Solo Internasional Performing Art Angkat Legenda

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Independent Expression Mengeksplor Kostum Daun Pisang di gelaran Solo International Performing Arts (SIPA) 2012 pada hari kedua di Pamedan, Istana Mangkunegaran, Solo, Jateng, Sabtu (29/9) malam. TEMPO/Andry Prasetyo

    Independent Expression Mengeksplor Kostum Daun Pisang di gelaran Solo International Performing Arts (SIPA) 2012 pada hari kedua di Pamedan, Istana Mangkunegaran, Solo, Jateng, Sabtu (29/9) malam. TEMPO/Andry Prasetyo

    TEMPO.CO, Surakarta - Kota Surakarta akan kembali menggelar event tahunan, Solo Internasional Performing Art (SIPA), 20-22 September 2013. Berbagai cerita legenda dan sejarah, dari sejumlah kota dan negara, akan ditampilkan.

    Ketua Panitia SIPA 2013, Irawati Kusumarastri, mengatakan sejumlah delegasi dari dalam dan luar negeri, telah memastikan hadir. "Mereka dari Swedia, China, Jepang hingga Inggris," katanya, Senin (16/9).

    Sedangkan delegasi dari dalam negeri, berasal dari Sumatera Barat, Aceh, Jakarta serta Madura. Berbeda dengan kegiatan serupa sebelumnya, pada SIPA 2013, hanya ada satu penyaji dari Solo.

    Menurut Irawati, para penyaji akan menampilkan kesenian sesuai dengan tema seputar legenda sejarah kebudayaan dunia. "Masing-masing penyaji akan membawakan legenda dari daerahnya masing-masing," katanya.

    Kebanyakan penyaji, akan menampilkan kesenian berbasis tradisional. Meski demikian, pihaknya tidak membatasi penyaji untuk menampilkan secara kontemporer. "Delegasi dari Jepang dan Swedia, akan menampilkan seni kontemporernya," katanya.

    Selama ini, SIPA selalu diselenggarakan di Pamedan Pura Mangkunegaran. Sedangkan  tahun ini, mereka memilih Benteng Vastenburg sebagai venue baru. "Benteng itu simbol sejarah perjalanan Kota Surakarta," katanya beralasan.

    Bangunan benteng usang itu kan menjadi latar belakang panggung. Sedangkan tata panggung akan diatur sesederhana mungkin, agar keberadaan bangunan benteng peninggalan kolonial itu terlihat menonjol. 

    Satu-satunya penyaji asal Solo, Paundrakarna, mengatakan telah menyiapkan karya berjudul Bidadari Genit. Karya tari itu, mengadopsi legenda bidadari dalam cerita Jaka Tarub. "Bidadari itu akan menari dengan menyisipkan beberapa pesan moral mengenai pentingnya semangat nasionalisme," kata dia.

    AHMAD RAFIQ


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aman Ibadah Sholat Ramadan Saat Covid-19

    Pemerintah DKI Jakarta telah mengizinkan masjid ataupun mushola menggelar ibadah sholat dalam pandemi.