Ajak Penonton Main Angklung, ICD 2015 Pukau Warga Glasgow  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wisatawan mancanegara mengikuti gerak pemain Reog Ponorogo pada Festival Budaya, di Medan, Sumut, 12 September 2014. Festival yang menampilkan kebudayaan dari sejumlah daerah di Indonesia tersebut, untuk promosikan seni dan budaya kepada dunia internasional. ANTARA/Irsan Mulyadi

    Wisatawan mancanegara mengikuti gerak pemain Reog Ponorogo pada Festival Budaya, di Medan, Sumut, 12 September 2014. Festival yang menampilkan kebudayaan dari sejumlah daerah di Indonesia tersebut, untuk promosikan seni dan budaya kepada dunia internasional. ANTARA/Irsan Mulyadi

    TEMPO.COJakarta - Mahasiswa mancanegara menampilkan peragaan busana tradisional Indonesia dalam acara Indonesian Culture Day yang diadakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Glasgow dengan mengusung tema "Jelajah Nusantara" bertempat di University of Strahclyde, Skotlandia.

    Indonesian Culture Day 2015 diadakan selama dua hari. Pada hari pertama, warga Glasgow diajak menonton film Indonesia yang sukses merambah ke kancah Internasional, yakni Laskar Pelangi dan The Raid. Hal ini dijelaskan oleh salah satu panitia Indonesia Culture Day, Yangie Dwi Marga Pinanga, kepada Antara London, Senin, 11 Mei 2015.

    Puncak acara tersebut menampilkan berbagai budaya Indonesia. Selain mempersembahkan tari tradisional dari Sumatera, Bali, dan Papua, penonton akan diajak berpartisipasi bermain angklung. 

    Acara tersebut semakin semarak karena juga menampilkan peragaan busana tradisional Indonesia yang semua modelnya adalah warga mancanegara. Acara itu mendapat apresiasi ratusan pelajar dari berbagai belahan dunia dan warga Skotlandia.

    "Acara kebudayaan Indonesia selalu memukau dan semua orang terkesan. Wajar jika ini selalu dinanti setiap tahunnya," ujar Naseem Anwar, Manager Equality and Diversity University of Strahclyde.

    Dalam Indonesian Culture Day 2015, makanan Indonesia juga diserbu dan diminati, dari nasi kuning, sate Madura, hingga kue-kue tradisional. Pada akhir acara, penonton terlihat memadati area yang menyediakan cendera mata dari berbagai wilayah di Indonesia.

    "Kami punya tanggung jawab untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia ketika sedang berada jauh dari Tanah Air", ujar Muhammad Ramdhan, Ketua PPI Glasgow. Acara seperti ini juga diharapkan secara tidak langsung menambah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

    ANTARA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.