Sabtu, 20 Oktober 2018

Imaginary City, Novel Pertama Rain Chudori

Reporter:
Editor:

Aisha Shaidra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rain Chudori saat peluncuran novel pertamanya, di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan (Dok: Antara)

    Rain Chudori saat peluncuran novel pertamanya, di Dia.Lo.Gue, Kemang, Jakarta Selatan (Dok: Antara)

    TEMPO.CO, Jakarta -Usianya menginjak 21 tahun saat buku pertamanya, kumpulan cerita pendek Monsoon Tiger and Other Stories terbit. Di dalamnya ada delapan cerita: Smoking with God, Taman Gajah, The Dollhouse, The Sandcastle, The Swimming Pool, Beneath The Bougainvilleas, dan Until Berlin.

    Tapi Rain Chudori, sudah menulis cerita-cerita pendek sejak remaja. Delapan cerpen dalam Monsoon Tiger and Other Stories merupakan kumpulan cerita yang Rain buat dalam kurun tujuh tahun.

    Dua tahun berselang, medio Oktober 2017 ia kembali menelurkan karya terbarunya, novel pertama berjudul Imaginary City. Sebuah novel yang ia garap dalam kurun tiga bulan. “Tiga bulan. Nonstop setiap hari. Saya menulis dari jam delapan pagi sampai delapan atau tujuh  malam,” tutur Rain saat dijumpai usai peluncuran novel di Dia.Lo.Gue, Kemang, Sabtu 13 Oktober 2017.

    Menurutnya, Imaginary City merupakan sebuah kisah tentang seorang pasangan yang harus berpisah dan semua kenangan mereka terekam di Jakarta pada malam hari.

    (dokumentasi: Aisha S)

    Sebagai sebuah buku yang merekam momen, Rain menyusun novelnya layaknya sebuah peta memori. Sebuah kota lengkap dengan tempat-tempat khusus yang menjadi ruang temu dan kebersamaan para tokoh. Hampir semuanya tempat yang masih hidup hingga malam hari, di Jakarta. “Sebetulnya tidak semua tempat di Jakarta buka sampai malam banget. Nah setting di novel itu kebanyakan mungkin dari jam 20.00 malam sampai jam 05.00 pagi, “ papar Rain.

    Ada alasan khusus menurutnya mengapa ia memilih malam hari sebagai sebuah keterangan waktu dan juga kunci kisah dalam novel tersebut. “Ada alasan tersendiri. Alasan kenapa mereka cuma bisa bertemu waktu malam dan mengapa mereka harus berpisah,” tuturnya memberi sedikit bocoran.

    Seperti karya-karya sebelumnya, Rain menulis novelnya dalam bahasa Inggris. Bukan tanpa alasan, menulis karya dalam bahasa Indonesia adalah sebuah harapan yang ingin bisa ia capai satu waktu nanti. “Ingin banget bisa sejago itu. Tapi belajar menulis dan berbicara bahasa Indonesia itu dua hal yang sangat berbeda dan butuh proses yang panjang,” tutup Rain.

    AISHA SHAIDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Misteri Kematian 10 Penentang Presiden Rusia Vladimir Putin

    Inilah 10 orang yang melontarkan kritik kepada Presiden Vladimir Putin, penguasa Rusia. Berkaitan atau tidak, mereka kemudian meregang nyawa.