tidak pernah minta royalti,” Nosa menambahkan.

    Sapardi Djoko Damono seperti puisinya, sederhana tapi dalam. Demikian juga dengan cara mengajarnya, meski bergelar doktor dan guru besar.

    SDD tak cuma menggores pena kehidupannya di almamaternya sebagai mahasiswa, Universitas Gadjah Mada –ia pernah ikut latihan teater WS Rendra-, kemudian FS UI/FIB UI, tapi juga di tempat lain.

    Putri dari koreografer tari, Ely Lutan, Satwika Galuh Wardhani, terus menangis hari ini di rumah sekaligus markas Dedy Lutan Dance Company, karena tak diperkenankan melayat SDD, sesuai protokol kesehatan.

    “Dulu S2 IKJ (Institut Kesenian Jakarta) Galuh hampir do (drop out). Berkat beliau (SDD) dan Pak Yanusa (cepernis Yanusa Nugroho) hasilnya (tesis) jadi percontohan,” kata Ely mengenang jasa Sapardi Djoko Damono.

       

       


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.