Pameran Lukisan Ini Untuk Menepis Tuduhan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, berpose bersama seniman Yogyakarta dalam pameran bertajuk Reborn Everytime di Sangkring Art Space Yogyakarta, 31 Mei 2015. TEMPO/Shinta Maharani

    Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, berpose bersama seniman Yogyakarta dalam pameran bertajuk Reborn Everytime di Sangkring Art Space Yogyakarta, 31 Mei 2015. TEMPO/Shinta Maharani

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Lukisan bercorak abstrak karya almarhum Fadjar Sidik bersanding dengan karya lukis 44 pelukis berusia muda di ruang pamer Sangkring Art Space, Yogyakarta. Karya lukis ini berupa citraan mirip bentuk tikar dalam warna merah. “Kami berusaha merayu isteri Pak Fadjar Sidik untuk meminjam karya itu,” kata Yuswantoro Adi,  penggagas pameran ini di Sangkring Art Space Yogyakarta, Rabu, 18 Mei 2016.

    Menurut Yuswantoro yang juga seorang pelukis, lukisan karya Fadjar Sidik itu dipamerkan sebagai bentuk penghormatan karena dia punya kontribusi besar terhadap perkembangan seni rupa Yogyakarta dan Indonesia. Fadjar Sidik dikenal sebagai pelukis modernis yang setia dengan gaya abstrak.

    Fadjar Sidik lahir di Surabaya tanggal 8 Februari 1930. Ia  belajar melukis di Sanggar Pelukis Rakyat di bawah asuhan Hendra Gunawan dan Sudarso. Pada 1957-1961, Fadjar menjadi pelukis profesional di Bali. Tahun 1961, ia kembali ke Yogyakarta dan mengajar di ASRI. Pada 1968-1970, ia belajar di Selandia Baru tentang Art Restoration Technique and Conservation. Fadjar Sidik meninggal dunia pada 18 Januari 2004 di Yogyakarta.

    Pameran bertajuk Yogya Annual Art ini juga dimaksudkan untuk menampik tudingan lukisan sebagai karya kuno ketimbang karya seni rupa menggunakan media baru, di antaranya seni instalasi, video, dan seni pertunjukan. “Kontemporer itu bukan terletak pada mediumnya, melainkan isi pemikiran dan konsep perupa yang kekinian,” kata Yuswantoro.

    Dia mencontohkan lukisan bercorak realis karya seniman Gintani Swastika. Sekilas gaya melukis Gintani punya kemiripan dengan karya pelukis besar Indonesia, Dullah. Pada lukisan Gintani terdapat gambar dua perempuan berbaju kebaya yang duduk berhadapan. Dua perempuan itu nyeker atau tanpa alas kaki. Gintani merupakan cucu Dullah, perupa yang dikena punya kegemaran melukis potrait atau wajah. “Lukisan itu sangat kontemporer. Ada kedekatan emosional antara cucu dan kakek,” kata Yuswantoro.

    Menurut Yuswantoro, pameran yang akan digelar pada 20 Mei-20 Juni 2016 itu sekaligus juga untuk menepis tuduhan bahwa pelukis saat ini kurang punya kemampuan teknis menggambar. Panitia telah menyeleksi perupa yang punya jam terbang sebagai pelukis aktif dan bukan mahasiswa atau fresh graduate. Pelukis muda yang memamerkan karyanya antara lain Agus ‘Baul’, Gintani Swastika, Yaksa Agus, dan Erizal As.

    SHINTA MAHARANI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.