Selasa, 16 Oktober 2018

Madani Film Festival Tawarkan Aneka Kisah Komunitas Muslim Dunia

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film Never Leave Me karya sutradara Bosnia Aida Begic. Youtube

    Film Never Leave Me karya sutradara Bosnia Aida Begic. Youtube

    TEMPO.CO, Jakarta - Madani Film Festival akan digelar di Jakarta pada 17 - 21 Oktober 2018. Festival film internasional ini menawarkan menawarkan kisah-kisah dari komunitas muslim yang ada di seluruh penjuru dunia digelar di Jakarta.

    Film-film dalam festival ini akan ditayangkan di empat lokasi: Bioskop XXI Djakarta Theatre, IFI Thamrin, Kineforum Cikini, dan Universitas Binus Alam Sutera, Tangerang.

    Ada sebanyak 15 judul film panjang yang akan ditayangkan selama Festival, berdasarkan keterangan tertulis dari Madani Film Festival yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, 11 Oktober 2018.

    Never Leave Me, film garapan sutradara Bosnia Aida Begic, akan menjadi karya utama yang membuka festival ini di XXI Djakarta Theater pada Rabu malam, 17 Oktober.

    Sutradara perempuan asal Bosnia ini telah memenangi beragam penghargaan bergengsi di berbagai festival film dunia. Karya-karyanya memiliki keunikan yang khas, yang membuatnya dianggap mewakili suara baru (kaum muslimin) di Eropa.

    Selain film Never Leave Me, Aida Begic juga akan hadir langsung ke Jakarta. Aida akan hadir dalam sesi tanya-jawab dengan penonton usai penayangan filmnya.Film Never Leave Me karya sutradara Bosnia Aida Begic. Youtube

    Never Leave Me yang menjadi wakil Bosnia untuk seleksi nominasi Best Foreign Language Film dalam Academy Awards ke-91 di Amerika Serikat berkisah tentang tiga anak yatim piatu yang melarikan diri dari perang Suriah dan terdampar di Sanliurfa, sebuah kota mistis dan magis di Turki Selatan.

    "Saya sekarang menjadi penggemar berat Aida Begic, Never Leave Me adalah film yang keren pakai banget," kata Ekky Imanjaya, kritikus sekaligus dosen film Universitas Bina Nusantara.

    Selain Never Leave, ada lima film Internasional lain dalam daftar film Madani. Kelimanya mengisahkan kehidupan dan karakter muslim dari negara-negara yang berbeda: Fatima (berkisah tentang nasib perempuan muslim imigran di Perancis), My Sweet Pepperland (tentang pertarungan kekuasaan di sebuah kota Kurdi), Girrafada (tentang nasib seekor Jerapah di Palestina), The Island Funeral (Kisah pencarian identitas seorang perempuan muslim Thailand), dan Timbuktu (film tentang kekerasan dalam beragama di Mali, Afrika).

    Madani Film Festival juga menayangkan film-film pilihan karya negeri sendiri. Dua film yang harus disebut terpisah adalah Titian Serambut Dibelah Tujuh (Chaerul Umam, produksi 1982) dan Pagar Kawat Berduri (Asrul sani, produksi 1961).Salah satu adegan Deddy Sutomo bersama Oka Antara di film Mencari Hilal yang menghantarkannya menjadi Aktor Utama Terbaik FFI 2015

    Dua film lama ini istimewa karena versi yang akan tayang dalam Madani Film Festival adalah versi hasil restorasi. Di Madani Film Festival, dua film lama ini akan bisa disaksikan dalam versi yang lebih bersih, lebih tajam, sudah dikoreksi pewarnaannya sehingga bisa memberi pengalaman menonton yang mungkin bahkan lebih baik daripada versi aslinya.

    Titian Serambut Dibelah Tujuh kerap disebut sebagai film religi terbaik yang pernah dibuat di Indonesia. Sementara Pagar Kawat Berduri, juga akan disajikan. Sebagian pengamat film menyebut Pagar Kawat Berduri sebagai karya terbaik Asrul Sani.

    Film hitam-putih ini berkisah tentang pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia yang ditawan dalam sebuah kamp tahanan penjajah Belanda. Film yang diangkat Asrul Sani dari novel karya Trisnojuwono ini dipandang sebagai film bertema revolusi paling berhasil menggambarkan kompleksitas narasi revolusi dalam sejarah sinema Indonesia.

    Film-film Indonesia lain dalam daftar film Madani, juga tak kalah menarik. Di antaranya Bid'ah Cinta (Nurman Hakim), La Tahzan (Danial Rifki), Haji Backpacker (Danial Rifki), Rindu Kami Padamu (Garin Nugroho), Mata Tertutup (Garin Nugroho), dan Mencari Hilal (Ismail Basbeth).

    Baca: Masih Ingat Ateng dan Iskak? Sebentar Lagi Ada Filmnya

    Ada juga satu film dokumenter tentang mereka yang terjebak aliran Agama garis keras, berjudul Pengantin (Noor Huda Ismail). Film ini merupakan semacam mozaik yang bisa menggambarkan perjalanan film bernuansa religi dalam sejarah sinema Indonesia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Citra serta Jurus Kampanye Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno

    Berlaga sebagai orang kedua, Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno melancarkan berbagai jurus kampanye, memerak citra mereka, dan menyambangi banyak kalangan.