Penelusuran Tubuh Rianto di IDF  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rianto, seniman asal Banyumas yang berkolaborasi dengan seniman asal Singapura Choy Ka Fai, menampilkan Soft Machine di Indonesian Dance Festival, Rabu, 5 November 2014. TEMPO/Ratnaning Asih

    Rianto, seniman asal Banyumas yang berkolaborasi dengan seniman asal Singapura Choy Ka Fai, menampilkan Soft Machine di Indonesian Dance Festival, Rabu, 5 November 2014. TEMPO/Ratnaning Asih

    TEMPO.CO, Jakarta - Sosok berkemben dengan selendang merah dan topeng putih itu menarikan tarian Jawa dengan gemulai. Saat musik gamelan yang mengiringinya selesai, ia melepaskan penutup wajahnya, lalu memperkenalkan dirinya. Ia adalah lelaki bernama Rianto.

    "Asal saya dari Banyumas, mulai menari sejak umur 15 tahun. Yang tadi Anda lihat adalah tari topeng tradisional Jawa, judulnya Sekartaji," ujarnya dengan kemayu di tengah pertunjukan Soft Machine pada 5 November 2014 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pertunjukan ini adalah bagian dari Indonesian Dance Festival yang tengah berlangsung hingga 8 November mendatang.

    Setelah menarikan Sekartaji, Rianto menarikan Lengger Banyumasan yang menjadi dasar tarinya. Dengan kenes, ia menarikan Lengger yang enerjik, sambil menggoyangkan pinggul dan bahu. Ia bahkan menarik seorang penonton lelaki untuk berjoget bersamanya.Tingkahnya yang genit kadang memancing tawa penonton. Misalnya, ketika ia bertanya pada penonton dalam bahasa Inggris, "Do you think I'm sexy?"

    Namun, setelah ia melepas kainnya, mengenakan celana selutut dan topeng Klana, ia langsung bertransformasi. Tak kemayu, ia memeragakan gerakan tari Jawa tradisional dengan maskulin.

    Pertunjukan ini adalah bentuk eksplorasi tubuh yang dilakukan Rianto. Tak hanya lewat tari tradisional, ia juga melakukannya dalam tari kontemporer. Setelah menghapus semua makeup-nya, ia memeragakan dua tari pendek kontemporer. Satu di antaranya bertajuk Body Without Brain. Dalam tarian itu, Rianto menari dengan energik dan cepat, kadang meliuk dan mengejang, diiringi musik elektro. "Dalam tari tradisional, ada pembagian antara tari laki-laki dan perempuan, sementara dalam tari kontemporer tak ada batasan gender," katanya.

    Di antara jeda satu nomor tarian dengan tarian lain, dimainkan video dokumenter yang juga berisi wawancara dengan Rianto pada layar. Di awal pertunjukan diperlihatkan Rianto yang tengah membawakan Lengger di kampungnya. Kemudian, beranjak ke pertemuannya dengan istrinya yang merupakan orang Jepang, yang membuat Rianto pindah ke negara tersebut. Ditampilkan pula kehidupan Rianto di Jepang dan sanggar tari tradisional Jawa yang ia dirikan, yakni Dewandaru.

    Video dan pertunjukan ini adalah bagian dari Soft Machine yang dibuat oleh seniman asal Singapura, Choy Ka Fai. Selama tiga tahun lebih, Choy memang melakukan riset dan wawancara tentang tari kontemporer di Asia. Selain dengan Rianto, ia juga melakukan wawancara bersama Surjit Nongmeikapam yang berasal dari India, Xiao Ke x Zi Han (Cina), dan Yuya Tsukahara (Jepang). Hasilnya adalah empat pertunjukan dokumenter, yang salah satunya ia tampilkan dalam IDF ini.

    Choy melakukan riset ini karena kegelisahan atas pandangan sebagian kurator Eropa atas tari Asia yang dianggap dangkal.

    RATNANING ASIH

     

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.