Inspirasi Pulau Dewata

Reporter

Editor

Kecak Dance karya Wayan Ridi.

TEMPO Interaktif, Jakarta - "Bali punya estetika sendiri," ujar Jean Couteau, pengamat seni dan budaya Bali asal Prancis, dengan takzim. Couteau yang sudah puluhan tahun menetap di Pulau Dewata itu menjelaskan bagaimana seni rupa Bali dikaji dalam ranah seni rupa nasional, bahkan internasional. Bali sangat kental dengan agama Hindu dan nuansa sketsa rakyat. Sementara itu, suasana Hindu begitu terasing dalam kajian seni rupa nasional.

Begitulah Couteau menarasikan pelbagai koleksi Museum Rudana, yang disusun dalam sebuah buku bertajuk Bali Inspires, The Rudana Art Collection, pada Sabtu lalu. Buku seni itu diluncurkan di pelataran Museum Rudana, Ubud, Bali, dengan prosesi persembahan “Angkus Prana”.

Secara umum, buku ini menjelaskan bagaimana Bali menjadi ilham bagi seniman dan budayawan di pulau itu ataupun nasional, bahkan internasional. Couteau dengan cermat menarasikannya. "Konsep awal tentu bukan dari saya. Saya hanya membantu mendeskripsikan koleksi seni rupa itu," kata Couteau.

Terdapat tiga bahasan besar dalam buku setebal 300 halaman itu. Pertama, "An Island that Inspires", yang menjelaskan sejarah Bali dan juga kebudayaannya. Karya seni rupa Bali tradisional sangat kental dengan unsur Hindu. Dan ini tak lepas dari kenyataan sebagian besar masyarakat Bali yang menganut Hindu.

Ikon-ikon cerita Mahabharata maupun Ramayana mendominasi seni lukis tradisionalnya. Seperti lukisan pada selembar kain berjudul Sita Melabuh Geni (Sita's Test of Fire). Lukisan itu diambil dari kisah Ramayana yang menceritakan Dewi Sita menceburkan diri ke dalam kobaran api untuk membuktikan kesuciannya kepada Rama.

Membicarakan koleksi seni rupa tradisional Bali tentu tak lepas dari para senimannya, meski banyak di antaranya tak bernama. Salah satu maestro seni tradisional Bali adalah I Gusti Nyoman Lempad (1862-1978). Lempad adalah seorang undagi atau arsitek tradisional dari Cokorda Gede Agung Sukawati. Ia dipercaya membangun candi air Saraswati.

Ketika ia melukis pada medium kertas, namanya menjadi sangat terkenal. Ia selalu memilih subyek legenda Bali dan kisah klasik dari mitologi Hindu-Bali. Karyanya, Jayaprana at the Market, Jayaprana and Layonsari's Wedding Ceremony, dan Love Scene from the Jayaprana Story, adalah sebagian dari lukisan yang digambar di atas kertas hanya dengan tinta, seperti sketsa halus tanpa pewarnaan di dalamnya.

Seni rupa tradisional Bali kemudian mengalami perkembangan pada awal abad ke-20. Lukisannya lebih rumit, detail, dengan gradasi pewarnaan yang makin kaya. Dalam kurun waktu ini ada seniman I Gusti Nyoman Moleh (1918-1997), I Made Gombloh, I Gusti Ketut Kobot (1917-1999), Anak Agung Gede Meregeg (1908-2000), I Dewa Ketut Ding (1920-1996), dan I Dewa Nyoman Tjita.

Buku ini juga memaparkan perkembangan seni rupa Bali selanjutnya. Seperti karya I Wayan Bendi berjudul Modernity (1995). Lukisan itu menggambarkan kehidupan desa yang sudah disusupi oleh modernitas karena aktivitas pariwisata. Ada berbagai macam budaya berakulturasi di sana. Seperti sebuah cerita dalam sketsa besar, tiap sisi bidang penuh dengan ornamen.

Bagian kedua buku ini menjelaskan ihwal kajian seni rupa nasional. Couteau lebih menarasikan seni rupa modern Indonesia beserta perspektifnya dalam bab ini. Seperti karya Basoeki Abdullah berjudul Alone at the Crossroad.

Ada lagi karya maestro Affandi. Couteau menjelaskan siapa Affandi dalam buku tersebut. Selain itu, karya Srihadi Soedarsono berjudul Bedoyo Ela Ela-Moment of Meditation (2002) juga menjadi koleksi dalam museum ini. Ada pula karya Abas Alibasyah, Bagong Kussudiarjo, dan Sunaryo.

Seniman luar negeri, seperti Don Antonio Blanco, yang menetap di Bali setelah menikahi penari Bali, juga menjadi bahasan dalam buku ini. Karya Antonio Blanco tentang perempuan Bali sangat terkenal.

Menurut Couteau, seniman Bali mulai menghasilkan karya seni rupa modern setelah belajar di Jawa. Misalnya, Made Wianta, yang belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang Institut Seni Indonesia), Yogyakarta. Karya-karyanya, seperti Blue Calendar atau Calendar, didominasi oleh pola geometrikal yang kompleks.

Bagian terakhir buku ini menjelaskan ihwal keluarga Rudana. Nyoman Rudana adalah pendiri Museum Rudana, yang didirikan pada 26 Desember 1995. Menurut Presiden Direktur Museum Rudana, Putu Supadma Rudana, selain museum, ada juga Rudana Fine Art Gallery, Yayasan Seni Rudana, serta Pusat Pengkajian dan Dokumentasi Rudana (Destar). "Semuanya berada dalam satu naungan The Rudana," ujarnya.

Museum Rudana memiliki 500 karya koleksi seni lukis dan patung. Sedangkan Rudana Gallery memiliki seribu karya koleksi.

ISMI WAHID






Museum Nasional Tampilkan Pameran Seni Rupa Terintegrasi Blockchain

27 Oktober 2022

Museum Nasional Tampilkan Pameran Seni Rupa Terintegrasi Blockchain

Museum Nasional menghadirkan pameran seni rupa bertajuk "Rekam Masa: Pameran Seni Terintegrasi Blockchain" .


Bertajuk Bangkit, Bandung Art Month V Himpun Puluhan Program Acara

25 Agustus 2022

Bertajuk Bangkit, Bandung Art Month V Himpun Puluhan Program Acara

Program acara Bandung Art Month V umumnya berupa pameran seni rupa gelaran seniman hingga mahasiswa secara tunggal maupun berkelompok.


Mahesa Penyandang Autis Anak Gelar Pameran Grafis di Galeri Orbital Bandung

17 April 2022

Mahesa Penyandang Autis Anak Gelar Pameran Grafis di Galeri Orbital Bandung

Seorang anak dengan autisme berusia 13 tahun, Mahesa Damar Sakti, menggelar pameran grafis di Galeri Orbital, Bandung.


Menteri Yaqut Ingatkan Pentingnya Keberagaman dan Toleransi di Pameran Seni Tempo

2 Desember 2021

Menteri Yaqut Ingatkan Pentingnya Keberagaman dan Toleransi di Pameran Seni Tempo

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, seni rupa bisa menjadi wahana untuk mengekspresikan cinta dan toleransi.


Tempo Menggelar Pameran Seni Rupa: Kasih, Toleransi untuk Bangsa

2 Desember 2021

Tempo Menggelar Pameran Seni Rupa: Kasih, Toleransi untuk Bangsa

Tempo bersama pegiat seni yang tergabung dalam komunitas Think menggelar pameran seni "Kasih, Toleransi untuk Bangsa" mulai 1-21 Desember 2021.


Aksesibilitas di Ruang Pameran Seni yang Dibutuhkan Penyandang Disabilitas

29 Oktober 2021

Aksesibilitas di Ruang Pameran Seni yang Dibutuhkan Penyandang Disabilitas

Simak apa saja akses yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas saat datang ke pameran seni.


Pameran Tunggal Seni Rupa Goenawan Mohamad di Museum OHD Magelang

22 Oktober 2021

Pameran Tunggal Seni Rupa Goenawan Mohamad di Museum OHD Magelang

Pameran tunggal seni rupa karya Goenawan Mohamad di Museum OHD Magelang berlangsung pada 24 Oktober 2021 - 28 Februari 2022.


Goenawan Mohamad Gelar Pameran Di Muka Jendela: Enigma

30 Juli 2021

Goenawan Mohamad Gelar Pameran Di Muka Jendela: Enigma

Sastrawan Goenawan Mohamad menggelar pameran seni rupa Di Muka Jendela: Enigma. Juga ada peluncuran buku Rupa Kata Objek dan yang Grotesk.


Sejumlah Seniman Ramaikan H(ART)BOUR Festival 2020

11 Februari 2020

Sejumlah Seniman Ramaikan H(ART)BOUR Festival 2020

H(ART)BOUR Festival dimulai dengan pameran seni di Terminal Eksekutif Sosoro Merak dan Anjungan Agung Bakauheni sampai 21 Februari 2020.


Pameran Fillipio Sciascia: Hijau Daun dan Peradaban Manusia

13 Januari 2020

Pameran Fillipio Sciascia: Hijau Daun dan Peradaban Manusia

Fillipio Sciascia terinspirasi alam dan kehidupan manusia, menggabungkan seni dan sains.