Hanoman Berbahasa Jerman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Braunschweig: Di Jerman, bukan cuma film-film Hollywood yang dialihbahasakan ke bahasa lokal. Dialog wayang kulit (schattenspielauffuehrung, dalam bahasa Jerman) pun ikut-ikutan berbahasa Jerman. Apa boleh buat, di situlah daya tariknya jika alur cerita kesenian tradisional rakyat Jawa itu hendak gampang dimengerti. "Ich bin Rahwana von Alengka und mssen Shinta suchen (saya Rahwana dari Alengka dan harus mencari Shinta)," ucap Maharsi, 59 tahun, sang dalang, yang Jumat malam lalu mengangkat lakon Ramayana di Teater Fadenschein, Braunschweig. Penonton dengan saksama mendengarkan dialog-dialog pendek dalam bahasa Jerman itu. Mereka juga ikut terpingkal-pingkal ketika Maharsi terbata-bata melontarkan guyonan Petruk dan Bagong. "Heute fahren wir schon zum dritten mal nach Braunschweig (hari ini untuk ketiga kalinya kita ke Braunschweig). Wah, susah ya Truk, ngomongnya," kata Bagong. Petruk menimpali, "Iyo, Gong, ojo sembrono ngomonge (iya Gong, jangan sembrono ngomongnya)." Dan sekali lagi penonton ikut bertepuk tangan ketika Hanoman muncul dengan mobil sport Ferrari, sementara prajurit lain muncul dengan pasukan gajah. Mereka tersenyum geli menyadari ada wayang naik Ferrari.Ini memang pertunjukan yang ketiga kalinya buat Maharsi, dalang asal Semarang, di Braunschweig. Ia datang atas undangan Deutsch-Indonesische Gessellschaft Niedersachsen (Lembaga Persahabatan Indonesia-Jerman). Hujan rintik yang turun seharian plus suhu dingin 10 derajat Celsius musim gugur ini nyatanya tak menghentikan langkah mereka yang haus pada atraksi kesenian tradisional Indonesia. "Saya pernah melihat pertunjukan wayang kulit ketika saya ke Yogyakarta tiga tahun lalu dan saya sangat terkesan," kata seorang penonton, Peter, insinyur teknik lingkungan asal Hannover.Tak sia-sia agaknya usaha Konsulat Jenderal Republik Indonesia Hamburg mendirikan Grup Kesenian Margi Budoyo 6 tahun lalu. "Kami ingin lebih giat lagi memperkenalkan budaya Indonesia," kata Konsul Teuku Darmawan, yang malam itu juga ikut menonton Maharsi beraksi. Grup ini memang sudah berkeliling ke berbagai kota di seluruh Jerman dan Eropa. "Bulan lalu kami muncul di Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Belgia. Ada malam Indonesia di sana. Pengunjungnya sampai 200-an, lo. Saya sampai kagum," kisah Maharsi menceritakan kepopuleran kelompok wayang kulit binaannya.Dan yang juga menarik, dari 11 penabuh gamelan di grup kesenian Margi Budoyo ini, 4 di antaranya adalah orang Jerman. Dan mereka sudah tahunan menjadi anggota di situ. "Sebelum saya bergabung dengan Margi Budoyo, saya bolak-balik ke Yogya dan Solo untuk belajar gamelan," kata Gitta Strelow, mahasiswi program doktor di Hochchule fuer Musik und Teater Hamburg.Pertunjukan wayang kulit ini digelar sekitar satu jam. "Kalau lebih lama lagi, penonton jemu," kata Maharsi, yang pertama kali datang ke Jerman pada 2000 untuk mengajar tari dan gamelan di Carl-Goetze Schule Hamburg selama beberapa bulan.Kiprah Maharsi sebagai dalang kemudian berkembang pesat di Jerman. Pada 2003-2005, ia meraih gelar "The Best Traditional Performance" pada festival boneka yang diikuti 16 negara di Praha, Republik Cek. Ia juga berhasil menggelar wayang kulit dengan layar selebar layar bioskop di Berlin dan ditonton oleh ratusan pengunjung. Kelebihannya, ya, itu tadi, ia mampu menisbikan hambatan bahasa lewat keterampilannya meramu dialog ke dalam bahasa asing. Penonton pun mengerti jalan ceritanya. SRI PUDJIASTUTI BAUMEISTER (JERMAN)

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menghilangkan Bau Amis Ikan, Simak Beberapa Tipsnya

    Ikan adalah salah satu bahan makanan yang sangat kaya manfaat. Namun terkadang orang malas mengkonsumsinya karena adanya bau amis ikan yang menyengat.