Jumat, 17 Agustus 2018

Puluhan Film Dokumenter Diputar di Arkipel dan Doc by the Sea

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • festival Film Dokumenter Arkipel 2017. Dok. Arkipel

    festival Film Dokumenter Arkipel 2017. Dok. Arkipel

    TEMPO.CO, Jakarta - Dalam dua pekan ini para pecinta film dokumenter bisa menikmati dua festival film tersebut,yakni Arkipel Penal Colony- Festival Film Dokumenter dan Eksperimental Internasional ke-5 dan Doc By the Sea.

    Arkipel digelar oleh Forum Lenteng berlangsung di Jakarta pada 16-28 Agustus 2017, menyebar  di Kineforum, Goethe Haus dan Gudang Sarinah Ekosistem. Sederet film eksperimental serta dokumenter bertema refleksi sosial politik dan ekonomi dalam konteks kekinian disuguhkan di tiga tempat tersebut.

    Di Arkipel, panitia menyelenggarakan beberapa program utama. “Ada kompetisi internasional, kuratorial Penal Colony, Kurator muda Asia, Candrawala,Pameran Kultursinema, Presentasi khusus, pemutaran film khusus dan forum festival,” kata Direktur festival, Yuki Aditya.

    Panitia akan memutar 85 film dari 32 negara yang bisa dinikmati publik secara gratis. “Harapannya  Arkipel akan menjadi tempat bertemu penonton dan film yang tidak umum dilihat publik, juga mencari suara dari bakat baru dan diskusi yang lebih luas,” ujarnya.

    Dalam program Kompetisi Internasional  telah terpilih 31 film dari 15 negara yang terdaftar dari lebih dari 1.700 film. Film ini nanti akan dinilai para juri Hsu Fang Tze (Taiwan), Jean –Marie Teno(Prancis), Andres Denegri (Argentina), Zbnek Baladran (Republik Cek) Hafiz Rancajale (Indonesia). Gelaran program dapat dilihat dalam laman mereka di www.arkipel.org.

    Festival film dokumenter lainnya,  Doc by the Sea akan berlangsung di Bali pada 29-30 Agustus 2017. Sebelumnya, akan dilakukan program workshop.

    Doc by the Sea akan berfokus pada film-film dokumenter dan talenta dokumenter Asia Tenggara.  Panitia telah menyaring  30 proyek dokumenter untuk ikut pitching  dari 120 proposal yang masuk dari seluruh dunia. Dari jumlah ini, 10 dari Indonesia, 15 Asia Tenggara, dan 5 internasional.

    Sebelum pitching, proyek-proyek dokumenter dari Indonesia dan Asia Tenggara mendapatkan pendampingan di bidang editing dan storytelling. Hal ini untuk memperkuat cerita dan kesempatan untuk mendapatkan pendanaan dan distribusi. 
    Sudut pandang atau angle Asia Tenggara ini dipilih karena lebih menjadikan forum ini lebih menarik dari segi marketing karena belum ada yang mengambil angle ini.

    Selain itu, Asia Tenggara menyajikan sesuatu yang lebih beragam daripada hanya berfokus pada film dokumenter Indonesia saja. Strategi yang sama juga dipakai di Tokyo Docs, Docedge Kolkata dan DocsPort Incheon, yang mempromosikan diri sebagai market dari dokumenter Asia, tidak hanya dokumenter negara tuan rumah.

    DIAN YULIASTUTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Jurus Rusia Membalas Sanksi AS Terkait Sergei Skripal

    Berikut 5 hal yang mungkin Rusia sebagai retaliasi atas sanksi dari AS terkait kasus serangan racun novichok kepada Sergei Skripal dan putrinya.