Rabu, 19 Desember 2018

"Hantu" Prancis di Pohon Beringin Teater Jakarta  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua seniman Prancis memamerkan karya koreografi hasil penjelajahan mereka di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, di bawah pohon beringin. TEMPO/Ananda Badudu

    Dua seniman Prancis memamerkan karya koreografi hasil penjelajahan mereka di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, di bawah pohon beringin. TEMPO/Ananda Badudu

    TEMPO.CO, Jakarta - Banyak orang berkerumun di bawah pohon beringin di depan Gedung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mereka menunggu hantu yang akan beraksi di bawah pohon yang batangnya dililit kain putih,  setelah adzan Magrib, Jumat, 7 November 2014.

    Hantu tersebut adalah dua seniman asal Prancis, Jean Delsaux dan Pascale Weber yang tergabung dalam  kelompok bernama  hantu. Keduanya kebetulan pernah tinggal di Jakarta, dan pengalaman itu rupanya  selalu menghantui pikiran mereka. Kumunculan mereka merupakan   bagian dari rangkaian pertunjukan  Indonesian Dance Festival 2014 yang berlangsung 4-8 November 2014.

    Tak lama menunggu,  para penonton disuguhi rekaman video tentang Suku Mentawai di Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, yang disorotkan pada kain putih yang melilit batang pohon itu . Layar yang tak rata karena tonjolan batang pohon itu tak membuat gambar kehilangan makna. Terlihat Beberapa orang Suku Mentawai sedang mencari beberapa daun. Tak lama kemudian mereka seperti melakukan ritual di pinggir sungai. Bebunyian menyertai proses pengobatan dari daun-daun yang mereka ambil.

    Seiring munculnya video itu, seorang perempuan terlihat muncul di antara dahan pohon. Perempuan berkostum putih itu perlahan-lahan menuruni pohon dengan bantuan tali. Badannya tetap berusaha menempel pada pohon besar itu. Tubuhnya pun ikut tersorot video dukun Suku Mentawai yang sedang mengobati seorang anak.

    Suara anak yang mengaduh, bercampur bebunyian yang menyertai proses pengobatan, menjadi ‘musik’ bagi Pascale Weber  yang bergerak turun lalu berayun-ayun. Begitu menginjakkan kakinya, Weber bergerak menari dengan membentangkan tangannya masih dengan iringan proses pengobatan.

    “Kami ingin memberikan kepada masyarakat urban untuk bisa mengerti  tentang energi keselarasan alam dengan lingkungannya,” ujar Weber. Dia merasa tempatnya pentas adalah tempat yang bagus: pohon beringin besar yang tak ditemui di Eropa, di dekat kali, di tengah bangunan dan perkampungan.

    Weber bersama Jean Delsaux mengunjungi Suku Mentawai di selama 10 hari belum lama ini. Mereka mencoba melebur bersama masyarakat suku itu. Weber mengatakan mereka tak datang seperti turis tapi mencoba berdialog dengan masyarakat setempat. Dari dialog itulah mereka berkreasi untuk kemudian  disajikan kepada masyarakat di luar Mentawai.

    DIAN YULIASTUTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Baru OK Otrip, Jak Lingko Beroperasi 1 Oktober 2018

    Pemerintah DKI Jakarta meluncurkan transportasi massal terintegrasi, Jak Lingko pada 1 Oktober 2018. Jak Lingko adalah rebranding OK Otrip.