Impian Menulis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sesekali, ruang tersebut senyap malam itu, Minggu lalu. Sekitar 30 remaja di sana serius menyimak. Di lain waktu, ruang itu menjadi ramai. Tepuk tangan menggemuruh. Malam pecah. Mereka memberi aplaus kepada teman-teman mereka, juga beberapa sastrawan, yang membaca karya masing-masing malam itu.Acara baca puisi dan cerpen itu adalah bagian dari pelatihan menulis sastra, yakni cerpen dan puisi, yang diadakan Komunitas Aceh Muda Kreatif (Amuk Community) Banda Aceh di Pegunungan Seulawah, Saree, Aceh Besar, 26-27 November lalu.Dalam suasana sejuk udara dataran tinggi, mereka diberi bimbingan menulis oleh tiga fasilitator, yakni Ahmadun Yosi Herfanda, Mustafa Ismail, dan Ridwan Amran. Dua nama pertama dari Jakarta, sedangkan nama terakhir adalah sastrawan Aceh.Antusiasme menyeruak dari anak-anak tingkat sekolah menengah lanjutan atas dari sejumlah sekolah di Aceh itu. Mereka begitu tekun dan aktif. Mereka menyimak, bertanya, juga menjawab ketika fasilitator mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk latihan.Mereka bahkan dengan amat yakin menjawab "tidak" ketika fasilitator bertanya di akhir sesi workshop penulisan cerpen, apakah masih sulit menulis cerpen. Jadi sudah bisa menulis cerpen? "Bisa...." Ruang aula kecil itu pun bergemuruh. Mereka seperti meneriakkan sebongkah impian.Saiful Bahri, Ketua Amuk Community, mengatakan pelatihan itu menghasilkan sesuatu yang nyata: karya-karya dari para peserta. "Karya-karya itu, baik puisi maupun cerpen, akan dibukukan," tutur penulis novel Hikayat Sang Gila yang belum lama beredar di toko-toko buku di Jakarta ini.Antusiasme itu tak hanya di ruang kelas. Andika, peserta pelatihan, bahkan pada malam harinya mengunjungi salah seorang fasilitator sambil menunjukkan karya-karyanya, puisi dan cerpen. Minta dibaca dan dikomentari, tentunya. MUS

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.