Idris Sardi: Jangan Sebut Saya Maestro

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personil ex Peterpan David bersama Idris Sardi tampil bersama dalam konser tanpa nama yang diselengarakan di Hall Senayan City, Jakarta, (29/5). TEMPO/Agung Pambudhy

    Personil ex Peterpan David bersama Idris Sardi tampil bersama dalam konser tanpa nama yang diselengarakan di Hall Senayan City, Jakarta, (29/5). TEMPO/Agung Pambudhy

    TEMPO.CO, Jakarta - Idris Sardi wafat di usia 75 tahun pada Senin, 28 April 2014 pukul 07.20 WIB. Pria yang dikenal sebagai seniman besar itu emoh disebut maestro. Ungkapan itu diucapkannya kepada majalah Tempo edisi 27 Oktober 2013. (Baca: Idris Sardi 'Biola Maut' Meninggal)

    "Jangan sebut saya maestro," kata Idris.

    Tentunya itu ungkapan merendah dari lelaki berumur 75 tahun ini. Idris Sardi mengenal biola dengan benar pada usia lima tahun. Idris dikenal sebagai bocah ajaib. Sejak itu, ia tak terjauhkan dari alat musik gesek ini.

    Hingga kini ribuan karya telah dia hasilkan. Puluhan album monumental dia keluarkan. Ratusan musik ilustrasi film pun ia buat. Pengalamannya bermusik sangat kaya. Ia, misalnya, pernah terlibat dalam misi Sukarno ke Papua. Sebutan musikus gila, karena itu, juga menempel padanya.

    Idris Sardi memang baru beberapa hari pulang dari Kuching, Sarawak, Malaysia, saat kami temui. Di sana ia menggelar konser "Tribute Concert to P. Ramlee". Selama satu setengah jam, audiens, termasuk Menteri Besar Pehin Sri Abdul Taib Mahmud, terpesona oleh permainan biola maut sang maestro dari Indonesia. "Orang tidak mau pergi," kata Idris mengisahkan konsernya. Ia juga membawa pulang penghargaan gelar Panglima Setia.

    Begitu kembali ke Jakarta, Idris bukannya istirahat. Dia terus bekerja dengan musiknya. Bahkan, meski sakit, dia tetap bekerja di studio. "Ini bisa sampai pagi," kata Santi.

    Rabu sore awal Oktober lalu itu, di ruang tamu studio musik Musica di bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, bersarung santai, dengan panjang-lebar Idris Sardi mengungkapkan kisah dan berbagai prinsip hidupnya, termasuk kegalauannya akan dunia musik dan para musikus sekarang. "Saya mengkritik sistem, ya," ujarnya. Meski banyak selingan batuk dan tercekat saat berbicara, Idris tetap bersemangat. Bahkan berkali-kali pembicaraan disertai contoh permainan biolanya.

    TEMPO | ALIA FATHIYAH

    Berita Terpopuler
    Dari Mana Tersangka Kasus JIS Dapat Cairan Pembunuh?
    Cara Bunuh Diri Tersangka JIS Tak Umum di LP
    Debat Konvensi Demokrat Jadi Ajang Puji SBY


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.