Penyebab Kematian Chris Cornell Dinyatakan karena Bunuh Diri  

Jum'at, 19 Mei 2017 | 11:34 WIB
Penyebab Kematian Chris Cornell Dinyatakan karena  Bunuh Diri  
Chris Cornell (kiri) dan Brad Wilk dari Audioslave tampil dalam ReAct Now: Music & Relief di California, AS, 10 September 2005. Cornell merupakan salah satu penggerak utama musik pada pertengahan 1980an. REUTERS/Chris Pizzello

TEMPO.COJakarta - RS Wayne County, Detroit, Amerika Serikat, menyatakan penyebab kematian Chris Cornell adalah akibat bunuh diri. Demikian disampaikan RS Wayne County kepada Us Weekly dalam sebuah pernyataan.

Baca: Perjalanan Musikal Chris Cornell Bersama Tiga Band

Chris Cornell, vokalis Soundgarden, meninggal dunia pada Rabu, waktu setempat, setelah tampil bersama Soundgarden dalam sebuah konser yang tiketnya ludes terjual di Detroit.

"Rumah sakit sudah selesai melakukan autopsi terhadap Chris Cornell, 52 tahun, musikus Soundgarden yang meninggal dunia tadi malam di Detroit," demikian pernyataan rumah sakit.

"Penyebab kematian ditentukan akibat bunuh diri dengan cara gantung diri. Laporan autopsi lengkap belum selesai. Tak ada informasi tambahan saat ini."

Perwakilan Cornell, Brian Bumbery, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa kematian rocker itu "tiba-tiba dan mengejutkan".

Sementara itu, perwakilan polisi Detroit mengatakan kepada Us Weekly, salah satu teman keluarganya menemukan Cornell di lantai kamar mandi di kamarnya di MGM Grand Hotel. 

Beberapa jam sebelum manggung bersama Soundgarden, Cornell mencuit dengan semangat ihwal penampilannya di Motor City.

"@detroit akhirnya kembali ke Rock City!!!!" Dia pun mengunggah foto tenda Fox Theater.

Selain bergabung dengan Soundgarden—yang digawanginya bersama gitaris Kim Thayil dan basis Hiro Yamamoto pada 1984—Cornell pernah berkolaborasi dengan anggota Pearl Jam di proyek "Temple of the Dog".

Dia juga sempat meminjamkan talentanya di supergrup Audioslave pada 2001.

Chris Cornell meninggalkan seorang istri, Vicky, dan tiga orang anak.

ANTARA



 

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan