Ketoprak Muharam

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bersama istrinya, Sinta Nuriyah Wahid, duduk takzim di kursi penonton paling depan, dalam pergelaran ketoprak rakyat di kawasan rumahnya di Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat malam lalu. Acara ini digelar untuk memperingati 1 Muharam.Acara ini merupakan bagian dari pesta rakyat yang menampilkan lakon Islami dari perkumpulan ketoprak Mitra Remaja Jawa Timur. Mereka mengangkat kisah Berdirinya Mesjid Demak setelah keruntuhan kerajaan Majapahit.Babak pertama lakon tersebut diawali di Majapahit saat Prabu Brawijaya bersama Putri Campa menghadap Aryo Damar. Aryo diberi titipan Putri Campa yang sedang hamil dengan pesan tidak boleh digauli sebelum melahirkan.Babak kedua mengambil tempat di Ampel ketika Dewi Murthosimah, putri Sunan Ampel, sedang mengaji bersama santri putri. Pada babak ini diceritakan, Radeh Fatah dijodohkan dengan Murthosimah dan nantinya Raden Patah dikukuhkan menjadi Sultan Demak. Di masa kesultanan Demak, Raden Patah memprakarsai pendirian masjid yang dibangun secara bergotong-royong oleh para wali. Hingga kini masjid tersebut banyak menyimpan cerita sejarah dan spiritual karena sebagai tempat ibadah umat Islam tertua di bumi khatulistiwa. Babak selanjutnya mengenai perjalanan Raden Patah di hutan Salam dan hutan Glagah Wangi mencari kayu untuk digunakan sebagai tiang masjid yang akan didirikan di daerah Donoloyo. Masjid tersebut nantinya memiliki kubah yang menghadap Masjidil Haram di Kota Mekkah.Menurut Al-Zastrow Ngatawi, ketua pelaksana pergelaran, kisah itu merupakan momentum sejarah perjalanan Islam kultural ke Islam negara. Pergelaran ini juga untuk menghidupkan seni tradisional, yang akan dilakukan rutin untuk memperingati 1 Muharam. Sebab, ia menambahkan, Gus Dur bersedia menjadikan kawasan rumahnya sebagai ruang publik untuk kesenian. Sumidi S.P., pemimpin rombongan ketoprak Mitra Remaja Jawa Timur, mengolah cerita dari perpustakaan Masjid Demak dan masukan dari juru kunci Sunan Kalijaga. Ditilik dari sejarahnya, "Dworowati dan Raden Fatah ini merupakan Eyang Gus Dur," kata Sumidi. Agar tontonan tidak monoton, ia tak lupa menyiapkan adegan komedi. l EVIETA FADJAR

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.