Garin Butuh Lembaga Sensor yang Melek Teknologi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sineas Indonesia Garin Nugroho. ANTARA/Teresia May

    Sineas Indonesia Garin Nugroho. ANTARA/Teresia May

    TEMPO.COJakarta - Sutradara Garin Nugroho Riyanto menganggap kebijakan yang dikeluarkan Lembaga Sensor Film (LSF) selama ini sering tak produktif. 

    Sutradara Daun di Atas Bantal ini menilai lembaga sensor film kurang adaptif terhadap perkembangan teknologi saat ini. "Contohnya film Senyap. Dilarang putar justru ketika sudah banyak orang yang tahu dan populer," kata Garin kepada Tempo, Rabu, 11 Maret 2015.

    Garin mengingatkan ada teknologi YouTube yang dapat diakses semua orang. Senyap, kata dia, populer dari YouTube. "Ketika dilarang justru menimbulkan pertanyaan di masyarakat dan berkembang berbagai macam asumsi. Ini tidak produktif," ujarnya.

    Menurut Garin, idealnya lembaga sensor harus mengikuti perkembangan teknologi supaya fungsi sensor maksimal. Sensor yang baik, kata dia, filternya berdasarkan kategori usia. 

    "Tapi yang paling mendesak sebetulnya adalah strategi sensor yang masuk dari jalur pendidikan, budaya. Bisa dimaksimalkan dari mata ajaran kebangsaan," tuturnya.

    Lembaga Sensor Film adalah organisasi yang bertugas menetapkan status edar film di Indonesia. Sebuah film hanya boleh diedarkan atau ditayangkan jika sudah dinyatakan lulus sensor oleh LSF.

    Meski acap mengkritik LSF, sutradara Soegija ini mengatakan keberadaan LSF tetap dibutuhkan. "Kalau tidak ada lembaga ini, tidak ada yang bisa menyensor berdasarkan usia, kan?" katanya.

    DINI PRAMITA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.