Jumat, 21 September 2018

Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib Gelar Mantra #2019 di Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun saat ditemui dikediamanannya di Yogyakarta, 23 Maret 2018. TEMPO/PRIBADI WICAKSONO

    Budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun saat ditemui dikediamanannya di Yogyakarta, 23 Maret 2018. TEMPO/PRIBADI WICAKSONO

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib bersiap menggelar pertunjukan teater-tari bertajuk Mantra #2019 di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Senin petang 26 Maret 2018. Pertunjukan ini diangkat dari karya novelis Joko Santosa.

    Baca: Cara Emha Ainun Najib Memaknai Pidato Prabowo

    Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun sendiri berlaku supervisor dari pertunjukan ini. Sejumlah seniman turut terlibat seperti Puntung CM Pudjadi sebagai sutradara, Gaung Sidharta sebagai penata musik, juga Gita Gilang sebagai penata tari.

    Puntung CM Pudjadi, sutradara pertunjukan itu mengatakan MANTRA#2019 merupakan pentas teater simbol yang berupaya menggabungkan seni tari, musik, dan pembacaan mantra atau doa-doa.

    "Kami akan berusaha memvisualkan karya-karya sastra Joko Santosa dalam bentuk seni gerak, sulit namun ini menantang," ujar Puntung ditemui ditemui di Rumah Budaya Emha Ainun Nadjib Yogya Jumat 23 Maret 2018.

    Puntung menuturkan dalam pertunjukkan yang melibatkan 25 pemain teater, musik dan tari itu, sejumlah karya perenungan Joko nan 'berat' dipersepsikan ulang agar mendekati makna penulis. Seperti karya Nawa Praja Sirna Panembah, Mantram Jongko Sansoso, Caraka Sungsang, dan Pengasihan Kidung Kencana.

    Sang novelis, Joko Santosa, melalui karyanya menulis berbagai mantra yang merefleksikan situasi bangsa, khususnya tahun politik ini dalam bentuk bahasa Jawa lawas yang tak gampang dipahami namun menyimpan penuh makna simbolik.

    Dalam karyanya Nawa Praja Sirna Panembah misalnya. Ia menulis 'raosing tyas mami ewuh aya;ukara suwuk darajating pasang semu; gusti kang murbeng dumadi tan tepung becik; amargi boya manjing kalawan hening ing manah;

    Joko menuturkan dari karya Nawa Praja Sirna itu ia merefleksikan negara dalam situasi kian merosot, tanpa ketauladanan dan manusia meninggalkan norma hidupnya.

    Sutradara pertunjukan itu Puntung menuturkan proyek ini menjadi satu di antara proyek terberat dan tersulit yang pernah ia lakukan selama puluhan tahun berkecimpung dalam dunia seni pertunjukkan.

    Menurutnya kesulitannya terletak pada penyatuan musik dan tarian. Sehingga proses penggarapan MANTRA#2019 ia coba awali dari penemuan musiknya terlebih dahulu baru merumuskan tarian. "Nantinya dalam salah satu adegan kami akan mengajak penonton ikut membaca mantra karya Joko," ujar Puntung.

    Emha Ainun Nadjb alias Cak Nun selaku supervisor dari MANTRA#2019 melibatkan para seniman yang memiliki berbagai perbedaan sudut pandang. "Ibaratnya mantra teks bumi yang berkaitan dengan kekuasaan di langit," ujar Cak Nun.

    Bagi Cak Nun, Mantra  merupakan susunan kata, gerak maupun diam. Pementasan Mantra memiliki misi agar penonton yang hadir terdorong untuk senantiasa bernegosiasi dengan Tuhan.

    “Inti mantra itu bagi saya, anda mungkin bisa tidak percaya dengan Tuhan, agama, nabi, kitab suci, maupun apapun tapi yang jelas anda tidak bisa mengingkari nasib. Mantra ini ingin mengajak agar penonton bernegosiasi dengan Tuhan terkait dengan nasibnya,” ujar Emha Ainun Nadjib.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Richard Muljadi Ditangkap Ketika Menghirup Kokain, Ini Bahayanya

    Richard Muljadi ditangkap polisi ketika menghirup kokain, narkotika asal Kolombia yang digemari pemakainya karena menyebabkan rasa gembira.